WebNovels

Chapter 890 - Triesverse, Alam Semesta Masa Depan

Lautan galaksi terus terbentang tanpa ujung.

Armada Andromeda dan Armada Tringgulung bergerak melewati ruang angkasa yang dipenuhi gugusan galaksi.

Namun di antara seluruh armada tersebut, sebuah sosok perlahan berubah.

Ginga Stars.

Cahaya energi menyelimuti seluruh tubuh Mecha tersebut.

Kemudian—

BOOOOOOM!

Ukuran Ginga Stars mulai membesar.

Berkali-kali lipat.

Tubuhnya terus meluas hingga ukurannya tampak seperti mampu menyamai ukuran sebuah galaksi.

Raksasa mekanis itu kini berdiri di tengah lautan galaksi.

Namun ukuran tersebut bukanlah ukuran sebenarnya.

Seluruh bagian raksasa itu hanyalah proyeksi kosmik.

Di bagian pusatnya terdapat Ginga Stars yang sebenarnya.

Sebuah inti Mecha yang jauh lebih kecil.

Ukuran sebenarnya dari Ginga Stars tetap berada di dalam inti tersebut.

Dengan cara itu, Ginga Stars dapat bergerak di antara galaksi tanpa menghancurkan struktur kosmik di sekitarnya.

Di dalam inti Ginga Stars—

Storm duduk di kursi pilot.

Tangannya berada di atas sistem kendali.

Wajahnya tetap datar.

Matanya fokus melihat jalur yang terbentang di depan.

Di sampingnya, Napstylea berdiri sambil mengawasi sistem navigasi.

"Jalur depan aman."

Storm mengangguk.

"Teruskan."

Napstylea tersenyum kecil.

Ia memperhatikan Storm dari samping.

Storm masih terlihat seperti biasanya.

Datar.

Tenang.

Sulit membaca perasaannya.

Namun setidaknya—

ia tidak lagi bersikap dingin kepadanya.

Sejak mereka meninggalkan Urco Tastarius, Storm justru beberapa kali berbicara dengannya mengenai perjalanan mereka.

Bagi Napstylea, hal kecil tersebut sudah cukup berarti.

Ia kemudian kembali melihat layar navigasi.

Namun tiba-tiba Storm berbicara.

"Proxi."

Proxi yang berada di ruang kontrol data langsung menjawab.

"Ya, Kapten?"

Storm menatap layar.

"Apa itu Triesverse?"

Proxi terdiam.

Sistem di belakangnya masih menampilkan berbagai data.

Storm melanjutkan,

"Xyrares Vonalys."

Ia mengingat bentuk monster api kosmik yang pernah menjadi bagian dari kekuatannya.

"Makhluk itu berasal dari Triesverse, bukan?"

Proxi tidak segera menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian beberapa layar di ruang kontrol berubah.

"Benar."

Storm menunggu.

Proxi akhirnya berkata,

"Triesverse adalah alam semesta yang sangat jauh."

Storm mengerutkan kening.

"Alam semesta?"

"Ya."

Proxi menampilkan sebuah diagram.

Di sana terlihat beberapa lapisan ruang kosmik yang saling terhubung.

"Saat ini kita berada di wilayah Universe."

Storm memperhatikan diagram tersebut.

"Universe dan Triesverse berbeda?"

"Benar."

Proxi memperbesar satu bagian diagram.

"Triesverse bukan sekadar wilayah yang lebih jauh dari Universe."

Ia berhenti sejenak.

"Triesverse adalah alam semesta versi masa depan."

Storm terdiam.

Napstylea perlahan menoleh.

Proxi melanjutkan.

"Alam semesta itu adalah tujuan akhir perjalanan kita."

Storm tidak mengatakan apa-apa.

Matanya tetap tertuju pada layar.

"Jadi..."

Ia berbicara perlahan.

"Selama ini aku mengira Triesverse adalah alam semesta lain yang sangat luas."

Proxi mengangguk.

"Namun sebenarnya..."

Storm menyelesaikan kalimatnya.

"...itu adalah alam semesta di masa depan."

"Benar."

Keheningan memenuhi kokpit.

Storm bersandar sedikit di kursinya.

Ia tidak menyangka bahwa tempat asal kekuatan Xyrares Vonalys ternyata memiliki hubungan langsung dengan dirinya dan seluruh perjalanan yang sedang mereka jalani.

Triesverse bukan sekadar tempat yang jauh.

Bukan sekadar alam semesta asing.

Tetapi—

masa depan.

Napstylea menatap diagram tersebut dalam diam.

Pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan.

Jika Triesverse merupakan masa depan mereka...

Lalu seperti apa kehidupan mereka di sana?

Apa yang terjadi pada Bimasakti?

Apa yang terjadi pada Bumi?

Apa yang terjadi pada X.A.R.A.?

Dan yang paling penting—

apa yang terjadi pada Storm?

Napstylea menggeleng perlahan.

Terlalu banyak pertanyaan.

Terlalu sedikit jawaban.

"Triesverse..."

gumamnya.

"Sepertinya alam semesta itu menyimpan terlalu banyak misteri."

Proxi mengangguk.

"Bahkan data yang kita miliki mengenai Triesverse masih sangat terbatas."

Napstylea menatap lautan galaksi di luar.

"Kalau begitu, kita tidak akan bisa memahaminya hanya dengan memikirkannya."

Storm menatap lurus ke depan.

"Kalau begitu kita lihat sendiri."

Napstylea menoleh kepadanya.

Storm tetap mengendalikan Ginga Stars dengan tenang.

"Kita akan sampai ke sana suatu hari nanti."

Napstylea tersenyum.

"Ya."

Ginga Stars terus bergerak.

Raksasa proyeksinya membentang di antara galaksi-galaksi.

More Chapters