WebNovels

Chapter 33 - Menara yang terlupakan

BOOOOOOOOM!

Benturan antara pedang cahaya Raka dan tinju raksasa sang dewa mengguncang dunia.

Gelombang energi menyapu langit.

Awan terbelah.

Laut di kejauhan terangkat seperti dinding raksasa.

Avatar Raka terdorong mundur beberapa kilometer di udara.

Tubuh energinya bergetar hebat.

Namun ia tetap berdiri.

Sementara itu—

makhluk raksasa dari dalam bumi hanya mundur satu langkah.

Tanah di bawah kakinya hancur seperti pasir.

Ia menatap Raka dengan mata yang bersinar gelap.

"Kau lebih kuat dari yang kuduga."

Raka mengepalkan pedangnya.

Energi dari seluruh menara terus mengalir ke tubuhnya.

"Dan aku belum selesai."

Ia melompat lagi.

Pedang cahaya raksasa itu menyala seperti matahari.

SLAAAASH!

Pedangnya menghantam bahu makhluk raksasa itu.

Untuk pertama kalinya—

kulit batu hitam sang dewa retak.

Cahaya gelap keluar dari luka itu.

Makhluk raksasa itu menatap lukanya.

Lalu tertawa pelan.

"Bagus."

"Sudah lama sekali aku tidak merasakan sakit."

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya.

GRAB!

Tangannya menangkap tubuh avatar Raka di udara.

Cengkeramannya seperti gunung yang menutup.

Raka berusaha melepaskan diri.

Namun tekanan dari tangan raksasa itu membuat tubuh energinya retak.

Aldren berteriak dari menara.

"RAKA!"

Makhluk raksasa itu mengangkat Raka tinggi-tinggi.

"Kau bagian dari jiwaku."

"Jadi aku tidak akan menghancurkanmu."

Matanya bersinar lebih terang.

"Aku hanya akan mengambilmu kembali."

Energi hitam mulai mengalir dari tangannya menuju tubuh Raka.

Cahaya merah di tubuh Raka mulai memudar.

Penjaga pertama berteriak.

"Dia mencoba menyerapnya!"

Makhluk dari jantung menara menggertakkan giginya.

"Kalau itu berhasil…"

"...dia akan menjadi utuh."

Namun tepat saat energi hitam hampir menelan seluruh tubuh Raka—

sesuatu terjadi.

Semua menara di dunia tiba-tiba berkedip.

Cahaya merah mereka bergetar.

Lalu—

sebuah cahaya emas muncul dari jauh di dalam bumi.

Bukan dari menara mana pun yang dikenal.

Penjaga pertama menoleh dengan mata terbelalak.

"Itu…"

Pria berambut putih berbisik.

"Mustahil."

Dari kedalaman bumi—

sebuah menara baru muncul perlahan.

Menara itu jauh lebih tua dari semua menara lain.

Batu-batunya berwarna emas pucat.

Dan di puncaknya berdiri seorang pria tua.

Rambutnya putih panjang.

Jubahnya sederhana.

Namun matanya bersinar seperti bintang.

Ia menatap pertempuran di langit.

Lalu menghela napas panjang.

"Sudah terlalu lama."

Suara pria itu tiba-tiba terdengar di seluruh dunia.

Bahkan sang dewa raksasa menoleh ke arahnya.

"Kau…"

Makhluk raksasa itu menyipitkan matanya.

"Aku mengenalmu."

Pria tua itu tersenyum kecil.

"Ya."

Ia mengangkat tangannya perlahan.

Semua menara di dunia langsung bergetar.

"Karena aku yang membangunnya."

Semua orang di menara utama langsung membeku.

Aldren berbisik pelan.

"Pencipta menara…?"

Pria tua itu mengangguk.

Namanya terlupakan oleh sejarah.

Namun dulu dunia memanggilnya satu hal.

Arsitek Dunia.

Ia menatap Raka yang masih terjebak di tangan dewa.

"Lepaskan anak itu."

Makhluk raksasa itu tertawa keras.

"Kau tidak bisa menghentikanku lagi."

Arsitek Dunia menghela napas pelan.

"Benarkah?"

Ia mengetuk tongkatnya ke tanah.

TOK.

Sekejap—

semua menara di dunia berubah warna.

Dari merah…

menjadi emas.

Energi yang mengalir di jaringan menara berubah.

Avatar Raka tiba-tiba bersinar terang.

Energi hitam yang menyerapnya langsung terpental.

Makhluk raksasa itu terpaksa melepaskan cengkeramannya.

Raka jatuh sebentar—

lalu melayang lagi di udara.

Namun kali ini…

tubuh energinya tidak hanya merah.

Ada cahaya emas di dalamnya.

Arsitek Dunia menatap Raka dengan tenang.

"Kau memang bagian dari jiwanya."

Ia menunjuk dewa raksasa itu.

"Tapi kau juga sesuatu yang lebih."

Raka menatapnya.

"Apa maksudmu?"

Pria tua itu tersenyum tipis.

"Karena aku tidak hanya memecah jiwanya."

Langit menjadi sunyi.

Semua orang menunggu kata berikutnya.

Arsitek Dunia melanjutkan.

"Aku juga menciptakan sesuatu yang bisa membunuhnya."

Raka terdiam.

Makhluk raksasa itu menatapnya dengan mata menyala.

"Tidak mungkin…"

Arsitek Dunia menunjuk langsung ke Raka.

"Senjata itu…"

Angin berhenti berhembus.

"...adalah dirimu."

Langit kembali bergetar.

Energi emas dan merah di tubuh Raka menyatu.

Dan untuk pertama kalinya—

aura yang keluar dari tubuhnya membuat bahkan sang dewa raksasa mundur satu langkah.

Perang untuk dunia akhirnya memasuki tahap terakhir.

More Chapters