WebNovels

Chapter 4 - Ch.4 (Amukan)

Ketika pagi telah tiba-tiba Manas dan Sarira sudah menyiapkan barang-barangnya untuk menyingsing hari untuk menyelesaikan misi nya

Sarira: "Kamu sudah menanyakan jalan mana yang harus kita lewati?"

Manas: "Kata penjaga penginapan kita tinggal pergi lurus mengikuti jalan ini".

Sarira: "Oke sebelum itu kita cari makan dulu, kemarin kita belum makan sama sekali karena keributan semalam, sepertinya didepan sana ada distrik pembelanjaan jadi sekalian aja kita cari makan disana".

Manas: "Ya aku setuju".

Mereka berjalan melewati distrik pembelanjaan Bandriya sambil mencari sarapan, tak lama terlihat rombongan ksatria yang mengawal kurungan yang isinya terdapat Magic Beast berjenis

Manas: "Sarira coba lihat itu". Manas menunjuk kearah para prajurit Bandriya pengawal

Manas: "Itu Bubalus Terra, ini baru pertama kali aku bisa melihatnya langsung".

Sarira: "Bubalus Terra? Baru pertama kali aku mendengarnya".

Manas: "Tentu saja kita jarang melihat nya, karena Bubalus Terra itu termasuk MagicBeast yang masih sejenis dengan Bubalus, dan mereka hidupnya tidak menetap disatu tempat saja".

Manas: "Kalau bertemu dengan gerombolannya lebih baik kita menjauh".

Sarira: "Emangnya mereka memakan manusia?".

Manas menggelengkan kepala

Manas: "Tidak, mereka herbivora seperti bubalus pada umumnya. Tapi mereka lebih aggressive dan tidak sengan-sengan menabrak apapun yang ada didepannya".

Sarira: "Hmmm". Sarira melanjutkan makan tanpa mendengar penjelasan Manas

Manas menghela nafas karena sudah terbiasa dengan tingkah Sarira

Manas: "Dasar kau ini".

Mereka melanjutkan makan

Tak selang beberapa lama-lama tiba-tiba terdengar keributan dari arah belakang dan banyak warga yang berlarian menjauhi arah distrik timur pembelanjaan

Sarira: "Kenapa orang-orang pada berlarian?"

Manas bertanya kepada seseorang yang sedang melarikan diri menjauh dari arah keributan berasal

Manas: "Paman ada keributan apa ini?".

Warga: "Ada MagicBeast yang mengamuk di distrik timur pembelanjaan".

Manas: "MagicBeast? Jangan-jangan Bubalus Terra yang tadi".

Manas: "Sarira ayo kita kesana". Manas menarik tangan Sarira

Sarira: "Mau ngapain Emangnya? Aku mau menghabiskan ini dulu".

Manas: "Udah ikut aja, nanti aku belikan yang baru".

Sarira: "Janji ya". Manas dan Sarira berlari kearah keributan

Setibanya disana terlihat banyak rumah dan kios warga yang hancur, bongkahan Batu berbagai ukuran berterbangan serta banyak para prajurit dan warga sipil yang cedera, tak sadarkan diri, dan tidak sedikit korban jiwa akibat Bubalus Terra yang mengamuk. Manas melihat

Manas: "Ouy apa kamu baik-baik saja?". Manas menopang ksatria dan mengevakuasinya

Manas: "Akan kuantar kau ke tempat yang aman, Sarira kamu berpergi lah ketempat yang aman bersama orang ini serta sembuhkan ia dengan sihir pemulihan mu. Akan ku kumpul kan yang lainnya ".

Sarira: "Sihir ku tak cukup kuat untuk memulihan cedera yang parah".

Manas: "Tak masalah, yang penting dapat meminimalisir Luka mereka".

Sarira: "Baiklah, kamu hati-hati juga Manas ".

Manas: "Ya".

Sarira: "Kamu masih sanggup berdiri?". Sarira berbicara dengan prajurit yang hampir tidak sadarkan diri

Manas mengevakuasi para ksatria kerajaan dan warga yang terluka satu persatu, Hujan Batu masih terus berlanjut Kerusakan area distrik makin menyebar tapi tidak ada bala bantuan prajurit kerajaan Bandriya yang datang

Manas: "Kerusakan disini semakin parah, kemana para prajurit lainnya pergi?".

Sarira: "Kamu mau pergi kemana Manas?". Sarira menarik tangan Manas yang langsung menghentikan langkah Manas

Manas: "Aku mau kembali kesana takutnya masih ada yang tertinggal".

Sarira: "Jangan sampai melakukan Hal yang membahayakan mu ya".

Manas mengangguk dan melepaskan tangan Sarira kemudian pergi untuk memastikan tak ada prajurit dan warga yang tertinggal

Manas: "Apa masih ada orang disini? Kalau ada orang lagi jawab atau beri tanda".

Teriakan memanggil Manas menggema di reruntuhan puing bangunan distrik timur pembelanjaan

Manas berlari kesana kemari menyelusuri lebih lanjut lokasi yang mana ia tidak menyadari kalau ia semakin mendekat ke arah Bubalus Terra mengamuk, ia terus mencari ke setiap puing-puing bangunan dengan harapan tidak ada lagi orang yang tertinggal, pencariannya terhenti ketika mendengar suara Bubalus Terra yang terasa dekat

Manas: "Suara Bubalus Terra terdengar sangat dekat, aku harus cepat pergi dari sini". Manas keluar dari gedung, ketika keluar ia menengok ke arah kanan, ternyata ia sudah disambut oleh Bubalus Terra yang ada disamping pintu keluar.

Manas: "Ah sial".

Ketika Bubalus Terra menyadari keberadaan Manas, ia langsung menyeruduk Manas sampai terpental beberapa meter kebelakang, diri nya terluka cukup parah ada beberapa tulang yang bergeser akibat serangan tadi. Serangan Bubalus Terra terhadap Manas Tidak berhenti sampai situ saja, Bubalus Terra mulai mengeluarkan Sihir Batu nya untuk mengakhiri Manas.

Manas yang terluka ia hanya bisa pasrah akan akhir hidupnya.

Manas: "Seharusnya aku tahu, kalau aku memang lebih baik tidak harus ikut campur. Ah sial kesadaran ku mulai memudar, ini mungkin lebih baik daripada harus mati dalam keadaan sadar kan diri".

Ketika kesadaran Manas mulai memudar ia sekilas melihat bala bantuan telah datang dan berhasil menjatuhkan Bubalus Terra dalam sekejap.

Manas: "Syukurlah bantuan sudah datang, harus nya kalian datang lebih cepat bodoh".

Manas jatuh tergeletak tak sadar kan diri

Dua hari berlalu sejak amukan Bubalus Terra di distrik timur pembelanjaan. Manas masih belum sadarkan diri, Sarira masih sabar menantikan Manas sadar di ruang perawatan prajurit Bandriya.

Sarira: "Manas kenapa kamu belum sadar diri juga, sudah Dua hari kamu sudah tak sadarkan diri".

Saat Sarira larut dalam kesedihannya, seorang prajurit mendekat yang mengenakan armor mengkilap disaat terkena sinar matahari pagi yang melewati jendela ruang perawatan

Prajurit dengan armor mengkilap: "Teman mu masih belum sadar juga Sarira?".

Sarira: "Paman Harper...., sebelumnya terima kasih atas bantuan sebelumnya Paman".

Harper: "Itu memang sudah tugas kami, dan aku minta maaf atas keterlambatan kami. Andai saja kami datang lebih cepat mungkin temanmu tidak terluka".

Sarira: "Tidak, aku juga menyesal karena tidak cepat mencarikan bantuan"

Sarira meratapi tubuh Manas dengan tatapan yang penuh menyesalan karena tidak dapat menyelamatkan nya tepat waktu.

Harper: "Mungkin ini bukan waktu tepat, Sarira ada tamu untuk mu".

Sarira: "Tamu untuk ku? Ada keperluan apa?".

Harper: "Akan ku panggil seben....".

Dari arah koridor terdengar suara langkah kaki yang cepat yang menuju kearah nya. Langkah itu semakin dekat dan terdengar suara perempuan memanggil nama nya.

"Sarira.... Sarira...." Suara nya semakin dekat dan terdengar tidak asing

"Sarira apa kalian baik-baik saja". Ternyata suara itu berasal dari Gadis yang pertama kali ia temui saat pertama kali datang ke Ibukota Bandriya.

Sarira: "Vivy!"

Harper: "Vivy sudah jangan berlarian di koridor dan berteriak di koridor nanti mengganggu pasien yang lain".

Vivy: "Maaf Paman".

Vivy: "Sarira kalian baik-baik saja? Seperti tidak ". Ia menengok kearah Manas yang sekujur badannya dibalut perban.

Sarira: "Aku baik-baik saja tapi Manas belum sadarkan diri sampai sekarang".

Manas yang sedang tidak sadarkan diri, ia merasa jiwa nya ditarik menuju tempat yang dimana langit dan laut terlihat menyatu, yang terlihat hanya cakrawala yang tiada ujung nya dan keheningan mendalam. Dalam keheningan nya Manas mendengar suara

"Kini beban itu telah berpindah padamu… sanggupkah kau memikulnya?"

Manas yang tak sempat mengajukan pertanyaan apapun ia langsung ditarik kembali ke dalam tubuhnya, Setelah jiwa nya kembali Ia langsung membuka matanya perlahan. Suaranya perpelan keluar dengan nada yang lirih

Manas: "Ini dimana?".

Sarira yang melihat Manas membuka mata nya, ia langsung memeluknya dengan erat karena saking gembira nya

Sarira: "Akhirnya kamu bangun Manas, ku kira kamu tak akan bangun".

Manas: "Kita ada dimana?".

Vivy: "Sekarang kamu ada di ruang perawatan prajurit Bandriya".

Manas: "Kalau tak salah namamu Vivy".

Sarira: "Vivy datang kemari untuk menjengukmu".

Vivy: "Saat baru sampai ke ibukota aku mendapat kabar dari teman prajurit ku kalau dua hari yang lalu ada MagicBeast yang mengamuk di distrik timur pembelanjaan, insiden itu banyak memakan korban jiwa tapi untungnya korban cedera tidak begitu parah akibat aksi cepat Dua orang warga civil dan sayangnya salah satu dari warga civil itu terluka parah saat mencari korban lainnya."

Vivy: "Waktu aku bertanya nama kedua orang itu, ternyata kamu dan Sarira. Saat aku tahu kalau kalian dirawat disini aku langsung bergegas menuju sini".

Manas: "Terima kasih Vivy, kamu sampai repot-repot datang kemari".

Vivy: "Tak masalah".

Manas: "Oh iya Vivy, apa yang terjadi dengan Bubalus Terra yang mengamuk di ibukota?".

Vivy: "Para prajurit membunuhnya, karena para prajurit tidak ada pilihan lagi. Kalau mereka berusaha menangkapnya hidup-hidup yang ada hanya kerusakannya akan semakin parah".

Manas: "Begitu ya". Manas menunjuk

Harper: "Manas".

Manas: "Ya? Kalau boleh tahu anda siapa ya?".

Sarira: "Oh iya aku lupa mengenalkannya, ini Paman Harper Hazel. Ia kapten dari prajurit Bandriya".

Harper: "Salam kenal Manas, Terima kasih atas inisiatif mu korban jiwa dapat di mininalisir".

Manas: "....."

Harper: "Maaf ya Manas".

Manas: "Untuk apa paman?".

Harper: "Andai saja kami datang lebih cepat, mungkin cedera mu tidak akan separah ini".

Manas: "Tak apa paman". Manas tiba-tiba terdiam dan Sarira menyadari kalau ada yang aneh dengan ekspresi Manas

Sarira: "Ada apa Manas? Wajahmu seperti ingin membicarakan sesuatu".

Manas menggelengkan kepala Manas: "Tidak ada".

Manas: ("Apa maksud dari mimpi barusan? Beban yang ku wariskan? Apa itu berhubungan dengan pedang warisan ayah ku?")

Keheningan dikepala menggemanya meskipun ia dikelilingi banyak orang tapi rasa penasaran nya itu lebih menghantui dirinya, Ia tak tahu apa itu beban yang diwariskan padanya—namun satu hal pasti, hidupnya takkan pernah kembali sama.

Tiga hari berlalu semenjak insiden yang terjadi di distrik timur pembelanjaan, Manas kini sudah pulih kembali dan mereka berpamitan kepada Kapten Harper serta mengucapkan terima kasih karena menjaga mereka selama perawatan

Manas: "Kapten Harper kami ucapkan terima kasih karena sudah menjaga kami selama 3 hari, sekaligus kami mau pamit ingin ke Guild Pedagang untuk meneruskan mengantar list bahan pangan untuk dikirim ke desa kami".

Kapten Harper: "Ah jangan dipikirkan, aku juga tertolong berkat inisiatif mu, tapi lain kali jangan menarik diri kalian sendiri kedalam bahaya".

Manas: "Ya kami tahu Kapten, kami pergi dulu ya. Selamat tinggal".

Mereka melangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit ksatria yang telah merawat mereka

Diperjalanan menuju Guild Pedagang Sarira menanyakan sesuatu ke Manas

Sarira: "Manas saat kejadian waktu itu, kenapa kamu tiba-tiba ingin ketempat dimana Bubalus Terra mengamuk? Bukannya kamu selalu menghindari hal seperti itu ya".

Manas: "Entahlah, tapi dibenak ku merasa kalau aku tidak datang aku bakal kehilangan sesuatu. Perasaan itu datang juga waktu aku bangun tidur sebelum kita berangkat kerumah mu".

Sarira: "waktu itu kamu hanya nervous kali, dan aku juga sama kalau itu".

Manas: "Kalau yang itu mungkin saja, tapi kejadian kemaren tak mungkin karena nervous kan?"

Sarira: "Kamu benar juga sih, terkadang memang kita semua bisa bertindak tanpa pikir panjang walau tanpa ada alasan yang jelas".

Manas: "Manusia itu memang makhluk yang aneh ya".

Mereka meneruskan perjalanan dan selama perjalanan mereka bersenda gurau sambil melihat-lihat keadaan sekitar yang sudah mulai kondusif pasca kejadian tiga hari yang lalu.

Sarira: "Kelihatannya keadaan sudah agak tenang, semoga saja Guild Pedagang tidak tutup."

Sarira membuka pintu Guild Pedagang dan melangkah masuk, diikuti Manas di belakangnya.

Saat mereka memasuki Guild Pedagang, suasana di dalam tampak sangat sibuk.

Manas memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Ia baru menyadari bahwa satu kejadian saja bisa mengguncang kehidupan begitu banyak orang dan entah kenapa, perasaan itu membuat dadanya terasa berat.

Manas: "Pengiriman pesanan kita mungkin bakal terlambat".

Sarira: "Ya semua terlihat pada kerepotan, apa pesanan kita bisa sampai tepat waktu?".

Mereka berjalan menuju resepsionis sambil memperhatikan sekitar, terlihat para staf hilir mudik membawa tumpukan berkas, sebagian berdiskusi dengan nada tergesa, sementara yang lain mencatat daftar kebutuhan yang terus bertambah.

Manas: "Permisi". Saat Manas memanggil resepsionis, tak lama datanglah wanita muda dari arah dalam konter resepsionis.

Resepsionis: "Selamat datang di Guild Pedagang, ada yang bisa kami bantu?".

Manas: ("Cantiknya...."). Pikiran Manas sempat teralihkan sejenak karena terkesima dengan kecantikannya. Wanita itu berambut pirang dengan mata biru yang indah seperti aquamarine, Kulitnya tampak lembut, mengingatkan pada warna buah persik yang matang.

Resepsionis: "Ada yang bisa dibantu tuan?". Resepsionis itu kembali memanggil Manas

Sarira: "Oy dipanggil tuh". Sarira menyikut perut Manas karena ia tidak merespon perkataannya.

Manas: "aduh duh duh, maaf. Kami ingin mengantar kan list daftar pesanan untuk pangan darurat musim dingin untuk desa Birendra".

Resepsionis: "Tunggu sebentar ya saya ambil buku pendaftaran terlebih dahulu". Wanita itu pergi meninggalkan mereka berdua untuk mengambil kan buku pendaftaran didalam kantor resepsionis.

Sarira: "Apa-apaan tadi, bikin malu saja".

Manas: "Maaf Maaf".

Tak lama wanita tadi kembali dengan membawa buku yang tebal dan terlihat kusam.

Resepsionis: "Maaf membuat kalian menunggu, silahkan isi nama, alamat, dan bahan apa saja yang ingin dipesan".

Manas: "Kalau list pesanan nya sebanyak ini apa bisa?".

Resepsionis: "Tentu saja, nanti tuan tinggal tulis nomor yang ada dibuku ini di kertas list pesanan tuan dan kalau sudah tinggal tempel kertas tadi kedalam halaman yang kosong dibalik nya".

Manas: "Baik". Manas menulis semua persyaratan yang diperlu kan, dan disaat Manas menulis dibuku Sarira mengajukan pertanyaan

Sarira: "Maaf, apa aku boleh bertanya?".

Resepsionis: "Boleh, silahkan apa yang ingin ditanyakan?".

Sarira: "Apa guild pedagang selalu seramai dan sesibuk ini? Soalnya ini baru pertama kami kemari".

Manas: "Aku juga penasaran dengan ini ". Manas sudah selesai menulis dan menyerahkan buku nya kembali.

Resepsionis: "Biasa nya memang ramai tapi kali ini lebih sibuk dari biasanya. Sebab banyak permintaan bantuan datang untuk para korban luka, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, dan mereka yang kini tak lagi memiliki persediaan pangan".

Resepsionis: "Demi menanggulangi dampak dari insiden tersebut, kerajaan memutuskan menanggung seluruh kebutuhan pangan para korban untuk dua bulan ke depan".

Sarira: "Jadi begitu".

Resepsionis: "Baiklah coba saya pastikan kembali apa yang tuan tulis".

Resepsionis: "Atas Nama Manas dari Desa Birendra".

Resepsionis: "Manas?". Resepsionis itu berhenti sejenak saat melihat nama Manas.

Manas: "Ya?".

Callie: "Tidak ada Apa-apa, saya Callie Kenan mewakili guild pedagang mengucapkan terima kasih atas bantuan tuan. Kalau tidak ada tuan mungkin korban jiwa bakal lebih banyak".

Manas: "Aku tidak melakukan apapun, yang aku lakukan cuma mengantarkannya saja, yang mengobati orang-orang juga Sarira". Muka Manas memerah dan ia terlihat gugup karena mendapat pujian dari wanita secantik Callie

Callie: "Tidak, izinkan saya mengucapkan terima kasih dengan selayaknya, berkat bantuan tuan Manas dan nyonya Sarira, nyawa banyak pedagang yang Selamat".

Sarira: "Kebanyakan korbannya pedagang ya".

Callie: "Ya, bagi kami para Pedagang itu bagaikan jantung nya Guild. Kalau tidak ada para Pedagang kebutuhan untuk sehari-sehari tidak akan cukup untuk mencukupi permintaan pasokan di Guild".

Callie: "Untuk membalas jasa tuan dan nyonya sekalian, akan ku pastikan pesanan nya akan tepat waktu".

Sarira: "Terima kasih ya Kak Callie".

Callie: "Senang dapat membantu tuan dan nyonya sekalian".

Manas dan Sarira berjalan meninggalkan Konter, Sarira melambaikan tangannya untuk menandakan kalau pertemuan mereka yang sekarang itu bukan yang terakhir.

More Chapters