WebNovels

Chapter 2 - Bab 2 — Peta Musuh Pertama

Malam pertama di dunia ini ternyata bukan malam yang tenang.

Chen Yuhan — yang di dalam pikirannya masih lebih sering berpikir dengan nama lama, Chen Hui — berbaring di dalam buaian kayu berukir yang dilapisi sutra merah. Buaian itu mahal. Seluruh ruangan ini mahal. Bahkan udara di sini terasa berbeda, lebih padat, lebih hidup, seolah-olah alam semesta sendiri sedang bernapas di sekitarnya.

Itu bukan metafora.

Sejak Sistem Saint-Level mengaktifkan Kultivasi Pasif Matahari dan Bulan, Chen Yuhan bisa merasakannya secara harfiah — energi lunar yang lembut meresap masuk melalui kulitnya yang tipis, mengalir ke dalam tulang-tulang mungilnya yang masih lunak, dan perlahan-lahan mulai melakukan sesuatu di tingkat yang jauh lebih dalam dari yang bisa dilihat mata biasa.

Tidak sakit. Tidak tidak nyaman. Hanya hangat, seperti direndam di dalam air yang memiliki suhu sempurna.

Efisiensi proses ini? tanyanya dalam pikiran.

[ Pada tahap ini, tubuhmu menyerap sekitar 0,3% kapasitas energi lunar per malam. Persentase akan meningkat seiring pertumbuhan tubuh dan perkembangan meridian. Dalam satu tahun, kepadatan tulangmu akan setara dengan praktisi yang telah berlatih keras selama lima tahun. ]

Lima tahun dalam satu tahun, ulang Chen Yuhan dalam hati. Tidak buruk untuk seseorang yang bahkan belum bisa duduk.

Dia menggerakkan jari-jari tangannya — masih tersentak-sentak, masih tidak terkontrol penuh — dan mencoba untuk kesekian kalinya membangun koneksi antara kehendaknya dan sistem motorik tubuh barunya. Hasilnya masih mengecewakan. Otak bayi yang baru lahir memang secara biologis belum siap untuk koordinasi yang dia inginkan. Jalur saraf belum terbentuk sempurna. Sinyal dari pikirannya yang dewasa harus melewati sistem yang masih dalam tahap konstruksi.

Berapa lama sampai aku bisa mengontrol tubuh ini dengan layak?

[ Estimasi dua hingga tiga bulan untuk kontrol dasar. Enam bulan untuk kontrol yang cukup untuk melatih meridian secara aktif. Sistem akan membantu mempercepat pematangan jalur saraf sebesar 40% dibanding bayi normal. ]

Empat puluh persen lebih cepat. Tetap saja, itu berarti berbulan-bulan berbaring tidak berdaya.

Chen Yuhan menarik napas panjang melalui hidung mungilnya dan memutuskan untuk berdamai dengan keterbatasan itu. Seorang ahli strategi yang baik tidak melawan kondisi yang tidak bisa diubah — dia beradaptasi, lalu memanfaatkan kondisi itu sebaik mungkin.

Kalau tubuhnya belum bisa bergerak, maka yang akan bekerja keras adalah pikirannya.

Suara pertama yang dia petakan adalah suara di balik pintu kamar.

Dua pelayan berjaga di luar, berbicara pelan dengan nada yang mereka kira tidak akan terdengar oleh siapapun di dalam ruangan. Tapi pendengaran bayi yang baru lahir ternyata jauh lebih sensitif dari yang Chen Yuhan duga — atau mungkin Sistem yang membantu mempertajamnya — karena dia bisa menangkap setiap kata dengan jelas.

"...kata Pengurus Liang, Tuan Kedua sangat tidak senang dengan kelahiran ini."

"Tentu saja. Selama ini dia yang paling diunggulkan untuk mewarisi posisi kepala klan. Kalau bayi ini tumbuh dengan sehat—"

"Ssst! Jangan sembarangan bicara."

Keheningan sejenak. Lalu suara yang lebih pelan.

"Aku hanya bilang... lebih baik kita berhati-hati. Bayi dari Nyonya Pertama selalu berumur pendek. Ini sudah yang ketiga."

Hening lagi. Kali ini lebih panjang dan lebih berat.

Chen Yuhan memproses informasi itu dengan cepat dan tanpa emosi yang berlebihan. Dua bayi sebelumnya mati. Nyonya Pertama — ibuku — sudah pernah kehilangan dua anak sebelum aku. Dan 'Tuan Kedua' — paman, kemungkinan besar — punya kepentingan langsung agar aku tidak bertahan hidup.

Dia menambahkan data itu ke dalam peta mental yang sudah mulai dia susun sejak dia pertama kali membuka mata.

[ Informasi telah direkam. Sistem merekomendasikan untuk mengidentifikasi minimal tiga ancaman terdekat dalam tujuh hari pertama. ]

Sudah satu, balas Chen Yuhan. Dua lagi.

Ancaman kedua datang lebih awal dari yang dia perkirakan.

Menjelang tengah malam, pintu kamar dibuka dengan sangat perlahan. Bukan pelayan yang bertugas — gerakannya terlalu hati-hati, terlalu terlatih, dan terlalu sadar bahwa dia tidak seharusnya ada di sini.

Seorang wanita paruh baya masuk. Rambut hitam ditata rapi, pakaian pelayan tapi dengan kualitas kain yang sedikit terlalu bagus untuk pelayan biasa. Wajahnya datar, tidak menunjukkan emosi apapun — tapi mata Chen Yuhan yang terlatih menangkap ketegangan halus di sudut bibirnya dan cara jarinya bergerak, menyentuh sesuatu di dalam lipatan lengan bajunya.

Wanita itu berdiri di dekat buaian, menatap ke bawah ke arah Chen Yuhan.

Chen Yuhan menatap balik dengan mata bayi yang kosong dan tidak berdaya.

Racun, simpulnya. Atau asphyxiation. Metode yang paling sulit dilacak untuk bayi yang baru lahir.

Tangannya — tangan mungil yang bahkan belum bisa menggenggam dengan sempurna — tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya tidak bisa bergerak cukup cepat. Dia tidak punya suara yang cukup kuat untuk membangunkan siapapun tanpa terdengar seperti tangisan bayi biasa.

Tapi dia punya sesuatu yang lain.

Paru-parunya mengembang.

Dan Chen Yuhan mengeluarkan tangisan paling keras, paling melengking, dan paling memilukan yang pernah dikeluarkan oleh bayi manapun di gedung ini.

Efeknya instan. Kedua pelayan di luar langsung membuka pintu. Sang ibu — Chen Mingzhi — yang ternyata belum tidur nyenyak, langsung terjaga dan memanggil nama anaknya dengan panik. Dua pengawal yang berjaga di ujung koridor berlari mendekat.

Wanita paruh baya itu tidak punya pilihan. Dalam sepersekian detik, dia mengganti ekspresinya menjadi wajah pelayan yang khawatir, dan berpura-pura baru saja masuk untuk memeriksa kondisi bayi yang menangis.

"Tenang, Tuan Muda kecil, tenang—"

"Kau siapa?" Salah satu pelayan yang masuk mengernyit. "Aku tidak mengenalmu. Kau bukan bagian dari tim yang ditugaskan malam ini."

Wanita itu tersenyum. "Pengurus Liang yang menyuruhku—"

"Pengurus Liang ada di paviliun utara sejak tadi malam. Beliau tidak kemana-mana."

Keheningan yang sangat singkat. Lalu kekacauan.

Chen Yuhan tidak melihat dengan jelas apa yang terjadi selanjutnya karena ibunya tiba-tiba meraihnya dari buaian dan memeluknya erat-erat, membelakangi kekacauan di belakangnya. Yang Chen Yuhan tahu, ada suara perlawanan singkat, suara jatuh, dan kemudian suara langkah kaki banyak orang yang semakin ramai.

Dia menangis terus selama beberapa menit lagi, bukan karena takut, tapi karena itu adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang yang paling masuk akal.

Seorang bayi yang baru lahir menangis di malam hari.

Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang bertanya kenapa.

Satu jam kemudian, kamarnya penuh sesak dengan orang-orang yang sibuk. Pengawal tambahan dipasang. Para pelayan lama diganti sementara. Ayahnya — yang rupanya langsung dipanggil begitu insiden terjadi — berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi yang Chen Yuhan baca sebagai campuran antara marah yang sangat terkontrol dan ketakutan yang sangat tersembunyi.

"Siapa yang mengirimnya?" tanyanya dengan nada rendah yang lebih menakutkan dari teriakan manapun.

"Kami masih menyelidiki, Tuan Muda Chen Wei."

Chen Wei. Chen Yuhan mencatat nama ayahnya.

"Selidiki lebih cepat." Chen Wei menatap buaian tempat Chen Yuhan berbaring, dan untuk sesaat — hanya sesaat — ekspresinya retak. Sesuatu yang sangat manusiawi muncul di balik topeng ketenangannya. "Dan gandakan penjagaan. Kalau terjadi sesuatu dengan anakku, aku yang akan meminta pertanggungjawaban dari semua orang yang ada di gedung ini malam ini."

Tidak ada yang berani menjawab.

Chen Yuhan menatap ayahnya dari dalam buaian. Kau punya kekuatan, simpulnya. Tapi kau juga punya musuh yang tidak takut padamu. Itu artinya mereka punya kekuatan yang setara, atau mereka merasa cukup aman untuk bergerak.

Peta mentalnya bertambah kompleks. Faksi paman — yang kemungkinan besar berada di balik pengiriman wanita itu — punya jaringan yang cukup untuk menyusupkan orang ke dalam kamar yang seharusnya dijaga ketat. Itu bukan kemampuan yang bisa dirakit dalam satu malam.

Mereka sudah mempersiapkan ini sejak sebelum aku lahir.

[ Analisis benar. Sistem mendeteksi bahwa ancaman terhadap hidupmu bersifat sistematis dan terencana, bukan impulsif. Disarankan untuk tidak bergantung sepenuhnya pada perlindungan pihak lain. ]

Aku tidak pernah bergantung sepenuhnya pada siapapun, balas Chen Yuhan datar. Bahkan di kehidupan sebelumnya.

Sang ibu masih menggendongnya, berbisik kata-kata menenangkan yang lembut di telinganya. Chen Yuhan bisa merasakan detak jantung wanita itu — masih cepat, masih tidak stabil karena ketakutan yang belum sepenuhnya reda. Tapi tangannya tidak gemetar. Genggamannya kuat dan tidak ragu.

Ibu yang tangguh, nilainya. Aset yang harus dijaga.

Menjelang subuh, situasi mulai mereda. Chen Wei pergi setelah memastikan semua penjagaan terpasang dengan benar. Para pelayan baru mulai bertugas dengan wajah-wajah yang sangat sadar bahwa mereka sedang diawasi ketat.

Dan Chen Yuhan akhirnya dibiarkan berbaring kembali di buaian, dalam keheningan yang jauh lebih terjaga dari sebelumnya.

Malam pertamanya di dunia ini hampir merenggut nyawanya. Dia bertahan bukan dengan kekuatan, bukan dengan teknik kultivasi, bukan dengan sistem yang luar biasa itu.

Dia bertahan dengan tangisan.

Chen Yuhan menatap langit-langit kamar sambil membiarkan Kultivasi Pasif bekerja mengisi tubuhnya dengan energi lunar yang tersisa menjelang fajar.

Dua ancaman teridentifikasi, catatnya dalam pikiran. Satu lagi.

Matanya perlahan menutup bukan karena ngantuk — tapi karena istirahat adalah keputusan strategis yang tepat untuk saat ini.

Besok masih panjang.

Bersambung ke Bab 3...

More Chapters