WebNovels

Chapter 14 - Bab 14: Persiapan Badai di Lembah Pedang

Malam di pinggiran Metropolis biasanya diwarnai oleh dengung trafo listrik dan suara angin yang menyapu gedung-gedung beton, namun di sekitar Villa Nomor Sembilan, atmosfer mendadak menjadi sangat sunyi, seolah-olah alam sendiri sedang menahan napas dalam ketakutan yang murni. Udara di sekitar villa itu tidak lagi terasa seperti oksigen biasa; ia terasa berat, padat, dan membawa muatan statis yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendekat berdiri tegak. Ini bukan fenomena cuaca, melainkan pancaran dari Pembersihan Darah Tahap 4 milik Ling Feng yang mulai beresonansi dengan energi alam sekitarnya.

Di dalam aula utama villa yang luas, cahaya dari lampu gantung kristal diredupkan hingga hanya menyisakan keremangan yang mencekam. Di tengah ruangan, sebuah meja jati kuno yang sangat besar telah disulap menjadi pusat komando taktis. Di atasnya, proyeksi hologram tiga dimensi dari Pegunungan Barat nampak berdenyut redup. Gunung-gunung itu digambarkan dengan warna merah darah, menandakan zona terlarang yang selama ratusan tahun tidak pernah berani disentuh oleh otoritas sipil Metropolis.

Ling Feng duduk di ujung meja, posisinya tegak dengan punggung yang tidak menyentuh sandaran kursi, memberikan kesan seorang kaisar yang sedang memimpin dewan perang. Matanya, yang kini memiliki rona ungu yang dalam dan tenang, menatap tajam ke arah sebuah lembah yang berbentuk seperti bekas luka di permukaan bumi—markas besar Lembah Pedang Tersembunyi.

"Tuan Ling," Qin Zhen memulai laporannya. Suaranya sedikit bergetar, bukan karena kedinginan, melainkan karena tekanan aura yang secara tidak sadar dilepaskan oleh Ling Feng. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen intelijen yang sangat rahasia. "Lembah Pedang telah menutup seluruh akses keluar-masuk sejak dua jam yang lalu. Mata-mata kita di kaki gunung melaporkan bahwa mereka telah mengaktifkan [Array Sembilan Segel Pengunci Jiwa]. Ini adalah formasi pertahanan tingkat tinggi yang konon dibangun oleh pendiri sekte mereka menggunakan sisa-sisa batu meteorit."

Qin Zhen menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya. "Sejarah mencatat, array ini belum pernah ditembus oleh faksi mana pun selama dua ratus tahun terakhir. Kabar yang beredar di dunia bawah menyebutkan bahwa siapa pun yang melangkah masuk tanpa izin akan terjebak dalam ilusi abadi, di mana saraf mereka dipaksa merasakan kematian berulang-ulang hingga jantung mereka berhenti karena syok."

Lin Jian, yang duduk di samping laptop super-komputernya, mengetikkan beberapa perintah. Layar hologram itu membesar, memperlihatkan gerbang lembah yang kini diselimuti oleh kabut hijau neon yang berputar-putar dengan pola yang tidak beraturan.

"Tuan, secara teknis, ini bukan hanya kabut tebal," jelas Lin Jian dengan nada serius. "Sensor termal dan gelombang mikro saya mendeteksi adanya anomali gravitasi yang sangat ekstrem di titik itu. Ada frekuensi ultrasonik yang terus-menerus berubah-ubah, yang didesain untuk merusak keseimbangan telinga dalam manusia dan mengacaukan sinyal elektrik di otak. Secara sains, mencoba menembus kabut ini tanpa dekoder frekuensi adalah bunuh diri massal."

Ling Feng berdiri perlahan. Setiap gerakannya nampak begitu efisien, seolah tidak ada energi yang terbuang sia-sia. Ia berjalan mendekati proyeksi hologram tersebut, lalu mengulurkan tangannya menembus cahaya biru itu. Saat jari Ling Feng menyentuh proyeksi kabut hijau tersebut, sebuah fenomena aneh terjadi. Cahaya hologram itu mendadak berubah menjadi ungu pekat dan mulai memercikkan bunga api elektrik yang membuat perangkat elektronik Lin Jian mengeluarkan suara mendesis panas.

"Sembilan Segel Pengunci Jiwa..." Ling Feng bergumam. Suaranya rendah, namun bergema di seluruh ruangan seperti lonceng purba. "Nama yang sangat sombong untuk sebuah formasi yang pondasinya hanya mengandalkan mineral magnetik dan manipulasi Qi tingkat rendah. Lin Jian, apa yang kau sebut sebagai anomali gravitasi itu hanyalah sirkulasi energi yang tersumbat akibat teknik penyusunan batu yang salah. Mereka mencoba membendung samudra dengan gundukan pasir, tapi mereka tidak tahu bahwa aku adalah badai yang akan meruntuhkan bendungan itu."

Ling Feng menoleh ke arah Dr. Mo Shuren yang berdiri di sudut ruangan. Sang dokter nampak sangat pucat, tangannya memegang tas medis perak dengan erat.

"Dokter, bagaimana dengan persiapan logistik?" tanya Ling Feng datar.

Dr. Mo melangkah maju dan membungkuk hingga kepalanya hampir menyentuh meja. "Hamba telah menyiapkan tiga truk kontainer khusus dengan lapisan pelindung timbal dan perak murni untuk menampung tanaman obat yang bersifat volatil dari gudang mereka nanti. Selain itu, hamba telah memurnikan Serum Penstabil Darah untuk para anak buah Qin Zhen agar mereka tidak pingsan atau mengalami pecah pembuluh darah saat terpapar aura Tuan di medan perang besok. Namun... Tuan Ling, hamba mohon ampun jika lancang, tapi kabarnya Elder Gu, pemimpin mereka, telah mencapai puncak kekuatan yang bisa menghancurkan satu batalyon tentara hanya dengan satu ayunan pedang. Apakah... raga Anda sudah benar-benar siap?"

Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Tekanan udara di aula utama seolah-olah jatuh ke titik nol, membuat oksigen terasa tipis. Ling Feng menatap Dr. Mo, bukan dengan kemarahan, tapi dengan tatapan yang sangat dalam hingga sang dokter merasa jiwanya sedang dipreteli selapis demi selapis.

"Kekuatan yang bisa menghancurkan batalyon?" Ling Feng tertawa pelan, suara tawa yang mengandung getaran yang membuat gelas-gelas kristal di atas meja taktis itu pecah serentak, bukan hancur berantakan, melainkan berubah menjadi debu halus yang jatuh seperti salju. "Dokter, kalian terlalu terbiasa melihat dunia dari lubang kunci. Di mataku, orang itu hanyalah anak kecil yang baru belajar memegang ranting pohon. Perbedaan antara aku dan dia bukan terletak pada seberapa banyak energi yang bisa kami kumpulkan, tapi pada Hukum Jiwa yang kami pegang. Besok, aku akan menunjukkan padamu apa artinya kekuatan yang tidak dibatasi oleh logika bumi."

Ling Feng kemudian berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah Barat. Di kejauhan, pegunungan nampak seperti bayangan raksasa yang sedang mengintai Metropolis, dingin dan tak tersentuh. Namun di mata Ling Feng, pegunungan itu hanyalah tumpukan batu yang menunggu untuk ia injak.

"Besok malam, bulan akan berada di posisi Yin Puncak," lanjut Ling Feng tanpa berbalik. "Itu adalah waktu di mana energi negatif bumi mencapai titik tertinggi. Array mereka akan terasa sangat kuat bagi orang biasa, namun bagiku, itu adalah saat di mana titik celahnya paling lebar bagi mereka yang paham akan aliran alam semesta. Qin Zhen, kau dan anak buahmu tidak boleh menembakkan satu peluru pun sebelum aku menghancurkan gerbang utama mereka. Tugasmu hanyalah mengamankan perimeter agar tidak ada tikus yang melarikan diri membawa harta sekte. Lin Jian, kau harus memastikan seluruh sistem komunikasi di radius sepuluh kilometer lumpuh total. Aku ingin malam itu menjadi malam yang sunyi bagi dunia luar, tapi neraka bagi penghuni lembah."

Setelah memberikan instruksi terakhir yang mendetail, Ling Feng menyuruh mereka semua keluar. Ia ingin menghabiskan malam itu dalam meditasi mendalam. Di bawah cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela, Ling Feng duduk bersila di tengah aula yang gelap. Ia mulai mengatur sirkulasi darahnya, membiarkan setiap sel di tubuhnya bergetar dalam frekuensi tertentu.

Dalam pusat kesadarannya, ia mulai memvisualisasikan Akar Langit dan Batu Inti Bumi yang tersimpan di kedalaman gudang Lembah Pedang. Benda-benda itu adalah kunci baginya untuk mencapai Tahap 5, sebuah tahap di mana ia tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan fisik, melainkan mulai bisa memanipulasi energi eksternal secara luas.

"Sudah terlalu lama pusaka-pusaka itu berada di tangan orang-orang yang hanya menggunakannya sebagai pajangan," batin Ling Feng. "Besok, aku akan mengambilnya kembali, bersama dengan semua harga diri yang kalian banggakan selama ratusan tahun."

Di luar villa, pasukan pribadi Qin Zhen sedang sibuk memeriksa senjata dan perlengkapan mereka di bawah pengawasan Lin Jian. Wajah-wajah mereka nampak tegang, beberapa dari mereka terlihat berkali-kali memeriksa magazen senjata mereka meski sudah penuh. Mereka tahu bahwa besok bukan lagi tentang perang melawan gangster atau korporasi; besok adalah perang melawan sesuatu yang mistis, sesuatu yang selama ini hanya ada dalam dongeng kuno Metropolis.

Malam itu, di seluruh Metropolis, terasa sebuah getaran halus yang merambat melalui tanah, sebuah peringatan instingtif yang membuat anjing-anjing liar melolong panjang. Itu adalah pertanda bahwa badai yang sesungguhnya bukan datang dari awan hitam di langit, melainkan dari seorang pemuda yang sedang bersiap untuk mengguncang fondasi dunia mereka.

Persiapan telah selesai. Kehendak kaisar telah terkunci. Dan saat fajar menyingsing esok hari, sejarah baru Metropolis akan mulai ditulis dengan tinta yang tidak akan pernah luntur: darah para penyombong.

More Chapters