WebNovels

Chapter 2 - BAB 2 MASUK KE KOTA SEBAGAI ORANG BIASA

Aku berdiri lama di tengah padang rumput, menatap monster babi bertaring yang tergeletak pingsan di bawah pohon.

Angin bertiup pelan.

Burung berkicau.

Dunia terlihat damai.

"…aku beneran hidup," gumamku.

Tanganku masih menggenggam sandal jepit biru—senjata legendaris yang barusan menjatuhkan monster dunia lain. Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk antara bangga, takut, dan malu.

"Kalau orang lain reinkarnasi bawa pedang suci," kataku pada diri sendiri, "aku bawa sendal kamar mandi."

[ Sistem ]

Catatan: Jangan merendahkan senjata sendiri

Efek Psikologis Negatif Terdeteksi

"Kamu terlalu sensitif, Sistem."

Perutku kembali berbunyi, kali ini lebih keras.

[ Sistem ]

Status: Lapar Berat

Peringatan: Pingsan dalam 2 jam jika tidak makan

"Oke, oke, aku cari makan."

Aku melihat sekeliling. Tidak ada rumah. Tidak ada orang. Hanya padang rumput, pohon, dan monster pingsan yang sebaiknya tidak kuusik lagi.

Aku memilih berjalan mengikuti arah matahari, berharap menemukan sesuatu yang mirip peradaban manusia. Setidaknya ada warung. Atau tukang bakso dunia lain. Aku tidak pilih-pilih.

Setelah berjalan hampir setengah jam, akhirnya aku melihat jalan tanah. Jalan sungguhan. Ada bekas roda kereta dan jejak kaki.

"Alhamdulillah," kataku.

Aku mengikuti jalan itu, dan tak lama kemudian, tampak tembok batu di kejauhan. Di atasnya ada menara penjaga.

"Kota," gumamku lega.

Langkahku otomatis dipercepat.

Gerbang kota terbuka lebar. Dua penjaga berdiri di kiri kanan. Mereka memakai baju zirah ringan dan membawa tombak.

Saat aku mendekat, salah satu penjaga mengangkat tangan.

"Berhenti."

Aku refleks berhenti.

"Nama?" tanyanya.

"Raka."

"Asal?"

Aku terdiam.

Asal mana?

Indonesia jelas bukan pilihan aman.

"…dari jauh," jawabku akhirnya.

Penjaga itu menyipitkan mata.

"Seberapa jauh?"

"Sangat jauh."

Dia menatapku dari ujung kepala sampai kaki. Pakaianku sederhana, tidak kotor, tapi jelas bukan pakaian bangsawan.

"Tujuan masuk kota?"

"Cari… makan," jawabku jujur.

Perutku berbunyi seolah mendukung pernyataanku.

Penjaga itu mendengus kecil.

"Masuklah. Jangan buat masalah."

Aku hampir menangis bahagia.

Begitu masuk kota, mataku langsung sibuk ke mana-mana.

Bangunan batu dua lantai. Pedagang berjejer. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian beragam—petualang, pedagang, tentara, anak-anak.

Ini benar-benar dunia lain.

"Tenang, Raka," gumamku. "Kamu cuma orang biasa."

Kalimat itu membuat dadaku sedikit sesak, tapi aku mencoba mengabaikannya.

Fokusku hanya satu: makanan.

Aku menemukan kios roti. Bau gandum panggang langsung menyerang hidungku.

Aku mendekat.

"Permisi," kataku. "Saya mau roti."

Penjualnya, pria paruh baya bertopi kain, tersenyum ramah.

"Tentu. Dua roti gandum. Empat koin tembaga."

Aku mengangguk… lalu membeku.

Empat koin tembaga.

Masalahnya, aku tidak punya apa-apa.

Tanganku masuk ke saku. Kosong. Saku lain. Kosong.

Keringat dingin mulai muncul.

Aku tertawa kecil, mencoba terlihat santai.

"Hehe… soal pembayaran…"

Penjual itu menatapku curiga.

Aku panik.

[ SKILL AKTIF ]

Dompet Imajinasi (Lv.1)

Efek: Saat malu ekstrem, aura sosial palsu meningkat drastis

Tiba-tiba, suasana berubah.

Penjual itu membelalakkan mata.

"E-eh?!"

Aku berkedip.

Dia buru-buru membungkuk.

"M-maafkan saya, Tuan!"

"Hah?"

Orang di sekitar mulai melirik.

"Tuan bangsawan!" lanjutnya gugup. "Maafkan saya tidak mengenali Anda!"

Aku hampir tersedak udara.

"Apa?"

Aku melihat ke sekeliling. Beberapa orang ikut menunduk. Ada yang berbisik.

"Bangsawan dari luar negeri…"

"Pakaiannya sederhana tapi auranya…"

"Pasti orang penting."

Aku ingin menyangkal, tapi mulutku terasa kaku.

[ Sistem ]

Saran: Ikuti alur untuk bertahan hidup

"…iya," kataku pelan, asal. "Tidak apa-apa."

Penjual itu langsung menyodorkan roti.

"Silakan! Gratis! Anggap saja persembahan kecil!"

Aku menerima roti itu dengan tangan gemetar.

"…terima kasih."

Aku pergi dengan langkah cepat sebelum kebohongan ini runtuh.

Begitu sampai di gang sepi, aku langsung duduk dan melahap roti itu.

"Enak," gumamku sambil makan. "Dan gratis."

[ Sistem ]

Peringatan Moral: Kebohongan terdeteksi

Catatan: Namun efektif

"Kamu membela aku atau menghakimi sih?"

Setelah perutku terisi, otakku mulai bekerja lebih jernih.

Aku perlu tempat tinggal. Dan informasi. Dan uang. Dan… semuanya.

Aku berjalan tanpa tujuan sampai akhirnya melihat papan kayu bertuliskan "Guild Petualang".

"Guild," gumamku. "Klasik."

Aku masuk.

Ruangan luas, ramai, penuh petualang. Ada papan misi besar di dinding. Suara tawa, debat, dan gelas beradu memenuhi udara.

Begitu aku masuk, beberapa orang menoleh.

Aura bangsawan palsuku masih aktif rupanya.

Seorang resepsionis wanita berambut cokelat pendek menatapku.

"Selamat datang," katanya. "Ada yang bisa kami bantu?"

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Apa yang harus kukatakan?

"Aku mau kerja," akhirnya aku berkata.

Raut wajahnya sedikit berubah.

"Tuan ingin mendaftar sebagai petualang?"

"Iya."

"Baik," katanya sopan. "Tapi… mohon maaf, Tuan tampaknya—"

Dia ragu.

"…bukan bangsawan sungguhan?"

Aku terdiam.

Detik itu terasa lama.

[ SKILL AKTIF ]

Ngeles Otomatis (Lv.1)

Efek: Mulut bergerak lebih cepat dari otak

"Aku bangsawan yang sedang… uh… studi lapangan," ucapku cepat.

"Studi lapangan?"

"Iya. Sosial. Inkognito."

Ruang guild mendadak hening.

Beberapa petualang menoleh.

"…keren," gumam seseorang.

Resepsionis itu berkedip beberapa kali.

"Saya… mengerti."

Aku sendiri tidak mengerti apa yang baru saja kukatakan.

Setelah proses pendaftaran yang entah kenapa lancar, aku mendapatkan kartu petualang perunggu.

Aku menatap kartu itu lama.

"Jadi aku sekarang petualang?"

[ Sistem ]

Status Baru: Petualang Pemula

Catatan: Bertahan dulu baru berkembang

Saat aku berbalik, aku menabrak seseorang.

"Eh, maaf—"

"Lihat jalan dong!"

Aku menoleh.

Seorang gadis berdiri di depanku. Rambut cokelat panjang diikat sederhana. Mata tajam. Pakaian petualang ringan. Pedang pendek di pinggangnya.

Dia menatapku dari atas ke bawah.

"Kamu petualang baru?" tanyanya.

"Iya."

"Bangsawan?"

"…katanya."

Dia mendengus.

"Kamu bohong."

Aku kaget.

"Kok tahu?"

"Bangsawan nggak mungkin gugup waktu kartu petualang dipegang."

Aku menatap kartu di tanganku. Tanganku memang gemetar.

"Namaku Lila," katanya. "Petualang perunggu. Kamu sendirian?"

"Iya."

Dia menghela napas.

"Aku butuh partner. Kamu kelihatan… aneh tapi beruntung."

"Beruntung?"

"Aura orang yang belum mati walau seharusnya sudah."

"…itu pujian?"

"Kira-kira."

[ Sistem ]

Partner Potensial Ditemukan

Rekomendasi: Terima

Aku menatap Lila, lalu menatap dunia sekeliling.

Aku tidak punya apa-apa.

Tidak punya rencana.

Tidak punya pilihan.

"Oke," kataku. "Kerja sama."

Lila tersenyum kecil.

"Bagus. Besok kita ambil quest."

Aku menelan ludah.

Quest.

Petualangan sungguhan.

Saat aku berjalan keluar guild, aku mendongak ke langit senja.

"Aku cuma orang biasa," gumamku.

"Tapi dunia ini… sepertinya tidak peduli."

[ Sistem ]

Alur Cerita Meningkat

Status: Tidak Bisa Mundur

Aku tersenyum kecut.

"Baiklah," kataku pelan.

"Kalau harus nanggung, sekalian saja."

Dan tanpa kusadari,

langkah pertamaku di dunia ini

baru saja benar-benar dimulai.

More Chapters