WebNovels

Chapter 89 - Dia Menunggu Enam Jam untuk Sebuah Kebohongan

"Temanmu? Sudah lama kamu menunggu di sini?" tanya Kaivan, mencoba terdengar lembut tanpa menekannya terlalu jauh.

Isabel ragu sejenak sebelum menjawab pelan, "Aku baru bertemu dengannya tadi... sekitar jam lima sore. Dia meminjam ponselku, katanya ingin menelepon sopir yang pemalu. Dari kamar mandi."

Kaivan mendengarkan dengan wajah tenang, menyembunyikan ketidakpercayaannya. Melihat wajah polos gadis itu, ia bergumam dalam hati. Gadis ini terlalu murni... atau benar benar naif.

Kegelisahan kecil merayap di dadanya. Kepercayaan Isabel datang terlalu mudah, dan semuanya mengarah pada satu kesimpulan. Gadis ini telah ditipu.

Ia diam sejenak untuk berpikir, lalu berbicara dengan hati hati, memastikan suaranya tidak terdengar menghakimi.

"Tapi," katanya pelan, "sekarang sudah jam sebelas malam. Kamu menunggu selama enam jam. Tidak terasa... mencurigakan?"

Isabel menatapnya, alisnya berkerut. Ia berhenti sebentar, lalu cepat menjawab, "Tapi dia orangnya baik." Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan kantong plastik kecil berisi permen. "Lihat, dia memberiku ini supaya aku menunggunya. Ada lima puluh."

Kaivan menatap permen permen itu dengan wajah datar. Ia tidak tahu harus tertawa atau menghela napas.

Dia benar benar tidak tahu apa apa...

Ia menghembuskan napas panjang, sedikit rasa frustasi tersembunyi di dalamnya.

Putus asa. Gadis ini benar benar... bodoh.

Angin malam menyapu jalan yang sepi, membawa hawa dingin yang tajam. Berdiri di bawah cahaya lampu jalan yang pucat, tubuh Kaivan tampak tenang, tetapi pikirannya berputar tanpa henti.

Ia memperhatikan Isabel yang melangkah ringan, wajahnya masih dipenuhi harapan polos, seperti anak kecil yang belum tersentuh kerasnya dunia.

Kenapa harus sesulit ini...

Pikirannya terasa berat. Lalu, nyaris tak lebih keras dari bisikan angin, ia memanggil,

"Isabel."

Gadis itu berbalik. Rambut panjangnya bergoyang lembut, matanya lebar dan penuh kepercayaan.

Kaivan menarik napas pelan, menenangkan dirinya, lalu menatapnya.

"Ponselmu... sudah dicuri."

Keheningan jatuh.

Kata kata sederhana itu menghantam Isabel seperti petir.

Alisnya berkerut, bibirnya terbuka dalam kebingungan.

"Dicuri? Bagaimana bisa dicuri?" tanyanya, masih memegang kantong permen seolah benda itu bisa menjelaskan semuanya. "Dia memberiku ini... supaya aku menunggunya," tambahnya pelan, suaranya dipenuhi harapan yang rapuh.

Kaivan menghela napas. Tubuhnya yang kurus sedikit membungkuk di bawah dinginnya malam. Wajahnya menegang, tetapi suaranya tetap lembut.

"Isabel... berapa harga ponselmu?"

Ia ragu.

"Dua juta rupiah," jawabnya pelan, seolah angka itu sesuatu yang berharga.

Kaivan mengangguk perlahan.

"Lalu... menurutmu permen itu harganya berapa?"

Isabel melihat kantong di tangannya.

"Mungkin lima ribu," bisiknya.

Kaivan melangkah sedikit lebih dekat. Matanya tenang, tetapi tajam.

"Berapa selisihnya?"

Isabel mulai menghitung dengan jari jarinya, bergumam pelan sebelum akhirnya berkata lirih,

"Satu juta sembilan ratus sembilan puluh lima ribu."

Suaranya bergetar, seolah ia berharap perhitungannya salah.

Keheningan menggantung berat di antara mereka.

Akhirnya Kaivan berkata,

"Itulah jumlah yang kamu kehilangan. Kamu ditipu."

Wajah Isabel langsung pucat. Bibirnya bergetar.

"A apa? Serius?" bisiknya, matanya melebar saat kata kata itu benar benar meresap. "Ponselku... dicuri?"

Kesadaran perlahan menyebar dalam dirinya, lambat dan menyakitkan. Kepercayaannya berubah menjadi pengkhianatan.

Ia menggigil.

Dengan panik ia menatap Kaivan.

"Namamu siapa tadi?" tanyanya, suaranya gemetar, seolah hanya dengan memegang namanya ia bisa tetap berdiri.

"Kaivan," jawabnya singkat.

Di matanya ada campuran kesal dan iba. Ia tahu sekarang dirinya menjadi satu satunya jangkar yang dimiliki gadis itu.

Isabel memeluk kantong permen itu seperti jimat kecil.

"Aku harus bagaimana? Kakakku pasti marah... orang tuaku juga..." suaranya pecah menjadi serpihan kecil.

Kaivan melangkah lebih dekat dan meletakkan tangan dengan lembut di bahunya.

"Kamu tidak akan menghadapi ini sendirian. Tapi janji satu hal padaku. Jangan mudah percaya lagi."

Isabel mengangguk lemah. Air mata mengalir di pipinya.

"Baik..." bisiknya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa ada seseorang yang benar benar peduli.

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, bayangan mereka memanjang di atas aspal yang lembap.

Kaivan menggenggam Tome Omnicent dengan erat, merasakan denyut misterius yang samar dari dalamnya.

Ia membukanya.

Tinta keemasan mulai muncul di atas kertas kasar. Cahaya pucat memantul di wajahnya ketika matanya mengikuti kata kata yang perlahan terbentuk.

"Pergilah ke Kopo, lalu ke Baleendah. Alamatnya ada di sana..."

Sebuah peta sederhana muncul bersama pesan itu.

Kaivan menutup buku tersebut. Suaranya terdengar tegas di tengah malam yang sunyi.

Ia memasukkan Tome ke dalam tas lalu menoleh pada Isabel.

Gadis itu masih tampak kebingungan. Ketakutan dan kebingungan berputar di matanya. Bibirnya bergetar, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi dunia terasa terlalu berat untuk diucapkan.

"Ayo," kata Kaivan tenang, tidak keras. "Kita ambil kembali ponselmu."

Isabel berkedip, alisnya terangkat.

"Kenapa tidak ke polisi saja?" tanyanya pelan. Suaranya gemetar, seperti seseorang yang melanggar aturan yang selalu ia percaya.

Kaivan menghela napas.

"Lupakan polisi. Mereka terlalu lambat untuk hal seperti ini. Lagi pula aku sudah ke sana sekali hari ini. Aku tidak mau dua kali."

Mata Isabel melebar.

"Tunggu... kamu penjahat?" tanyanya, setengah takut, setengah penasaran.

Kaivan memutar matanya.

"Tidak. Aku hanya tidak suka membuang waktu. Sekarang ayo."

Tanpa menunggu jawabannya, ia berjalan menuju sebuah motor yang terparkir di bawah lampu jalan.

Mesin menyala dengan suara tajam ketika ia memutar gas, memecah keheningan malam.

"Naik," kata Kaivan sambil menoleh ke belakang.

Isabel mendekat dengan ragu lalu duduk di belakangnya. Tangannya gemetar saat memeluk pinggang Kaivan untuk menjaga keseimbangan.

Mereka melaju menembus kota yang mulai sunyi.

Lampu lampu jalan memanjangkan bayangan mereka seperti hantu yang mengikuti dalam diam. Udara malam terasa tajam dan dingin, menggigit kulit.

Isabel yang hanya mengenakan sweater tipis tanpa sadar merapat ke punggung Kaivan, meski genggamannya masih ragu, takut memeluk terlalu erat.

Kaivan tidak mengatakan apa apa selama perjalanan.

Pikirannya dipenuhi kata kata misterius dari Tome Omnicent.

Siapa yang mencuri ponsel itu?

Apa yang menunggu mereka di ujung perjalanan ini?

Tangannya mencengkeram setang motor lebih kuat.

Hampir satu jam kemudian mereka tiba di Baleendah.

Tempat itu terasa terpisah dari dunia. Bangunan bangunan tua berdiri suram, dindingnya retak dan dipenuhi lumut. Jalan jalan sempit berkelok di antara bangunan itu seperti lorong waktu.

Lampu jalan berkedip lemah. Beberapa sudah padam, meninggalkan keheningan yang menjaga rahasia mereka.

"Kita harus masuk ke sana," kata Kaivan sambil melirik ekspresi ragu di wajah Isabel.

Ia hampir membuka Tome lagi, berharap menemukan petunjuk lain, ketika tiba tiba Isabel menunjuk.

"Bangunan hijau itu," katanya pelan. "Kelihatannya persis seperti yang ada di buku."

More Chapters