Mata Jeanne terus mengamati sekeliling. "Situasinya masih sama..." Ucapnya pelan, langkahnya tenang dan sesuai ritme, sesekali dia mengecek ponselnya di saku.
Jeanne terhenti, mata biru indahnya perlahan redup menatap badut yang sedang menunjukan atraksi. "Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan sejak awal...ini sama seperti di waktu sebelumnya...apa ini gagal dan aku akan mati, lalu kembali ke titik awal." Ekspresinya menjadi berat, tanpa sadar dia berjalan dan menonton pertunjukan badut.
Badut itu memainkan Cascade juggling sambil mengendarai sepeda beroda satu, badut itu sangat terampil, penonton yang kebanyakan buruh pabrik yang bekerja hingga larut malam, mereka minum-minum di pinggir jalan sambil tertawa melihat aksi sulap badut.
Jeanne tak jauh dari sana mengamati, tanganya bergetar, air mata menetes tanpa dia sadar.
Badut dengan Wig warna warni mendekat kearah Jeanne sambil mengendarai sepeda roda satunya.
Badut itu mengambil sapu tangan, dan membungkusnya. "Apa kamu bisa menebak apa isinya yang akan muncul?" Tanya badut itu.
Mendengar pertanyaan yang sama, hati Jeanne semakin berat."tidak ada perubahan juga..." Jeanne terdiam, matanya berkaca-kaca.
"Merpati..." Jawab Jeanne pelan, pasrah dan mencoba menyembunyikan ekspresinya.
Badut itu tersenyum. Menepuk kepalan tangannya dan lalu perlahan membukanya.
Kepakan sayap dan bulu yang berwarna putih jauh dari udara.
Merpati.
Jeanne kini tidak terkejut, dia hanya melihat merpati itu terbang ke langit dengan tatapan berat.
"Isinya bukan hanya merpati lho"
"Kata yang sama lagi..." Pikir Jeanne, pikiranya menjadi kosong dan berat.
Badut itu mengeluarkan bunga mawar putih untuk kedua kalinya bagi Jeanne. Dia menerimanya dengan perasaan berat sambil mencoba tersenyum lalu memasukan ke saku mantelnya.
dan Jeanne hendak meninggalkan pertunjukan, namun langkahnya terhenti.
"Jangan menangis, wahai nona cantik...aku tidak tahu tentang harimu saat ini tapi jangan menyerah!!" Kata badut itu sambil tersenyum konyol dan aneh.
Brakk.
Dia terjatuh dari sepeda beroda satunya ketika cascade jugglingnya gagal, salah satu bola mengenai matanya, dia berguling guling dengan konyol.
Orang-orang yang melihat itu tertawa dan menyemangati badut itu.
Jeannne meliriknya sesaat.
"Tuan badut...Terima kasih" Jeanne tersenyum dan perlahan menarik nafas dan menghembuskanya.
"Tidak ada perubahan di awal tidak menjamin di akhir tidak ada perubahan juga!" Kata Jeanne pelan, dia berjalan menuju stasiun kereta. Dia terus mengulangi kata itu di hati begitupun pikirannya.
Jeanne memasukan tangan kirinya ke saku sambil memegang ponsel, dia telah mengetik nomor kepolisian, jika terjadi sesuatu dia akan menekan dan menelponya.
Jeanne menatap bulan dan bintang di langit yang gelap. Dia beranjak jalan ketempat dia bertemu dengan pembunuh bertudung.
Ketika Jeanne berjalan dengan santai, anak laki-laki berkisaran umur tiga belas tahun pakaianya terlihat berantakan, dia terlihat seperti anak jalanan, anak laki-laki berlarian dengan temannya menabrak Jeanne dan terjatuh.
"Kamu baik baik saja?" Tanya Jeanne, pelan dan terkejut.
Anak laki-laki itu mengangguk."Tidak apa apa." jawabnya, kemudian dia bangun dan pergi.
...
Setelah berjalan cukup jauh. Dia melewati gedung-gedung tinggi dan jalanan yang tergolong sepi, sesekali kendaraan lewat.
Jantung Jeanne berdegup kencang ketika dirinya sampai di tempat dimana dia bertemu dengan pembunuh bertudung.
...
Setelah melihat Jeanne pergi dan menghilang, badut itu melihat dua anak laki-laki yang menabrak Jeanne tadi sedang memegang dompet wanita berwarna coklat di bibir gang yang gelap.
"Wanita itu membawa cukup banyak uang di dompetnya, sepertinya kita bisa makan, kak" Kata adiknya, ketika melihat sang kakak mengeledah dompet milik Jeanne dan menghitungnya.
Sang kakak imengangguk."Benar, ayo kita pergi makan!" Ajaknya.
"AYOOO!!" Teriak badut itu tiba tiba. Dia berjongkok sambil mengangkat tanganya dengan semangat, seolah dirinya bagian dari saudaranya. di dalam gang yang gelap melihat kedua bocah laki-laki itu terkejut dan jatuh
"S-sejak kapan kamu disini!!" Tanya sang kakak. "Padahal kami sedang dibibir gang, bagaimana dia masuk?" Pikir sang kakak.
Badut itu terkekeh, dan berkata."Rahasia" Lalu Melanjutkan."Kalian mencuri darimana?" Tanya Badut tersebut, tersenyum penasaran.
"K-kami tidak..Tidak mencurinya." Adiknya menjawab dengan gemeteran.
"Benarkah? jika kalian tidak mencurinya berarti aku bisa mencurinya dari kalian?" Tanya badut itu tersenyum, senyum yang membuat kedua saudara itu ketakutan dan waspada.
"Bercanda!" Badut itu tertawa, lalu dia berbalik membelakangi saudara itu. "Hemmm..." Ucapnya seperti menemukan harta karun.
"Apa yang di lakukan pria aneh ini!!" Gerutu si kakak.
"K-kak...Dompetnya" Si adik menunjuk kearah tangan kakaknya yang menggengam buku, bukan dompet milik Jeanne.
"D-dompetnya jadi buku?" Katanya tak percaya, dia melirik badut pria aneh di depanya yang sedang berjongkok asik membelakangin mereka.
Keduanya mendekat dan melihat dompet itu ada di tangan badut aneh.
"Bagaimana bisa?" Keduanya serempat berkata terkejut.
Badut itu terkekeh, lalu berkata."Kalian belum mengambil uangnya kan?" Tanya badut itu.
Keduanya mengangguk."K-kami belum mengambilnya."
"Baiklah.." Badut itu bangkit dan berjalan melewati kedua saudara itu. "Sampai jumpa." Ucapnya dan berjalan, namun berhenti di depan bibir gang."Mencuri itu tidak baik, lho"
Keduanya mengangguk dan melihat badut aneh itu pergi, setelah menghilang. Si kakak meraba saku celananya seolah ada yang mengganjal.
"I-ini...." Dia melihat beberapa lembar uang kertas di sakunya.
...
Jeanne melihat kearah saku tempat ponselnya siap menelpon kepolisian. Suara jubah tertiup angin terdengar ditelinga Jeanne.
Segera Jeanne membalikan tubuh dan melihat ke arah suara, di balik kegelapan muncul si pembunuh itu.
Kaki Jeanne seperti akan kehilangan keseimbangan, dia menggertakan giginya dan berkata."Jangan mendekat!! aku telah menelpon polisi!" Ancam Jeanne, jari-jarinya bersiap menekan tombol telepon di ponselnya jika ada pergerakan dari si pembunuh.
Suara serak di balik tudung terdengar."Kenapa? kenapa aku harus menuruti perintahmu?" Pembunuh itu tertawa.
Jeanne mundur inci demi inci, jari-jarinya bergetar.
Pembunuh itu hendak melangkah, namun Jeanne berteriak."JANGAN BERGERAK"
Pembunuh itu terkekeh, dan berkata."Apa kau hanya mengundur waktu? aku tahu, kamu sudah menghubungi polisi." Dia seketika berlari ke arah Jeanne seperti serigala yang akan menerkam domba, langkahnya yang tidak normal
Jeanne berteriak."TOLONG!!" Dia berlari mundur dari tempatnya.
Namun pembunuh itu tidak menghentikan larinya, dia menarik pisau dari balik jubahnya.
"Manhole cover!" Jeanne melirik ke depan.
Saat berlari Jeanne terjatuh, Dengan sekuat tenaga dia menarik manhole cover. Jari-jari tanganya lecet dan terluka akibat memaksakan batas tubuhnya.
Dengan adrenalin dan instinct survival, Jaenne kembali bangkit dan berlari beberapa langkah kedepan sambil memeluk manhole cover.
Pembunuh itu tersenyum dan melompat hendak menerkam Jeanne dari belakang, dan melemparkan pisaunya di udara
Tang!
Jeanne berbalik dan menangkis serangan manhole cover.
"Apa!" Pembunuh itu terkejut, ketika dia hendak mendarat, salah satu kakinya masuk lubang saluran air.
"Sebelumnya saat aku terjatuh, aku membuka Manhole cover di saluran air, untung saja ini tidak tertutup rapat, dan kondisi jalanan yang minim pencahayaan, membuat lubang itu tidak terlihat." Pikir Jeanne, nafasnya terengah-engah.
"Heh....rencana yang cerdik, tapi kamu tidak sepenuhnya menangkis seranganku..tapi lihatlah pahamu" Pembunuh itu tertawa.
Jeanne melirik paha kaki kirinya, matanya membelalak, pisau dapur menancap di paha kirinya, seketika darah merembes menembus celananya.
Jeanne berteriak dan mengangkat manhole cover sekuat tenaga lalu memukul kepala si pembunuh itu menggunakan Manhole cover sebelum si pembunuh mengangkat kakinya yang masuk kedalam saluran air bawah tanah.
KRAKK!
Jeanne berhasil mengenai tepat di kepala si pembunuh, pembunuh itu terhempas ke bawah dengan keras dan membetur jalan beton serta manhole cover menimpanya.
Jeanne mundur perlahan, sempoyongan dan tak percaya, tangannya lemas, sakit. Sendi bahunya terasa akan lepas dan dirinya ambruk.
"A-aku telah membunuh seseorang?...." Pikirnya menolak percaya, hatinya terasa berat dan sedih, marah bercampur aduk.
"Heiii" Panggil suara yang memecahkan keheningan Jeanne yang terduduk melihat tubuh si pembunuh terkapar. Suara yang Jeanne dengar sebelumnya.
Jeanne menoleh dan melihat badut tersebut sedang berlari kearahnya. Namun Jeanne semakin terkejut ketika badut itu melewati kegelapan. Bibirnya bergetar ketika melihat sosok lain tiba.
Karl Reyker.
Pembunuh kedua itu muncul. Jeanne yang ingin berteriak, suaranya seperti tertahan.
Keduanya berjalan menghampiri Jeanne yang membatu ditempat.
"Hei Nona? ada apa?" Badut itu mendongkakkan tubuhnya dan melambaikan tanganya di depan wajah Jeanne. Badut itu melihat di belakang Jeanne terdapat tubuh yang terbaring tak bergerak.
"Apa yang sedang terjadi?" Tanya badut itu heran.
Jeanne yang tubuhnya mematung, kini bergetar, tangan-tanganya perlahan terangkat bergerak dan menunjuk ke arah Karl yang berdiri di samping badut tersebut
Bibirnya bergetar, dan perlahan berkata."Dia pembunuh keduanya..." Suara Jeanne pelan.
Badut itu menoleh dan mengamati Karl."Tuan ini? kamu baik baik saja nona? aku mendengar suara teriakanmu dan saat aku hendak kemari aku bertemu dengan tuan—..tuan siapa namamu?" Tanya Badut itu.
"Karl Ryker." Jawab Karl, dia mengamati Jeanne. Lalu berkata."Kamu sepertinya kelelahan pikiran dan mental, kamu membunuh seseorang?" Karl berakting seolah dia bukan pelaku dan bertindak sebagai penyelamat.
"Aku seorang dokter, ayo kita pergi kerumah sakit dan tuan badut segera hubungi kepolisian." Karl berjongkok dan mengulurkan tanganya kepada Jeanne.
Jeanne seperti orang yang tersengat listrik, dia segera menjauhkan dirinya dengan cara menyeret tubuhnya, kakinya tidak berdaya untuk lari.
Badut itu berjalan menuju Jeanne."Apa maksudmu dengan pembunuh kedua, nona?" Tanya badut itu, ekspresinya menjadi bingung dan heran.
Ketika dirinya berbalik dan melihat Karl mendekat, dia melanjutkan."Dia dari tadi mengatakan kamu pembun—" Kata-kata badut itu terhenti, ketika pisau bedah menusuk tepat di dadanya. Darah keluar dari mulutnya.
Badut itu membelalak, terkejut dan mundur. "K-kamu..." Dia terhunyung, dan mencabut pisau bedah di dadanya. Darah merembes dari kostum badutnya.
"Pisau bedah itu telah di lumuri racun, kamu akan mati dalam lima belas menit." Ucap Karl tenang dan perlahan menyeringai.
Badut itu terhuyung dan jatuh tepat di hadapan Jeanne, darah mengalir keluar.
Pikiran Jeanne menjadi kacau, hatinya seakan ditabrak dari arah depan dan belakang. Tubuhnya tidak berhenti bergetar, tubuhnya menjadi lemas.
"Aku suka ekspresi itu..." Kata Karl dengan tenang. Dia mencekik dan mengangkat Jeanne.
Dia mendesah dan berkata."Sungguh...aku..aku sungguh ingin memiliki matamu itu dan telingamu..." Karl mengambil pisau bedah lain dari jasnya dan mengarahkan ke mata Jeanne. Dia mencium telinga Jeanne dan menjadi gila.
Jeanne yang sudah frustasi dan mentalnya retak, hanya mematung, nafasnya sesak karena cekikan Karl.
"Aku tidak mau ini....kenapa takdirku seperti ini" Gumam Jeanne, hatinya menangis namun air matanya tak mengalir.
Karl tertawa dan ketika dia mengangkat pisau bedahnya hendak mencongkel mata Jeanne.
DOR!
"Lepaskan wanita itu dan jangan bergerak!" Perintah Polisi wanita, sementara rekannya Polisi Pria, membidik ke arah Karl untuk kedua kalinya.
Karl menoleh."Polisi?" Dia menarik Jeanne dan menggendongnya di pundak layaknya seekor buruan.
Karl berlari melewati tubuh Badut dan Pembunuh bertudung, namun langkahnya gagal dan terjatuh.
Karl bangkit dan hendak kembali berlari namun dirinya kembali jatuh, dia menoleh ke bawah. Matanya membesar tak percaya.
Kaki kiri di bagian bawah mata kakinya telah putus, Darah terus mengalir dari luka.
Karl menggeram, dia melemparkan Jeanne ke aspal hingga membentur tong sampah dengan keras, darah mengalir dari pelipisnya.
"Aku harus kabur!! detektif khusus ada disini!!" Gerutunya, dia menguatkan kakinya dan hendak melompat.
Polisi yang telah menerima perintah menembak, mulai menembak. Lengan Karl terkena tembakan.
Dia medengus dan memusatkan kekuatanya di kaki kanan. Dia melompat dengan kuat dan tidak masuk akal, bekas lompatanya meninggalkan retakan di aspal.
Karl melompat hingga lima meter, mencoba kabur melalu atap gedung atau rumah-rumah warga sipil. Saat hampir sampai di atap gedung
Dari atas seorang pria mengenakan jas hitam dengan kemeja putih formal, Rambut biru gelapnya tertiup angin malam, melompat kebawah. Arahnya bertabrakan dengan Karl.
Karl melihat seseorang melompat dari atas bangunan yang akan dia tuju.
"Tidak!!" Karl terkejut, dia terlambat untuk menghindar.
Pria itu tersenyum, dia dengan santai terjun sambil melipat tanganya di dada. Dia berkata dengan santai.
"Unlock: Massa 90kg"
Mata Karl membelalak saat telapak sepatu pantofel mengenai wajahnya dan mendorong kebawah.
DUAR!!
Suara ledakan seperti benda berat yang jatuh ke aspal. Asap mengepul dan perlahan menghilang, itu membuat kawah kecil.
Jeanne yang terbaring lemah di aspal, penglihatanya sedikit kabur, dia bisa mendengar samar-samar polisi wanita yang memberikan pertolongan pertama pada lukanya dan mengobati lukanya.
Setelah sedikit tenang dan perlahan Jeanne melirik ke arah mayat badut."S-selamatkan pria itu dulu.." Ucap Jeanne pelan.
Polisi wanita itu mengangguk, dia menyandarkan Jeanne ke dinding bangunan. Saat polisi wanita itu hendak mendekat ke atah Badut yang tertusuk itu.
"Tidak usah, obati saja wanita itu." Perintah pria berjas. Dia mengambil segenggam pecahan batu dan mengenggamnya.
"80Kg" Ucapnya, Dia meletakan batu itu di perut Karl. Melirik polisi pria, mengisyaratkanya untuk mengamankan Karl.
Pria itu berjalan mendekati mayat badut itu, dan meliriknya. "Mau sampai kapan kamu berpura-pura mati, Eugene Vidocq?" Tanyanya. Hening.
Dia mengambil bongkahan batu lain. Namun tiba tiba Eugene bangkit."Kamu menganggu aktingku, Johan!!" Dia menghela nafas, lalu melanjutkan "padahal Nona disana mengkhawatirkan keadaanku.."
Melihat itu Jeanne dan polisi wanita itu menjadi terkejut dan bingung."B-bagaimana bisa?..." Suara lemasnya dan serak akibat cekikan Karl masih terasa baginya.
"Ahh itu, Aku menggunakan ini." Eugene membuka kostum badutnya dan memperlihatkan balon balon yang pecah berwarna merah mirip dengan darah.
Perasaan Jeanne sedikit tenang tapi kesal dan marah bercampur aduk. Jeanne perlahan bangkit dan berkata." Izinkan...aku menamparmu" Jeanne berdiri di bantu oleh polisi wanita.
Namun bukannya meminta maaf, Eugene ber jalan mendekat dan berjongkok di hadapannya.
Sarung tangan putih menyentuh tangan Jeanne. Hangat. Nyata.
Dengan nada lembut yang sama sekali tidak cocok dengan penampilan badutnya itu berkata,
"Menikahlah denganku, gadis cantik."
Keheningan jatuh seperti benda berat.
"...Apa?" Jeanne terpaku. Wajahnya kosong. Otaknya menolak memproses kalimat itu.
Badut itu tersenyum-kali ini senyum kecil, tidak dilebihkan.
"Aku serius. Kamu punya tangan yang dingin, tatapan orang yang baru mati, dan aura masalah seumur hidup. Kriteria sempurna."
Jeanne menarik tangannya dengan refleks. "Kamu gila." Katanya pelan, kesadaranya perlahan meredup.
Pingsan.
