Dulu Rudy Wilson merupakan salah satu petinggi dunia maupun Aksrega United. Memiliki banyak bisnis besar di berbagai kota, cabang utamanya berada di kota Nirvana.
Namun kini keluarga Wilson berada diambang kehancuran. Tidak mempunyai pewaris resmi keluarga yang meneruskan kesuksesan keluarga Wilson seperti dulu.
Terlihat seorang wanita cantik dengan kemeja kantorannya tengah melamun di kursinya. Lebih tepatnya sebagai undangan dari panggilan banyak orang penting yang akan diadakam rapat serius di kantor cabang APH.
Olivia Wilson. Nama yang dulu selalu dipuja akan kecantikan dan statusnya... kini dia tidak lebih sebagai pemimpin kantor biasa saja. Tidak ada yang menonjol dari kepemimpinannya.
Wilson Family diambang kehancuran. Hanya dia saja yang menjadi harapan terakhir sebagai penerus ayahnya.
"Kenapa kamu tega meninggalkanku, Ranga?"
Suaminya dan anak angkatnya; Boy Wilson dan Alya Wilson telah meninggalkan dirinya. Dimana saat dirinya berada diambang kebangkrutan.
Olivia merasa sedih, pria itu membawa kabur semua aset berharganya bersama kedua anaknya itu.
Terlebih lagi, mereka berpisah beberapa tahun lalu. Tapi rasa sakit yang dirasakannya tidak bisa dia sampaikan. Olivia tidak mempunyai siapa-siapa lagi.
"Ayah, keluarga Wilson saat ini mungkin akan hilang dari sejarah."
Olivia sejenak mengingat ayahnya, berharap sedih berkepanjangan ini tidak menghantuinya terus-menerus.
***
"Apa? Kamu ternyata menyembunyikan rahasia besar dari ayah, Olivia."
Rudy berucap lantang, memarahi putrinya itu yang tertunduk lesu.
"Katakan, dimana anakmu itu? Kenapa kamu membuang cucu ayah? Apa kamu tega pada seorang bayi yang lahir tanpa orang tuanya?"
Suara lantang sang ayah menggema di rumah mewah itu.
Olivia tertunduk lesu dengan wajah yang sembab. Sedangkan banyak pelayan... mereka hanya mengamati saja masalah majikan mereka.
"Kamu tahu Oliv, meskipun dia terlahir bukan sebagai pasangan yang resmi dari kamu... ."
Rudy menghela nafasnya sejenak. Menahan air mata yang hampir jatuh.
"Dia adalah cucu ayah, tak peduli asal usulnya dari mana. Ayah akan tetap menerimanya sebagai penerus keluarga Wilson."
Rudy memijit pelipisnya yang berkerut karena usianya tidak lagi muda.
Sebelum ini dia bisa mengetahui rahasia besar putrinya itu karena dia tidak sengaja mendengar putrinya itu berbicara tidak sengaja.
Rudy yang mengetahuinya sontak murka. Tapi kemurkaannya berubah menjadi iba.
Putrinya yang selalu dipuja... telah ternodai oleh Penjahat Gila yang diketahui memiliki nama Dexters Insanity.
Nama penjahat gila sangat terkenal di kota Nirvana. Diketahui dia orang yang misterius... Namun sifatnya seorang penjahat yang gila.
Pihak rumah sakit jiwa bahkan menyebut jika Dexters meninggal di rumah sakit jiwa Hellas 666.
Rudy tahu semua informasi itu karena semua anak buahnya memang sangat banyak. Koneksi mereka sangat luas bahkan hampir beberapa penjuru dunia.
"Maafkan aku, ayah."
Olivia menggenggam ujung pakaian dengan erat.
Sejujurnya jauh dilubuk hati terdalamnya. Dia menyesal karena membuang bayinya di jalanan, pinggiran kota.
Hanya karena statusnya sebagai putri dari keluarga Wilson yang terhormat. Dia merasa kotor sekali karena telah gagal menjaga dirinya.
Semua itu hanya tersisa penyesalan saja.
"Tapi, aku yakin ayah. Anak itu bisa hidup mandiri tanpa ibu... seperti Olivia ini ayah."
Rudy menoleh kearah putrinya dengan cepat.
"Sekarang kamu bisa mengatakannya bahwa anak itu tidak kamu inginkan. Jangan sesali di kemudian hari nanti Olivia, jika penyesalan akan menghampirimu."
Ucapan itu terus terngiang dikepalanya.
Olivia menatap punggung tangannya. Tidak ada yang dia pikirkan selain penyesalan. Menyesal karena telah memilih pria yang dia anggap sebagai penyelamat hidupnya.
Justru mengkhianatinya, membuat hidupnya terus merasakan kesedihan.
"Ayah benar, seharusnya aku merawat anakku. Bukan merawat anak pria itu."
Air mata tak terasa menetes diwajahnya.
Ayahnya sebelum pergi, bersikeras menentang pernikahannya dengan Ranga. Tapi karena dibutakan oleh cinta. Dia menghiraukan teguran ayahnya dan tetap mau dinikahi oleh pria itu.
Kini, semua yang dikhawatirkan ayahnya telah terjadi. Bahkan bertahun-tahun menjadi kenangan pahit di hidupnya.
Mengingat ayahnya. Olivia teringat bayinya waktu lalu yang pernah dia buang.
"Maafkan ibumu ini, ibu telah tega menyiayiakan kehadiranmu di dunia ini."
Olivia akhirnya menangis... Dia tidak bisa membendung air matanya.
Banyak orang mengamatinya. Namun Olivia tidak peduli. Hatinya berharap bisa dipertemukan dengan anak yang telah lama dia telantarkan.
Apakah dia masih mengingatnya.
"Ternyata memang benar. Penyesalan sering kali datang di akhir kebahagian, tidak bisa diulangi tapi disesali dalam takdir yang berlalu."
Bahkan selama hidupnya ini. Dia menghabiskan waktu demi menjaga nama baik kelurga Wilson.
Tapi semua itu sia-sia saja. Dirinya merasa hina, bukan karena sering bersedih tetapi waktu yang memberikan pelajaran. Kebagian adalah awal yang manis... Sebelum merasakan sendiri arti hidup yang sebenarnya.
