━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔥 CHAPTER 111 — "Pemburu Masker Hitam, Murka Sang Dewa Es, dan Tanda Berburu Merah"
(MC: Damien Valtreos)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
❄️ ADEGAN 1 — Para Tetua Kerajaan Frostveil: Laporan yang Mengguncang
Aula Es Kerajaan Frostveil tampak bergetar, bukan karena badai…
melainkan aura seorang makhluk yang tidak boleh diganggu:
Aurelius Frostmourn, sang Dewa Es, ayah Lyanna.
Ia duduk di singgasana es, mata biru tajam mem- freeze udara setiap kali ia bernapas.
Tetua pertama berlutut di hadapannya.
"Yang Mulia… kami mendeteksi kebangkitan energi Atheus. Aura itu… berada di dekat putri Anda."
Aurelius membuka matanya sedikit.
"Sebutin namanya."
"Damien Valtreos."
Hening.
Semua tetua menahan napas.
Suhu ruangan turun 30 derajat dalam 1 detik.
Aurelius berdiri perlahan, sangat perlahan—
tapi setiap tetua merasa seolah langit runtuh.
"Seorang anak dari luar garis Frostveil… berani menyentuh warisan Atheus?"
Ia mengepalkan tangan.
Es retak seperti kaca.
Tetua ketiga cepat menambahkan:
"Yang Mulia… energi di sekitarnya menunjukkan ia tidak mencuri warisan itu.
Sepertinya… warisan itu memilih dia."
Aurelius berhenti.
"…apa?"
Aura esnya mereda sesaat.
Tetua kedua berkata dengan suara lirih: "Warisan Atheus hanya memilih satu kandidat setiap 500 tahun.
Jika dia dipilih… berarti bocah itu berada di atas standar klan kita."
Aurelius membalikkan badan dan menatap kristal biru besar.
Ia melihat bayangan Damien sedang memimpin tim kecilnya di ruang bawah tanah.
Mata Aurelius menyipit.
"…kalau dia menyakiti Lyanna sedikit saja, aku akan menghancurkan seluruh benua Astralheim."
Tetua pertama buru-buru menambahkan:
"Tapi Yang Mulia… organisasi pemburu pewaris sudah menandai bocah itu dengan Prioritas Target Merah."
Aurelius akhirnya bergumam:
"…kalau begitu, aku ingin melihat… apakah bocah pilihan Atheus itu benar-benar layak hidup."
Kilatan es meledak.
Aurelius menghilang dari aula.
Sang Dewa Es bergerak.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔥 ADEGAN 2 — Damien Keluar dari Ruang Bawah Tanah
Damien, Zura, Rex, dan Hana berjalan melalui koridor batu sempit.
Rex memegang lambungnya. "Bro… jujur aja, gue masih merinding. Suara dari retakan itu… bukan suara manusia normal."
Hana menunduk. "Kalau 'Tingkat Merah' benar… berarti organisasi itu bakal mengirim pemburu terbaik mereka."
Zura berjalan di depan Damien, menghalangi segala bahaya seperti bayangan pelindung.
Damien tetap tenang. "Tenang. Selama kalian bersamaku, aku tidak akan biarkan siapa pun menyentuh kalian."
Rex memaksakan senyum.
"Ya… tapi jangan sendirian juga, bro."
Damien mengangguk kecil.
Saat mereka keluar dari terowongan…
🌬️ AURA HITAM MENYUSUP MASUK.
Sosok bertopeng hitam muncul di atas pilar reruntuhan, matanya bersinar merah gelap.
"Damien Valtreos.
Pewaris Atheus.
Prioritas: Eliminasi."
Damien langsung menarik Zura dan dua temannya mundur.
"Akhirnya… kalian muncul."
Pemburu masker hitam itu turun perlahan, aura Voidstep Realm tingkat tidak terdeteksi.
Rex menggigil.
"BRO… ranahnya ngilang?!"
Hana menelan ludah.
"Itu tanda pemburu kategori Shadow-Hide… dia bisa menyembunyikan ranahnya."
Damien mengaktifkan mata birunya.
"Aku tidak akan kabur."
Pemburu itu menghilang.
Seketika muncul di belakang mereka.
KLANG!
Gerakan itu ditahan Zura dengan tangan kosong.
Lengan Zura bergetar, tapi ia tetap berdiri.
"Kau… menyentuh tuanku. Itu pelanggaran."
Aura Calamity Overlord Realm tingkat 5-nya keluar sedikit—cukup membuat tanah retak.
Pemburu itu mundur.
Tapi bukan takut—lebih seperti mengevaluasi.
"Menarik. Boneka hidup.
Organisasi akan senang menangkapmu juga."
Damien melangkah maju.
"Jangan sentuh dia."
Energi Atheus biru pucat memutar di tangan Damien—
tidak berlebihan, tetapi intensitasnya cukup membuat pemburu itu mengubah posisi bertahan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
⚡ ADEGAN 3 — Kenaikan Ranah Rex & Hana
Pemburu itu mengangkat tangan.
"Finalisasi Marking.
Aktivasi—Target Surrounding Pressure."
Aura hitam menekan area itu.
Rex dan Hana hampir jatuh berlutut.
Damien menyadari sesuatu.
"…kalian tahan saja. Tekanan ini bisa dipakai buat naik ranah."
Rex: "Hah?! GINI??!"
Namun… perlahan
energi di tubuh Rex dan Hana berputar seperti bentuk spiral.
Hana: "Damien… tubuhku panas…"
Damien cepat menahannya dengan energi biru tipis agar tidak meledak.
"Biarkan mengalir. Jangan lawan."
Tekanan aura pemburu itu justru membuat mereka melewati batas.
✨ REX — Essence Flow Realm tingkat 5!
✨ HANA — Essence Flow Realm tingkat 5!
Keduanya terengah-engah.
Rex: "BARU KALI INI GUE NAIK RANAH KARENA DITEKAN MATI!"
Damien smirk tipis.
"Lumayan kan? Gratis."
Pemburu itu menatap Damien tanpa ekspresi.
"…meningkat di tengah tekanan eliminasi.
Ini sebabnya kau adalah Target Merah."
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌙 ADEGAN 4 — Pemburu Mengambil Serangan Pertama
Pemburu mengangkat kedua tangannya.
"Protokol Eksekusi Resmi.
Dimulai."
Retakan kecil hitam muncul di udara.
Damien melangkah maju perlahan.
"Zura. Lindungi Rex dan Hana."
Zura mengangguk dan berdiri seperti tembok hidup.
Rex: "BRO SERIUS MAU LAWAN SENDIRI?!"
Damien menatap pemburu itu.
"…aku tidak akan menang, tapi aku bisa menahan."
Ia memusatkan energi.
"Mari lihat seberapa jauh Target Merah bisa melawan."
Pemburu menghilang—
dan pertarungan mereka dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔥 END CHAPTER 111
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
