Langit
itu berwarna merah
Gadis
itu masih masih berlari, terus berlari bagaikan anjing yang kemalaman pulang.
Dan memang, di kala itu malam telah datang. Hujan renyai yang turun semenjak
sore tadi, yang semula hanya rintikan-rintikan kecil. Kini semakin deras
seiring meningginya malam. Sesekali Kilatan petir dengan garang
menyambar-nyambar di tengati kegelapan angkasa.
Gadis
itu kedinginan. Namun dia tetap berlari. Nafasnya terengah-engah. Tak jarang ia
terjatuh dan tersungkur dalam kubangan lumpur. Namun ia tak punya pilihan, ia
terus bangkit dan kembali berlari menembus kegelapan malam. Hingga ketika la
kelelahan, sangat kelelahan dan tak lagi mampu untuk berlari, la mulai berjalan.
Langkahnya mulai limbung dan gontai. Kedua matanya berkunang-kunang. la merasa
ingin pingsan. Namun sebelum hal itu terjadi, dari belakang sepasang tangan
kekar membekap mulutnya.
***
Sore
itu, semuanya tampak terlihat baik-baik saja. Sorot mentari yang hendak pulang
ke peraduan tampak begitu indah bersemarak memantulkan semburat jingga
berpendar keemasan menyemai langit. Membuat siapa pun merasa damai dan tentram
memandangnya. Harusnya begitu. Namun sebelum senja benar-benar sirna, sebelum
malam benar-benar membentang, sekonyong-konyong kabut hitam membumbung tinggi
menutupi angkasa, seakan hendak menyaingi kemegahan sang senja.
Itu
adalah asap kebakaran.
Suasana
berubah seketika. Teriakan terdengar berpijar di mana-mana. Desingan peluru
yang dimuntahkan senapan penjajah meningkahi hari yang nahas itu.
Para
penduduk berhambur keluar untuk melarikan diri. Di antara mereka yang masih
lajang lari tunggang-langgang lebih kalap dari mereka yang telah berkeluarga.
Semuanya lari kecuali para pemuda yang cukup bernyali untuk maju melawan. Semua
yang bisa dijadikan senjata dikeluarkan. Mulai dari keris, golok, cangkul
hingga sebatas bambu runcing pun mereka gunakan.
Dalam
sekejap pedukuhan tampak kacau balau, darah berceceran di mana-mana.
Pertempuran yang jelas tidak seimbang. Para pribumi tak ubah layaknya se-gerombolan
domba yang hendak menyerahkan nyawa di tangan para penjagal.
Saat
kegaduhan terjadi, Rahmat yang baru saja pulang seusai memimpin jema'at di
dekat alun-alun langsung bergegas pulang menuju rumahnya. Dan alangkah
terkejutnya ia ketika mendapati banyak rumah terbakar, harta benda dijarah, dan
para perempuan muda dijadikan tawanan. Ia tak mengerti apa gerangan yang
membuat desanya dinerakakan seperti itu. Hingga ia melihat seorang di antara
mereka yang nampak sebagai pemimpin pasukan mengacungkan senapan laras panjang
ke langit.
"Dor!
dor! dor!"
Seketika
pertempuran berhenti. Pandangan semua orang tertuju pada lelaki itu.
"Hei
kalian para pribumi! Hentikan perlawanan kalian yang sia sia. Kami telah
mendapatkan informasi bahwa di desa ini terdapat gerakan pembelot atas
kekuasaan bangsa kami yang kini berdaulat!" ucapnya dengan nada tinggi dan
dingin, terkesan merendahkan.
"Jika
di antara kalian dapat menangkap hidup-hidup pemimpin pemberontakan yang
bersembunyi di sini, maka akan kubebaskan ia dari kenistaan dan akan kuberikan ia
jabatan yang tinggi di sisiku."
Setelah
berkata demikian, la lantas memberi isyarat pada pasukannya untuk melucuti para
pribumi dan menawan mereka termasuk para gadis dan anak-anak untuk dibawa ke
bangsal militer.
***
"Dimana
Kinara!?" tanya Rahmat pada Sarah, istrinya.
"la
kusuruh lari ke hutan untuk mengabarkan kondisi ini pada pasukan gerilya." Ujar
Sarah sembari menatap lamat-lamat mata suaminya.
Rahmat
terbelalak.
Kenapa
harus dia!? bukankah banyak pemuda di desa yang bisa melakukannya?" seloroh
rahmat sembari menekan suaranya.
"Kinara
masih kecil, ia bisa menyelinap dan kabur dengan mudah. Dia juga lebih aman
bersama mereka... Aku tak ingin Kinara tertawan seperti kita dan dijadikan
gundik di kemudian hari." Ucap Sarah sembari menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Rahmat
terkesiap.
"Tidak,
Kinara Lebih berharga dari itu." tukasnya lirih.
***
Suasana
mencekam menyelimuti ruang bangsal. Para pribumi termasuk Rahmat dan istrinya
menjadi pesakitan yang menunggu giliran tiba untuk masuk ke ruang interogasi.
Tak jarang terdengar suara sabetan rotan diikuti teriakan dan rintihan dari
dalam ruangan.
Mereka
berdua tak henti berdo'a agar Kinara, putri semata wayangnya tak tertangkap
oleh kompeni. Hingga ketika giliran mereka tiba, mendadak datang seorang kadet
membawa seorang gadis kecil.
Rahmat
dan istrinya terlonjak kaget, hal yang dikhawatirkan pada akhirnya terjadi
juga. Gadis itu basah kuyup. Pakaian yang ia kenakan penuh dengan lumpur. Kaki
dan tangannya diikat. Mulutnya juga dibekap. la diseret begitu saja oleh si
kadet.
Melihat
dua pesakitan di hadapannya terkejut, sang komandan tersenyum. Tidak, ia menyeringai.
Rahmat
dan istrinya langsung bersimpuh.
"Tolong
jangan sakiti putri kami Tuan. Dia masih kecil. Dia adalah putri tunggal kami.
Kumohon lepaskanlah dia. Tuan boleh melakukan apa pun padaku. Tapi tolong
biarkan istri dan anakku bebas." Pinta Rahmat memelas. la semakin mengeratkan
pelukanya pada kaki si komandan.
Lelaki
itu tertawa. lantas mengenyahkan tangan Rahmat dari kakinya dan menendang
Rahmat tepat diwajahnya.
"Dukk!!!"
Pesakitan itu tersungkur.
"Singkirkan
tangan kotormu, keparat! Kau mengotori pakaianku." Hardiknya.
Gurat
wajah Sarah menegang. Ia yang semenjak tadi hanya diam mematung, kini langsung
beringsut sujud sembari menggelayuti kaki sang komandan untuk memelas menggantikan
suaminya.
Air
matanya berjatuhan.
Lelaki
angkuh itu kembali menyeringal. la menggamit dagu Sarah dan menatapnya
lekat-lekat. Pandangan matanya terlihat menyimpan sesuatu.
"Baiklah,
tapi ini belum cukup." Ujarnya lirih.
Rahmat
yang tersungkur seketika menengadah.
"Berbahagialah
karena aku masih sudi bermurah hati! aku akan menjamin keselamatan putri
kecilmu dengan satu syarat."
***
Waktu
terus melaju menembus dan menyibak tangan takdir. Tak peduli kau suka atau
tidak, waktu akan terus berputar. Terlepas dari itu, karna waktu adalah
gabungan massa dan frekuensi yang akan melebur menjadi suatu esensi yang
darinya terlahirlah harapan, penyesalan dan kenangan, lantas daripada itu...
"Blarrr!!!"
Kobaran
api terlihat membumbung tinggi meluluhlantakkan apa pun yang dilaluinya.
"Bangun!
Bangun!"
"Kita
diserang!"
"Cepat
padamkan apinya!"
Kepanikan
terjadi.
"Ketua,
gudang persenjataan bambu runcing kita terbakar!"
"Ini
buruk, rerumpunan pohon bambu di sekitar jurang juga telah terbakar!" ujar yang
lain.
Mendengar
itu semuanya terhenyak. Mereka tercenung memandang kobaran api yang tak kunjung
padam. Gurat keputusasaan jelas terpampang dari wajah mereka.
***
"Makanlah
Kinara..." ujar sarah sembari mengarahkan sesuap bubur pada mulut putrinya.
Gadis
itu menggeleng.
"Kamu
harus makan supaya cepat sembuh, Sayang" Bujuk sang ibu.
"Ibu
bohong! Katanya sebentar lagi ayah pulang?"
"Iya,
sebentar lagi ayah juga akan pulang, Kinara. Nah, sekarang kamu makan dulu, ya."
Ujar sang ibu sambil kembali mendekatkan sendok ke mulut putrinya.
"Tapi
kapan Bu? sudah satu bulan Ayah belum pulang."
***
14 Februari
1945
Pemberontakan
PETA berkobar. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Bumi Nusantara banjir darah.
Korban berjatuhan tak hanya dari kalangan tentara Jepang dan pribumi, melainkan
mereka yang masih ketahuan memiliki darah keturunan Belanda juga tak luput dari
tragedi berdarah itu. Para tentara Jepang yang berhasil melumpuhkan titik-titik
strategis terus merangsek maju seolah ingin menyapu bersih bumi Jawa dari
mahluk hidup.
Sementara
itu, di sisi lain, tampak seorang lelaki terlihat tengah dihajar habis-habisan
oleh pasukan gerilya karena ketahuan telah membakar persediaan rumpun bambu dan
gudang persenjataan. Termasuk puluhan bambu runcing yang ditanam dengan kondisi
berdiri di dalam parit untuk jebakan.
Sebenarnya
ia hendak lari setelah melakukan aksinya. Namun malang tak dapat dihindari.
Kaki sebelah kirinya tertembak dalam pengejaran. Ia hanya bisa pasrah menerima
tendangan dan pukulan bertubi-tubi dari mereka. hingga aku datang dan terkejut
mendapati pengkhianat itu adalah seseorang yang kukenal dengan baik. Seketika
aku melompat dan melerai mereka. Kucengkeram erat-erat kerah bajunya, la
tersenyum.
"Hei...
Apa maksud semua ini, Mat!?"
"Zak...
tolong jaga Kinara untukku." Suaranya bergetar. Air-matanya meleleh.
"Apa
maksudmu?"
Rahmat
meletakkan tangannya di bahuku. la meremasnya kuat.
"Aku
dijebak, keluargaku ditangkap. Mereka hendak menjadikan istri dan anakku
sebagai gundik." Rahmat menghentikan kata-katanya. Ia terbatuk-batuk, batuk
yang sangat dalam. Darahnya mengenai wajahku.
Hatiku
remuk redam. Iba sekaligus tak menyangka dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Sorot
cahaya dari matanya memudar. Rahmat lalu menghirup nafas dalam-dalam. Aku
semakin mengeratkan rengkuhanku pada tubuhnya.
"Rozak...
Jaga baik-baik dirimu."
"Ze
willen jou....."
Belum
sempat Rahmat meneruskan kata-katanya, sebuah peluru tepat melayang mengenai
kepalanya.
"Dorrr!!!"
Aku
terbelalak dan menoleh ke belakang. Membaringkan tubuh Rahmat yang tak lagi
bernyawa ke tanah. Lantas berjalan menghampiri Sidin.
"Apa
yang kau lakukan!? Bukankah dia sudah tak berdaya?! Dia tak melakukan
perlawanan apa pun!" Ucapku setengah berteriak.
"Ketua
terlalu lembut padanya. Dia adalah pengkhianat. Sudah Jelas-jelas dia telah
berusaha membunuh kita dengan membakar seluruh persediaan senjata. Ini adalah
hukuman yang pantas untuknya, Ketua.
"BUKAN
KAU YANG MEMBERI KEPUTUSAN DI SINI, KEPARAT! DIA DIJEBAK! DIA HANYA INGIN
KELUARGANYA SELAMAT DARI TAWANAN KOMPENI!"
Belum
sempat aku menyelesaikan kata-kataku. Tiba-tiba terdengar suara tembakan
bertalu-talu.
"Dor!
Dor! Dor!"
"Ketua!
Ketua! Tentara Jepang telah datang!"
Keadaan
berubah menjadi semakin pelik. Tentara Jepang tak memberikan belas kasih sama
sekali. Semua pasukan gerilya, yang tak semua memiliki senjata, satu- persatu
mulai roboh terkena tembakan mereka. Darah bercucuran. Kobaran api membumbung
menjilati langit malam.
***
Sarah
merasa sesuatu tengah terjadi. Firasatnya tak enak. la semakin mengeratkan
pelukannya pada Kinara sambil terus-menerus memandangi langit malam.
Kinara
menengadah.
Matanya
tak henti-hentinya menatap angkasa. Lalu dengan polosnya ia tersenyum. la
mengangkat jemari kecilnya yang lentik ke atas langit, lantas berujar...
"Ibu...
langit itu berwarna merah."
*Ze willen jou, (mereka menginginkanmu)
***
Onderdrukking
laat bloed en tranen achter.
(Penindasan
meninggalkan darah dan air mata.)
Waar
onrecht heerst, vloeien bloed en tranen.
(Di
mana ketidakadilan berkuasa, darah dan air mata mengalir.)
Uit
onderdrukking worden bloed en tranen geboren.
(Dari
penindasan lahir darah dan air mata.)
Bloed
op de grond, tranen in stilte.
(Darah
di tanah, air mata dalam diam.)
Geen
vrijheid zonder bloed en tranen.
(Tak
ada kebebasan tanpa darah dan air mata.)
