WebNovels

Chapter 266 - Daftar yang Memulai Segalanya

Judulnya hanya terdiri dari beberapa kata:

"Daftar Perlengkapan dan Penugasan"

Dengan bunyi mekanis yang pelan, tangan prostetik kirinya terulur dan perlahan menarik dokumen itu ke arahnya. Ia membuka halaman pertama dan mulai membaca.

Normal:

Radit: SCAR dengan vertical grip, Compound Bow M9, kukri. (Penyergapan) Thivi: VSK yang telah dimodifikasi penuh, P90 MC, stun gun. (Infiltrasi) Zinnia: F2000 modifikasi semi-sniper, MP9 berperedam, stun gun. (Infiltrasi) Ethan: M4 CQB-R modifikasi + shotgun EV kustom, Beretta 92F, katana. (Pertempuran jarak dekat) Frans: M249 Para SAW, stun gun, Tec-9. (Pengemudi/Pilot) Raphael: M4 SR kustom + peluncur granat, pisau tempur kustom. (Penyergapan & Infiltrasi) Isabel: RPD modifikasi penuh + Raging Bull dengan scope. (Penyergapan) Livia: Sniper CheyTac kustom, Jackal SMG dengan vertical grip. (Finisher/Dukungan jarak jauh)

Unik:

Felicia: Shotgun DB otomatis, nunchaku tiga batang, Solothurn spesial kustom + peluru peledak 100 mm. (Perang berat) Kaivan: Sepasang chainsaw Vector modifikasi, gelang pendukung, sepasang kujang berantai, scope mata bionik, prostetik kaki kanan dan lengan kiri. (Perang ekstrem)

"Nama skuad: Belum ditentukan"

Kaivan membacanya berulang kali. Matanya perlahan menyipit.

"Tunggu..." bisiknya nyaris tanpa suara.

Suaranya bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena kegelisahan yang perlahan menggerogoti dadanya.

"Data ini menunjukkan teman-temanku... Mereka sudah dipersenjatai? Sudah diberi penugasan?"

Ia menatap daftar itu cukup lama, seolah sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada.

Jantungnya berdetak keras, bertabrakan dengan napasnya yang semakin berat. Jemarinya mencengkeram kertas itu hingga bagian tepinya kusut.

"Sebenarnya apa yang sedang direncanakan Levan...?" gumamnya pelan, namun sarat makna.

Pikirannya berputar tanpa henti, terjebak dalam pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Kertas di tangannya kini terasa sangat berat. Bukan karena isinya, melainkan karena makna yang dibawanya.

Tanpa menunggu lebih lama, Kaivan melangkah maju. Koridor di depannya sunyi dan dingin, hanya dipenuhi gema langkah kaki yang memantul di dinding logam yang lembap. Lampu-lampu redup berkedip lemah, memantulkan siluet dirinya yang gelisah. Ia membuka setiap pintu perlahan, matanya mencari sosok yang tak kunjung ditemukan.

Keheningan itu terasa seperti jebakan. Napasnya semakin pendek, tetapi ia terus melangkah, seolah dorongan di dalam dadanya jauh lebih kuat daripada rasa takut. Setiap langkah menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap keputusasaan yang bersembunyi di balik kegelapan.

Akhirnya, ia berhenti di tengah koridor dan membuka Tome of Omnicent. Cahaya samar mengalir dari halaman-halamannya, menari di wajahnya yang pucat.

"Di mana aku bisa menemukan Fabrizio?" tanyanya pelan.

Perlahan, tulisan mulai muncul di permukaan halaman.

Di balik lemari baja di ujung koridor ini. Geser ke kiri, dan kau akan menemukan lift yang menuju Level Sembilan. Fabrizio sedang menunggumu di sana.

Kaivan menutup Tome itu dalam diam. Langkahnya kini cepat dan penuh tekad. Udara di sekelilingnya terasa semakin dingin, menggigit kulitnya.

Ia berhenti di depan sebuah lemari baja besar, menatapnya sesaat, lalu menarik sisi kirinya dengan seluruh tenaga yang dimiliki. Logam itu mengeluarkan suara berat saat bergeser, memperlihatkan panel tersembunyi di belakangnya.

"Sama persis seperti yang dikatakan Tome," bisiknya.

Ia menekan tombol pada panel tersebut. Sebuah pintu kecil bergeser terbuka, memperlihatkan lift sempit berlapis baja. Kaivan masuk ke dalam dan menekan satu-satunya tombol yang tersedia. Pintu tertutup, lalu lift mulai turun perlahan dengan getaran samar.

Di dalam ruang sempit itu, jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia tahu bahwa apa pun yang menunggunya di bawah mungkin tidak akan memberinya ketenangan. Namun ia sudah tidak bisa berbalik lagi.

Saat lift berhenti, pintunya terbuka dengan desisan dingin. Cahaya putih yang menyilaukan langsung menusuk matanya.

Di tengah ruangan yang luas berdiri Fabrizio. Ia membungkuk di atas meja kerja besar yang dikelilingi berbagai perangkat yang berkedip seperti bintang-bintang buatan. Pemuda itu tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri, sama sekali tidak menyadari kehadiran Kaivan.

Langkah kaki Kaivan bergema di sepanjang koridor gelap Level Sembilan. Udara terasa berat dan dingin, membawa aroma tajam logam serta bahan kimia. Saat pintu baja terbuka dengan dengungan mekanis, pemandangan di baliknya bukanlah laboratorium biasa, melainkan sebuah gudang persenjataan futuristis. Rak-rak senjata berkilau dingin, meja-meja dipenuhi prototipe, dan cahaya neon biru memantul di permukaan logam, membuat tempat itu terasa seperti jantung dari sebuah mesin perang.

Suara langkahnya menyatu dengan dengungan mesin yang terdengar dari kejauhan. Setiap pijakan terasa seperti detak jantung yang berusaha mempertahankan ritmenya di bawah tekanan udara yang menyesakkan. Mata bionik Kaivan menyesuaikan diri dengan pencahayaan ruangan, memindai bayangan-bayangan dan cahaya neon yang bergetar lembut.

 

More Chapters