WebNovels

Chapter 83 - Pilihan yang Ditempa dalam Api

"Ugh!" Kaivan terhuyung, napasnya tersengal, tetapi tatapannya tetap terpaku pada Raphael. Sakit, namun tak tergoyahkan.

Raphael mendekat, amarah menyala di matanya. "Kau berbicara seolah tahu segalanya, Kaivan! Tapi kau tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dilupakan!"

Kaivan mengatupkan gigi, jemarinya gemetar menggenggam karambit. "Kau benar," bisiknya lirih. "Aku tidak tahu seberapa dalam kesepianmu. Tapi membakar dunia tidak akan menyembuhkan lukamu."

Asap makin pekat, menelan mereka berdua. Suara Raphael kembali terdengar, dingin dan hampa. "Saat semua yang kau lakukan tak berarti apa-apa... saat kepercayaanmu dikhianati... itulah rasanya kehancuran. Kau selalu punya cahaya, Kaivan. Kau tak pernah mengenal kegelapanku!"

Kaivan berdiri diam. Keringat dan darah bercampur di kulitnya. Ia menunggu, jantungnya berdentam keras. Ia mengerti putus asa, tetapi ia memilih untuk tetap berdiri. Karena bahkan di dunia yang retak, masih ada sesuatu yang layak diselamatkan.

Menembus kabut, suaranya meraih. "Raphael," ucapnya serak namun tegas. "Aku tahu rasanya ditinggalkan, hancur dari dalam. Tapi menghancurkan segalanya, termasuk dirimu sendiri, tidak akan menghentikan rasa sakit itu."

Dalam sekejap, Raphael menerjang keluar dari asap, pisau mengarah lurus ke dada Kaivan. Kaivan nyaris berhasil menahan, namun bilah itu menembus lengannya. Darah memercik ke lantai. Ia terengah, tetapi menolak untuk jatuh.

"Inikah hidup yang kau perjuangkan, Kaivan?!" raung Raphael, matanya membara. "Hidupku tak pernah berarti! Dan kau pikir bisa menyelamatkan semua orang?!"

Kaivan membalas amarah itu dengan api yang tenang. "Jika kau benar-benar ingin dilihat, kenapa kau justru menghapus dirimu sendiri? Kau akan lenyap, Raphael. Dan tak akan ada yang tersisa untuk mengingatmu."

Sesaat, mata Raphael goyah, lalu kembali mengeras. Badai dalam dirinya kembali mengamuk. Ia menyerang lagi, lebih cepat kali ini. Gerakannya liar namun terlatih, tarian mematikan yang lahir dari keputusasaan. Kaivan berputar, menangkis sebisanya. Denting logam beradu memercikkan bunga api, menggema di antara asap yang menipis.

Darah kembali menetes. Luka-luka kecil terukir di tubuh Kaivan, setiap langkah mundurnya terasa berat oleh sesuatu yang tak terlihat. Raphael tak memberinya ruang bernapas. Serangannya tanpa henti mencabik keheningan seperti cakar amarah.

Di luar bangunan yang mulai runtuh, Felicia memimpin evakuasi. Matanya tajam, senjatanya mantap. Di belakangnya, Radit menjaga barisan, namun tatapannya tak pernah jauh dari arah tempat Kaivan tertinggal.

"Dia pasti berhasil," gumam Radit, seolah kata-kata itu mampu menahan rasa takutnya.

Felicia menoleh sekilas. Wajahnya tegang namun yakin. Ia mengenal tekad Kaivan, kekuatan yang pernah menariknya keluar dari kegelapan. Baginya, Kaivan bukan sekadar rekan. Ia adalah cahaya, dan cahaya tidak diciptakan untuk padam.

"Aku tahu," bisiknya pelan, menatap bangunan yang masih menggema oleh suara pertempuran. Dalam diam ia berdoa. Namun di dalam dadanya, itu lebih dari doa, itu adalah keyakinan.

Di dalam, saat struktur bangunan mengerang dan asap kian menebal, siluet Kaivan tetap berdiri. Matanya terpaku pada Raphael yang kini menggenggam granat kejut, seolah nasib dunia berada di antara jari-jarinya.

Di balik cahaya dan bayangan yang bergetar, Kaivan melihat lebih dari sekadar musuh. Ia melihat rasa sakit, luka lama yang menyala di balik tatapan penuh amarah itu.

"Raphael," panggil Kaivan lembut namun tegas. "Ikutlah denganku. Apa pun yang kau cari... kau tidak akan menemukannya di sini."

Tanpa peringatan, Kaivan merendahkan tubuhnya. Jemarinya menyentuh lantai yang hangus, mengambil kerikil kecil. Ia menjentikkannya ke arah tangan Raphael, cukup untuk memecah konsentrasi. Granat itu terlepas, menggelinding menjauh dari kehancuran.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Raphael, matanya terbelah antara marah dan tak percaya.

Kaivan tetap tak bergerak. "Karena aku tidak akan membiarkanmu membakar dirimu sendiri hanya agar didengar."

Tawa Raphael pecah, kasar dan pahit. "Kau pikir kau mengenalku? Kau tak tahu apa pun tentang hidupku!"

Api mengamuk, melahap dinding dan langit-langit, menari dalam warna merah dan jingga di antara reruntuhan yang runtuh. Asap tebal mencekik udara, sementara ledakan dan tembakan liar bergema seperti raungan neraka yang hidup.

Di jantung kobaran api itu, Kaivan berdiri berhadapan dengan Raphael. Tubuhnya penuh luka dan darah, namun tatapannya tak goyah. Ia menembus kekacauan, menemukan jiwa yang tak ingin ia lepaskan.

"Aku tidak tahu segalanya tentangmu," ucap Kaivan pelan, setiap katanya seteguh baja. "Tapi aku tahu kau bukan monster ini. Kau masih punya pilihan."

Kata-kata itu menggantung di udara seperti doa di tengah reruntuhan. Namun takdir tak memberi jeda.

Sebuah granat kejut yang terlepas akibat ledakan sebelumnya menggelinding di antara mereka, lalu meledak.

Cahaya menyilaukan meletup. Dunia membeku dalam kilatan putih, diikuti denging tajam. Kaivan menjadi buta dan tuli, namun tidak diam.

Ia bergerak mengikuti naluri, mata terpejam, tubuh berputar dengan napas teratur. Bahkan saat indranya runtuh, tekadnya tetap utuh.

Dari balik cahaya yang memudar, Raphael muncul sebagai siluet gelap, berlumur darah dan gemetar, mengayunkan amarahnya seperti bilah tajam. Ia menerjang.

Namun Kaivan sudah siap.

Dengan naluri yang ditempa oleh banyak pertemuan dengan maut, Kaivan mengangkat lengannya, menangkis serangan itu. Gerakannya mengalir alami. Rantai karambitnya terurai, melilit tubuh Raphael dalam satu gerakan cepat. Kuncian itu mengerat.

Percikan api jatuh dari kabel yang terbakar di atas, menghujani mereka seperti hujan neraka.

"Kau tidak mengerti!" suara Raphael pecah di tengah gemuruh. "Dunia ini sudah rusak! Tidak bisa diperbaiki!"

Kaivan menarik napas, tubuhnya gemetar namun tak menyerah. Bilah di tangannya bergetar di dekat leher Raphael. Darah menetes dari lengannya, menyatu dengan abu dan api. Namun di tengah kekacauan itu, secercah cahaya rapuh menolak untuk mati.

Di antara kobaran dan puing yang berjatuhan, Kaivan menatap Raphael. Napasnya berat, tetapi suaranya tetap tenang, kokoh, seperti mercusuar di tengah badai.

"Aku tahu dunia ini berantakan," katanya, tatapannya menembus asap. "Justru karena itu kita harus mulai mengubahnya. Di sini. Sekarang. Kau dan aku."

More Chapters