WebNovels

Chapter 889 - Lautan Galaksi

Ruang angkasa terasa berbeda.

Tidak ada lagi planet Urco Tastarius.

Tidak ada lagi batas Bimasakti.

Tidak ada lagi wilayah yang mereka kenal.

Di hadapan armada yang bergerak menuju batas Universe, terbentang pemandangan yang hampir mustahil dipercaya.

Lautan galaksi.

Galaksi-galaksi besar dan kecil terlihat di segala arah.

Ada yang berbentuk spiral.

Ada yang berbentuk elips.

Ada pula yang memiliki bentuk tidak beraturan, dengan cahaya bintang yang memenuhi ruang di antara mereka.

Armada Andromeda dan Armada Tringgulung melayang di antara lautan tersebut.

Ribuan kapal bergerak dalam formasi.

Cahaya mesin mereka terlihat seperti sungai bintang yang mengalir di antara galaksi.

Di dalam kapal Nexus—

Lira berdiri di depan jendela observasi.

Matanya membesar.

"Wow..."

Violys ikut mendekat.

"Sebanyak ini?"

Di hadapan mereka, sebuah galaksi spiral raksasa berputar perlahan.

Cahayanya begitu luas hingga hampir memenuhi seluruh pandangan.

Zero berdiri di samping mereka.

"Aku pernah melihat banyak galaksi dari data X.A.R.A."

Ia tersenyum.

"Tapi melihatnya langsung..."

Jester tertawa kecil.

"Memang berbeda."

Jester kemudian menunjuk ke arah lain.

"Lihat!"

Sebuah galaksi berwarna kebiruan terlihat jauh di sana.

Kemudian sebuah galaksi lain muncul di belakangnya.

Dan satu lagi.

Dan satu lagi.

Seolah-olah ruang angkasa tidak pernah berakhir.

Lira terpaku.

"Jadi selama ini..."

Ia menatap lautan galaksi tersebut.

"...kita hanya tinggal di satu bagian kecil dari semuanya."

Violys mengangguk.

"Dan kita bahkan belum melihat apa yang ada di luar sini."

Zero tersenyum.

"Perjalanan ini mungkin akan jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan."

Jester menyilangkan tangannya.

"Kalau terus begini, aku bisa menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk melihat pemandangan."

Lira tertawa kecil.

"Kau tidak akan bosan?"

"Justru itu masalahnya."

Jester menunjuk ke luar.

"Terlalu banyak yang bisa dilihat."

Mereka semua tertawa ringan.

Untuk beberapa saat, suasana di dalam Nexus terasa damai.

Namun tidak semua orang menikmati pemandangan itu dengan cara yang sama.

Di bagian depan ruang kendali—

Aryes berdiri sambil memandang layar navigasi.

Wajahnya tenang.

Tidak ada kekaguman.

Tidak ada senyum.

Lira menoleh kepadanya.

"Aryes."

"Hm?"

"Kau tidak kagum?"

Aryes melirik ke arah jendela.

Galaksi-galaksi masih terlihat memenuhi ruang angkasa.

"Aku sudah melihat banyak pemandangan seperti ini."

Jester mengangkat alis.

"Kau benar-benar tidak punya rasa kagum."

Aryes tersenyum tipis.

"Bukan begitu."

Ia kembali menatap layar navigasi.

"Aku hanya tahu sesuatu yang kalian belum pikirkan."

Suasana perlahan menjadi lebih tenang.

Zero bertanya,

"Apa itu Komandan?"

Aryes menunjuk ke luar.

"Di balik keindahan itu..."

Ia berhenti.

"...ada bahaya."

Lira terdiam.

Aryes melanjutkan.

"Semakin jauh kita pergi dari Bimasakti, semakin sedikit yang kita ketahui tentang wilayah ini."

"Kita tidak tahu siapa yang tinggal di galaksi-galaksi tersebut."

"Kita tidak tahu apa yang menguasai wilayah di depan."

"Dan kita bahkan tidak tahu apa yang menunggu di batas Universe."

Jester tidak lagi tertawa.

Violys memandang galaksi di luar jendela dengan ekspresi serius.

Aryes kemudian berkata,

"Jangan sampai pemandangan indah membuat kita lupa bahwa kita sedang menuju tempat yang belum pernah kita jelajahi."

Zero mengangguk.

"Benar."

Lira kembali melihat ke luar.

Kali ini dengan perasaan berbeda.

Galaksi-galaksi itu masih indah.

Namun di balik cahaya mereka terdapat sesuatu yang tidak terlihat.

Sesuatu yang mungkin jauh lebih besar daripada seluruh armada mereka.

Di ruang kendali Nexus, Roxis tetap fokus pada navigasi.

"Jalur aman untuk sementara."

Aryes mengangguk.

"Teruskan."

Di luar kapal—

Armada Andromeda melintas melewati sebuah galaksi raksasa.

Armada Tringgulung mengikuti dari belakang.

Ginga Stars berada di antara kedua armada tersebut.

More Chapters