"Adiva… bangun sekarang juga!" teriak Tina, menyeret selimut tebal yang menutupi tubuh Adiva. Suaranya nyaring, penuh tekanan, seolah tak peduli pagi yang baru saja mulai.
Adiva meringkuk, menutup wajahnya dengan bantal. "Bu… biarkan aku tidur sebentar lagi… aku masih mengantuk," protesnya pelan, suaranya serak karena kurang tidur.
"Tidak ada alasan untuk bermalas-malasan!" bentak Tina. "Aku tidak peduli kamu capek! Cukup, tidur itu bukan alasan!"
Adiva menelan ludah, tangannya mencengkeram selimut dengan erat. Hatinya berdebar kencang, tapi ia berusaha menatap mata Tina tanpa menunduk. "Bu… aku baru pulang tadi pukul tiga dini hari dari rumah Pak RT, kerja di acara hajatannya. Aku… capek, Bu… capek banget," suaranya nyaris terdengar patah, tapi masih ada keberanian di dalamnya.
Tina menatapnya dingin, tanpa belas kasihan. "Capek? Itu urusanmu sendiri. Di rumah ini, yang penting hanyalah aturan… dan kamu harus patuh."
Adiva menggigit bibirnya, menahan rasa marah sekaligus sedih. Hatinya ingin menjerit, tapi ia tahu menentang akan sia-sia. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menarik napas panjang, menyiapkan diri menghadapi hari yang sepertinya tidak akan pernah mudah.
"Bangun!" teriak Tina lagi, suaranya seperti perintah yang tidak bisa ditawar.
Adiva perlahan duduk di kasur, kantuk dan lelah seakan menekan setiap ototnya. Ia menahan napas, mencoba menenangkan detak jantung yang memuncak.
"Serahkan hasilnya pada Ibu!" pinta Tina, menengadahkan telapak tangan di depan Adiva, matanya menatap tajam seolah menuntut kepatuhan total. Adiva menunduk sebentar, genggaman tangannya bergetar sedikit sebelum perlahan meraih benda yang dimaksud.
Sebelum tangan Adiva sempat meraih amplop coklat itu, Tina sudah lebih dulu menariknya dengan paksa.
"Ini uang untukmu! Pergi sana, cari kerja!" perintahnya tegas, suaranya bergema di seluruh kamar.
Adiva menatap amplop itu, tubuhnya lelah dan gemetar. "Tapi… Bu… ke mana aku harus cari kerja?" suaranya nyaris berbisik, penuh kebingungan dan ketakutan.
"Ke kota sana! Mana ada pekerjaan untukmu di sini? Cepat bersiap dan pergi!" Tina membentak sambil melangkah keluar kamar, meninggalkan Adiva sendirian.
Adiva menunduk, merangkul kedua lututnya, dan air matanya mulai menetes. Hatinya memanggil-manggil kedua orang tuanya yang telah tiada. "Bapak… Ibu…" isaknya, suaranya tercekat di tenggorokan.
Dari bawah kamar, terdengar teriakan Tina yang memotong kesedihan itu, "Adiva! Cepat! Bagaimana bisa kamu cari kerja kalau lelet begitu? Jangan cuma diam di situ!"
Adiva menunduk lebih dalam, tubuhnya gemetar. Hatinya sakit, takut, dan kesepian sekaligus. Tapi di antara semua itu, ada sesuatu yang berdesir di dalam dirinya—sebuah tekad kecil yang menunggu untuk muncul.
Adiva berdiri, tubuhnya bergemetar, air mata tak henti-hentinya mengalir. Dengan tangan gemetar, ia mengambil beberapa pakaian yang diperlukan sebelum pergi ke kota. Matanya jatuh pada uang yang diberikan Tina—selembar uang berwarna pink tergeletak di tangannya.
Dengan langkah gontai, Adiva masuk ke kamar mandi, membersihkan wajahnya, menyisir rambut, dan berpakaian sebaik mungkin—seolah ia akan melamar pekerjaan di perusahaan besar. Persiapan ini memberi sedikit rasa kontrol di tengah kekacauan yang ia rasakan.
Setelah siap, Adiva menuruni anak tangga, lalu duduk untuk sarapan seadanya. Setelah itu, ia berpamitan, suaranya nyaris tidak terdengar, campuran lelah, takut, sedih, dan kebingungan membuat kata-katanya tercekat.
"Adiva… ingat, kamu harus setor tiap bulan ke Ibu! Jika tidak, Ibu akan jual rumah ini!" Tina menegaskan ancamannya, matanya menatap tajam dari lantai bawah.
"Jangan, Bu… Adiva akan setor, Adiva janji itu… kalau Adiva dapat pekerjaan," jawab Adiva, suaranya pelan tapi tegas. Dalam hatinya, ia masih bingung—ke mana ia harus mencari pekerjaan, dan bagaimana memulai hidup yang terasa begitu berat ini.
Adiva berjalan gontai tanpa tujuan di jalan yang dipenuhi orang-orang berlalu lalang. Ia kemudian terduduk di sebuah bangku taman, tubuhnya terasa semakin lemah.
"Ke mana aku harus pergi?" keluhnya lirih. Hatinya perih saat menyadari dirinya tak lagi memiliki sanak saudara untuk tempat bersandar.
Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Tidak ada tempat bernaung, tidak ada orang tua yang bisa ia panggil pulang—pikiran itu begitu menyesakkan dadanya. Rumah satu-satunya yang dulu melindunginya dari panas dan hujan kini telah dikuasai oleh ibu tirinya.
Tangisnya tak kunjung reda. Ia benar-benar kebingungan, termenung lama memikirkan ke mana langkahnya harus diarahkan.
Tak lama kemudian, sebuah nama terlintas di benaknya—Raka, sahabat lamanya yang kini bekerja di kota.
Adiva segera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Raka, lalu menekan tombol panggil dengan jari yang sedikit gemetar.
Tak lama, sambungan itu terhubung.
"Halo, Adiva… ke mana saja kamu?" sapa Raka riang, suaranya terdengar cerah dari seberang sana.
"Raka…" ucap Adiva pelan, suaranya tersendat dan nyaris tak terdengar.
Ada jeda panjang. Napasnya terdengar berat, seolah setiap kata yang ingin keluar tertahan oleh sesak di dadanya. Tangis yang ia tahan membuat suaranya terdengar begitu memilukan.
Raka terdiam. Keceriaan di wajahnya seketika memudar. Ia terhenyak kaget mendengar nada suara Adiva yang tak biasa.
"Adiva… kamu kenapa?" tanyanya, kali ini dengan nada serius dan penuh kekhawatiran.
"Raka…" panggil Adiva, suaranya masih tertahan, napasnya tak teratur.
"Ada apa? Cerita sama aku… Va," pinta Raka lembut, jelas ia benar-benar cemas.
Adiva akhirnya tak sanggup menahan semuanya. Dengan suara bergetar dan isak yang sesekali memutus kalimatnya, ia menceritakan bagaimana dirinya diusir dari rumah. Ia hanya diberi uang seratus ribu rupiah dan dipaksa pergi ke kota untuk mencari pekerjaan—padahal ia sendiri tidak tahu harus melangkah ke mana.
"Ka… aku janji bakal bayar semuanya ke kamu… asal aku bisa ke kota dulu. Di sana aku akan cari kerja, lalu pindah… aku nggak mau merepotkanmu," ucapnya terbata, masih dalam kebingungan dan ketakutan.
Di ujung telepon, Raka terdiam beberapa detik. Suaranya tak lagi setenang tadi.
"Ka… bagaimana? Apa aku bisa pinjam uang supaya bisa pergi ke kota?" tanya Adiva pelan ketika di seberang sana Raka terdiam cukup lama.
"Adiva… kamu nggak perlu pikirkan soal itu sekarang. Kamu di mana? Biar aku jemput," ucap Raka cepat, nada suaranya penuh kekhawatiran.
"Nggak usah, Ka… aku takut kamu repot. Kamu kan sedang kerja," tolak Adiva, merasa tidak enak hati.
"Kalau begitu, kamu naik bus saja. Nanti turun di terminal kota, aku yang jemput. Uang yang kamu pegang masih cukup buat ongkos, bahkan masih ada sisa," jelas Raka, berusaha menenangkan tanpa terdengar memaksa.
Adiva pun akhirnya menyetujui saran Raka, Ia pun berjalan menuju terminal, lalu menaiki bus menuju kota di mana Raka berada.
Selama di perjalanan, Adiva terus meneteskan air mata. Ia tak tahu harus bekerja di mana, sementara uangnya hanya tersisa sedikit.
Kesempatannya tinggal satu kali. Jika gagal, ia tak punya tempat untuk kembali.
Bersambung…
