WebNovels

Chapter 262 - Di Bawah Bulan yang Sama

Lyra melangkah lebih dekat, lengan sintetisnya hampir menyentuh bahu Kaivan.

"Apakah kau ingin keluar? Udara pegunungan mungkin bisa menenangkan pikiranmu," sarannya.

Kaivan terdiam sejenak, lalu mengangguk.

Ia mengenakan jaket tebal dan melilitkan syal di lehernya. Seorang peneliti mendekat lalu menyerahkan sebuah perangkat kecil berwarna hitam.

"Tolong bawa GPS ini, agar kami bisa melacak lokasimu jika terjadi sesuatu."

Kaivan menerimanya dan memasukkannya ke dalam tas bersama Tome of Omnicent.

Mereka berjalan menuju kendaraan salju. Lyra mengambil kursi pengemudi, sementara kedua tangannya yang presisi mengendalikan kemudi dengan tenang.

Udara musim gugur menyambut perjalanan mereka. Angin membawa aroma tanah yang basah dan dedaunan yang berguguran. Kendaraan berbentuk kapsul dengan enam roda itu meluncur mulus melewati akar-akar pohon dan bebatuan lembap.

Daun-daun jingga dan merah perlahan melayang dari ranting-ranting tinggi, bagaikan kenangan yang jatuh dari langit. Di kejauhan, Pegunungan Kaukasus menjulang megah, seperti dinding raksasa yang menjaga dunia.

Di atas mereka, pada langit yang remang, sebuah supermoon purnama menggantung dalam keheningan. Cahaya peraknya memanjang di atas lembah, membentuk bayangan-bayangan yang tenang.

"Kita sudah sampai, Kaivan," kata Lyra.

Suaranya tetap datar seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang samar, mungkin kekaguman, mungkin pemahaman, yang memantul di balik matanya.

Kaivan perlahan membuka pintu dan melangkah keluar. Rumput yang dipenuhi embun menyentuh sepatunya. Di hadapannya terbentang hutan berwarna emas dan amber, langit malam yang dipenuhi bintang, serta supermoon raksasa yang menggantung di atas sana. Dadanya terasa lapang sekaligus sesak dalam waktu yang bersamaan.

"I-ini... kita ada di mana, Lyra?" tanyanya hampir berbisik.

Lyra berbalik, mengangkat tas dari bagasi dengan mudah, lalu menjawab tenang, "Saat aku menolongmu dan Fabrizio waktu itu, aku melihat tempat ini dari udara. Aku mengingatnya. Aku berpikir... pemandangan seperti ini akan cocok untukmu saat musim gugur."

Nada suaranya tetap datar, tetapi kata-katanya membawa kehangatan yang bahkan belum ia sadari sendiri.

Kaivan tersenyum kecil lalu menjatuhkan dirinya ke atas rumput. Ia berbaring telentang, menatap langit dan bulan yang bersinar tenang di antara bintang-bintang. Napasnya membentuk kabut putih tipis di udara malam yang dingin.

"Lyra," ucapnya pelan tanpa menoleh, "sekarang kau punya tubuh baru. Kau bisa merasakan dunia, suhu, tekstur, angin. Tapi pakaianmu setipis itu. Apa kau tidak kedinginan?"

Lyra perlahan berbalik lalu duduk di sampingnya. Gerakannya mengalir begitu halus, seperti air yang tenang. Ia membuka tas, mengeluarkan termos kecil, lalu berbicara lembut.

"Tidak. Aku bisa mengatur suhu tubuhku. Sama seperti saat aku memelukmu di tengah badai salju itu... agar kau tidak membeku."

Ia menyerahkan secangkir cokelat panas kepadanya. Uap hangat perlahan naik di antara mereka.

Kaivan sedikit terkejut, lalu duduk. Ia menerima cangkir itu dan meminumnya perlahan. Kehangatan mengalir melewati tenggorokannya, mengusir dingin yang menempel pada tubuh dan hatinya.

Ia menunduk menatap cangkir di tangannya, lalu memandang Lyra yang sedang menatap langit. Cahaya bulan menari lembut di dalam mata zamrudnya.

"Aku tidak pernah menyangka bisa sampai sejauh ini," gumam Kaivan, suaranya hampir tenggelam oleh hembusan angin. "Setelah semua yang sudah kulalui... seharusnya aku bahkan tidak berada di sini lagi."

Lyra menoleh ke arahnya dan sedikit mendekat. Rambutnya bergoyang pelan diterpa angin malam.

"Aku percaya," katanya lirih, suaranya selembut napas lembah, "jika kita masih hidup... berarti masih ada sesuatu yang belum selesai."

Kaivan sedikit mengernyit dan menatapnya.

"Maksudmu... seperti sebuah misi?"

Lyra menunduk menatap rumput di bawah telapak tangannya, merasakan kelembutannya melalui kulit sintetis yang ia miliki. Ia menggenggam tangan kecilnya perlahan, seolah berusaha meraih sesuatu yang tak terlihat.

"Aku belum tahu apa arti 'hidup' yang sebenarnya," katanya pelan, "tetapi aku tahu bahwa aku ingin merasakannya. Aku ingin tahu... bagaimana rasanya menjalani kehidupan."

Langit malam membentang tanpa ujung di atas mereka. Supermoon menggantung tenang, sementara cahaya peraknya menembus sela-sela pepohonan dan kabut lembah. Angin membawa melodi lembut yang menggoyangkan daun-daun gugur seperti serpihan waktu.

Di tengah keheningan itu, dua sosok, seorang manusia yang terluka dan seorang android yang sedang mencari makna, duduk berdampingan. Mereka tidak saling menyentuh, tetapi terhubung oleh ikatan hangat yang sunyi.

"Aku ingin kau tahu tentang hidupku," kata Kaivan pelan, hampir seperti bisikan yang takut terbawa angin.

Suaranya bergetar di udara, memecah keheningan yang nyaris terasa suci. Matanya tetap menatap langit, enggan menoleh ke arah Lyra yang berada di sampingnya.

Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian dari udara dingin yang memenuhi paru-parunya.

"Hidupku..." ucapnya lirih. "Tidak pernah mudah. Aku pernah jatuh cinta."

Ia terdiam sejenak.

"Dulu aku menyukai seorang gadis bernama Rina. Tapi dia tidak memilihku. Saat itu aku sangat hancur... sampai seorang wanita bernama Tania datang ke dalam hidupku. Untuk pertama kalinya, dia membuatku merasa bahagia."

Suaranya mulai bergetar.

"Tapi... dia juga orang yang menghancurkan semuanya."

Kaivan menundukkan kepala. Bibirnya bergetar saat berusaha menahan kepahitan yang selama ini ia telan sendirian.

 

More Chapters