WebNovels

Chapter 264 - Keinginan Pertama yang Tidak Pernah Diizinkan

"Mungkin... wanita yang sangat cantik. Dengan tubuh yang menarik. Ukuran dada di atas D cup. Pinggul besar dan indah. Tingginya lebih dari 185 sentimeter. Mengenakan pakaian yang cukup terbuka, dengan bagian leher yang rendah. Riasan yang pas, tidak berlebihan. Rambut panjang yang terurai. Dan kacamata, supaya terlihat pintar."

Kata-katanya menggantung di udara seperti kabut tipis di tengah hutan.

Lyra menundukkan pandangannya, memperhatikan tubuhnya sendiri. Tingginya hanya 160 sentimeter, bertubuh ramping, tanpa lekuk yang mencolok. Kulit sintetisnya sempurna, namun tak tersentuh riasan apa pun. Tidak ada satu pun yang sesuai dengan gambaran yang baru saja diucapkan Kaivan.

"Oh... jadi itu tipe wanita yang kau sukai," bisiknya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Setelah hening sesaat, ia kembali bertanya dengan suara yang lebih lembut.

"Kalau begitu... bagaimana rasanya jatuh cinta?"

Kali ini Kaivan menatapnya dengan sungguh-sungguh. Ia terdiam.

Lalu sebuah tawa kecil yang pahit lolos dari bibirnya.

"Aku... sudah tidak ingat lagi," jawabnya akhirnya.

Ia mengangkat pandangannya ke langit malam yang luas. Suaranya memudar, seolah sedang berbicara kepada kenangan yang jauh.

"Mungkin rasanya seperti selalu ingin bersama seseorang yang berarti bagimu. Melakukan banyak hal bersama. Makan, tidur... bahkan hal-hal yang sangat pribadi. Tapi kurasa setiap orang memiliki versinya sendiri."

Angin malam menyapu dedaunan kering, membuatnya menari di bawah sorot lampu mobil. Jalan sempit itu setengah tertutup salju dan lumpur, namun ban jip terus melaju dengan mantap menembus dingin.

Lyra mengangguk perlahan. Tatapannya tetap lurus ke depan, tetapi ada sesuatu yang berubah samar di matanya. Sebelum kembali menggenggam kemudi, jemarinya sempat berhenti di atas dadanya, seolah sedang berusaha memahami kekecewaan sunyi yang lahir dari menginginkan sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

"Aku ingin mencoba beberapa hal bersamamu, Kaivan," katanya tiba-tiba. Suaranya datar, namun sedikit bergetar di akhir kalimat.

Kaivan menoleh kepadanya, alisnya terangkat.

"Beberapa hal?"

"Ya," jawab Lyra pelan. "Tapi... bukan dalam kondisiku yang sekarang."

Tangan kanannya menyusuri tubuhnya perlahan, dari bahu ke dada, lalu turun ke pinggang. Gerakannya lembut, namun dipenuhi penilaian terhadap dirinya sendiri, seolah sedang membandingkan dirinya dengan harapan seseorang.

Kaivan tertawa kecil. Terdengar lelah, tetapi ia berusaha tetap terdengar hangat.

"Haha... aku bisa membantu, tahu. Jadi, apa yang ingin kau coba?"

Genggaman Lyra pada kemudi mengencang. Tatapannya menjadi serius, dan suaranya membawa intensitas yang mengubah suasana di dalam mobil.

"Sungguh? Terima kasih, Kaivan... jika kau bersedia."

Keheningan memenuhi kabin. Udara terasa berat, seolah waktu itu sendiri melambat.

Lalu Lyra berbicara. Kata-katanya melesat seperti peluru sunyi yang membelah dingin malam.

" Aku ingin tahu bagaimana rasanya... berciuman. Seperti Thivi. Dan... merasakan apa yang Isabel rasakan.."

Dunia di luar seakan menghilang.

Jip itu terus bergerak, tetapi bagi Kaivan, semuanya terasa berhenti.

Tatapannya perlahan beralih ke arah Lyra. Matanya membelalak, terjebak di antara keterkejutan dan ketidakpercayaan.

"D-Dari... dari mana kau belajar tentang itu?" bisiknya. Suaranya bergetar, seolah takut mendengar jawabannya.

Lyra tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap jalan panjang yang membentang di depan.

Hutan pinus yang lebat kini mengelilingi mereka. Bayangan-bayangan tinggi bergoyang di bawah cahaya supermoon. Matanya memantulkan sinar bulan itu, hijau dan dingin. Namun jauh di dalamnya, ada sesuatu yang samar mulai berdenyut.

Kesadaran...

Atau mungkin, sebuah keinginan yang baru saja lahir.

Di kedalaman Pegunungan Kaukasus, di bawah bagian malam yang paling gelap, sebuah kendaraan off-road besar melaju perlahan dengan kecepatan stabil. Lampu depannya membelah kabut tipis yang menggantung di udara. Suara roda yang menghancurkan salju bergema berat dan berirama, menandakan bahwa mereka semakin dekat dengan tujuan.

Di dalam kendaraan itu, Kaivan dan Lyra duduk dalam diam. Percakapan mereka sebelumnya masih menggantung seperti asap yang membeku. Lyra tidak menjawab pertanyaan Kaivan. Ia tetap fokus pada jalan, kedua tangannya mantap di kemudi. Hanya senyum tipis di bibirnya yang tampak menonjol, asing namun entah mengapa memikat.

Keheningan itu bertahan sampai sebuah bentuk geometris muncul di kejauhan. Sebuah bunker beton raksasa menembus lereng gunung, dengan cahaya inframerah samar yang menyala di antara bebatuan. Tempat itu tampak seperti markas rahasia yang menyatu dengan alam itu sendiri. Kaivan merasakan sedikit kelegaan, namun dadanya tetap terasa sesak, seolah ada sesuatu yang akan berubah malam ini.

Kendaraan itu berhenti di depan gerbang otomatis. Lyra langsung turun. Gerakannya cepat dan tegas. Sepatunya menekan salju dengan ritme yang mantap, memperlihatkan tekad yang tidak mudah digoyahkan. Kaivan mengikuti lebih lambat, masih menatap punggungnya. Napasnya terasa berat, langkahnya tidak pasti.

Lyra menuruni koridor bawah tanah. Setiap langkahnya bergema di sepanjang dinding logam dan beton yang diterangi cahaya biru dari panel-panel di sepanjang lorong. Teknologi canggih berdenyut di udara. Kabel serat optik menjalar seperti akar, hologram aktif berkedip di berbagai sudut, dan aroma logam bercampur antiseptik memenuhi ruangan.

Dari kejauhan, Levan, seorang pemuda dengan rambut yang tertata rapi dan jas laboratorium yang terbuka, berjalan sambil membawa secangkir kopi. Matanya menangkap sosok Kaivan yang berdiri diam di ambang pintu. Ia pun mendekat.

"Hei, ada apa?" tanyanya santai sambil menepuk bahu Kaivan. Nada suaranya yang ringan tidak mampu menyembunyikan rasa penasaran yang terpancar dari matanya.

 

More Chapters