WebNovels

Chapter 2 - 01.TELAT

Kembali ke perjalanan kali ini, dari Ujung Berung aku naik angkot menuju Terminal Cicaheum.

Terminal di pagi hari selalu punya suasana yang khas. Pedagang kopi mulai membuka lapak, suara mesin bus terdengar bersahutan, dan orang-orang tampak sibuk dengan perjalanan mereka masing-masing.

Aku membeli tiket bus jurusan Bandung – Cianjur – Cipanas. Dalam perhitunganku, perjalanan ini seharusnya memakan waktu sekitar empat jam. Kalau semuanya berjalan lancar, paling lambat pukul sembilan pagi aku sudah sampai.

Entah kenapa aku malah berencana melakukan tektok ke Gunung Gede, padahal gunung ini bukan pendakian yang bisa dianggap ringan.

Alasannya?Aku sendiri juga tidak benar-benar tahu.

Rencanaku sebenarnya sederhana: turun di Cipanas, lalu naik ojek menuju gerbang pendakian Cibodas. Dari sana aku akan mulai mendaki menuju Kandang Badak, kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak Gede.

Perjalanan bus awalnya berjalan cukup lancar sampai memasuki jalur menuju kawasan Puncak. Tiba-tiba kendaraan mulai melambat.

Dari jendela terlihat antrean kendaraan yang panjang.

Ternyata ada perbaikan jalan akibat longsor kecil.

Bus hampir tidak bergerak cukup lama. Aku melihat jam di ponsel. Waktu sudah hampir pukul delapan pagi.

Biasanya pendaki yang melakukan tektok memulai pendakian jauh lebih pagi.

Perasaan gelisah mulai muncul.

Sekitar pukul sepuluh pagi akhirnya aku sampai di Cipanas. Tanpa membuang waktu aku langsung naik ojek menuju gerbang pendakian Cibodas.

Udara di sana terasa jauh lebih dingin dibandingkan Bandung. Hutan di sekitar gerbang tampak lembap dan diselimuti kabut tipis.

Aku melakukan registrasi seperti biasa. Petugas sempat melirik jam tanganku lalu berkata pelan,

"Kalau tektok jangan terlalu siang naiknya."

Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

Langkah pertama di jalur pendakian selalu terasa menyenangkan. Tanah yang lembap, akar-akar pohon besar yang menjalar di jalur, serta suara air dari sungai kecil membuat perjalanan terasa hidup.

Beberapa pendaki lain terlihat berjalan santai. Ada yang membawa carrier besar, jelas mereka berencana bermalam di atas.

Aku berjalan lebih cepat dari mereka.

Targetku sederhana: sampai di Kandang Badak sebelum sore, lalu melanjutkan perjalanan menuju puncak Gede.

Setelah beberapa jam mendaki aku melewati Pos Air Panas dan Kandang Batu. Tubuhku mulai terasa lelah, tetapi tenagaku masih cukup untuk terus melangkah.

Sekitar pukul dua siang akhirnya aku tiba di Kandang Badak.

Beberapa tenda sudah berdiri di sana. Tempat ini memang sering menjadi titik istirahat para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Aku duduk sebentar, hanya beberapa menit.

Di kepalaku ada dua pilihan: bermalam di sini atau langsung melanjutkan perjalanan.

Akhirnya aku memutuskan untuk lanjut.

Jalur menuju puncak Gede terasa jauh lebih sepi. Kabut mulai turun perlahan dan tanah di jalur terasa semakin licin.

Semakin jauh aku berjalan, semakin jarang aku mendengar suara pendaki lain.

Hutan di sekeliling terasa semakin sunyi.

Di sebuah jalur sempit di lereng yang cukup curam, meskipun tertutup semak-semak rimbun, tiba-tiba tanah di bawah kakiku bergeser.

More Chapters