Storm menatap langit dengan sendu. Meski mempunyai kekuatan mutlak sekalipun, tetap saja rasanya hampa. Hatinya kosong, hidup tanpa keluarga itu terasa seperti mimpi buruk baginya.
Tinggal beberapa hari kedepan lagi... Dia akan bertunangan dengan Arabels Everyn atau yang dia sebut Ara.
Storm bingung. Disatu sisi dia ingin melanjutkan ambisinya, menjelajahi alam semesta ini. Tapi dilain sisi, dia tidak mau mengecewakan gadisnya... Ara pasti sangat sedih mengetahui niatnya.
"Velora, menurutmu apa yang harus kulakukan saat ini. Aku tidak bisa mengabaikan perasaan Arabels, tapi aku juga tidak bisa melihat alam semesta secara nyata jika aku menerimanya."
Storm berbicara panjang lebar. Meluapkan rasa bingungnya, pasrah pada pilihan yang bisa saja menjadi malapetaka baginya.
Pilihan itu terasa sulit sekali baginya.
"Saat ini kau hanya bisa menerima pertunangan gadis itu, sebab sebagian kesadaranku berada dialam bawah sadarnya."
Velora mendengus di alam bawah sadarnya.
"Dengan kata lain, jika kau memaksa pergi menjelajahi alam semesta... gadismu itu bisa mati karena tidak akan kuat menampung kekuatanku lebih lama."
Storm terdiam seribu bahasa.
"Jessy, suatu saat nanti kita kembali bertemu... Bahkan itu harus menentang hukum semesta sekalipun."
Storm mengepalkan tangannya.
Dia yakin jika adiknya belumlah mati. Storm sangat yakin itu. Dia tidak bisa menerima jika adiknya telah mati. Bahkan sebagai penentang alam semesta sekalipun.
DRRT!
Telepon berdering.
Storm mengangkat teleponnya dengan malas.
"Ada apa Jester, kau mengganggu waktu istirahatku saja". Kesal Storm.
Dari seberang telepon, Jester menjawab dengan suara panik.
"Lapor tuan, saat ini kota H2700 sedang dalam bahaya. Seekor monster hiu mencoba menerobos pertahanan armada maupun pelabuhan kota."
Sontak Storm sedikit tersenyum mendengarnya.
Sudah lama dia tidak memusnahkan monster-monster berukuran raksasa.
"Apa Napstylea sedang bertarung di pelabuhan?"
"Benar tuan, kami kawalahan karena berusaha menahan air laut yang ingin menghantam perkotaan."
Jester menjelaskan situasi darurat saat ini.
Para petinggi kota, maupun petinggi dunia mungkin sedang sibuk. Tidak memiliki waktu mengerahkan militer menghadapi monster hiu raksasa.
Para Hero kelas C, B, A, bahkan Hero kelas S mustahil turun tangan secara langsung.
'Baiklah, tahan monster itu selagi aku menuju ke arah pelabuhan"
"Dimengerti tuan"
Storm mematikan teleponnya, dia bersiap-siap menuju tempat yang dia tuju untuk membantu kota ini yang berada dalam bahaya.
Namun belum sempat Storm menggunakan Armor Scarlet Slycrimson miliknya. Suara Velora menggema didalam jiwanya.
"Kenapa manusia lemah sepertimu, repot-repot mengurus monster cecunguk"
Suara Velora tenang tapi penuh ejekan.
"Seharusnya kau berhadapan melawan monster level planet atau setidaknya berada di level bintang, itu semua guna mengasah kekuatan mutlakmu."
Storm tidak memedulikan ucapan Velora.
"Berisik, kalau bukan karena Arabels... sudah sejak tadi aku lemparkan saja galaksi ini, lalu terbang menuju Super Cluster."
"Lelucon apa yang kau buat, lebih baik simpan saja ucapan tidak bergunamu itu."
Velora tidak terlalu menanggapi ocehan Storm, inangnya itu mengoceh sejak tadi.
"Aku tahu itu, sekarang bukan saatnya banyak bicara. Sekarang saatnya, Sang bintang kembali."
"Armor Scarlet Slycrimson"
Whuss!
Storm segera terbang di atas udara dengan Armor merah miliknya.
Armor yang dia gunakan sebagai pelindung bumi. Pahlawan dibalik bayangan, Hero yang tak pernah meminta pengakuan. Itulah arti dari seorang bintang sejati.
