WebNovels

Chapter 73 - Sebelum Badai Mencapai Kita

"Baiklah. Aku akan percaya pada apa pun yang Kaivan katakan."

Kaivan tersenyum tipis. Suaranya serak, membelah keheningan yang menggantung di antara mereka.

"Kita punya tujuan baru sekarang. Aku harus menemui seseorang, namanya Raphael. Dia ada di sini… di Purwakarta."

Tatapannya beralih ke barat, ke arah sisa cahaya senja yang menggores langit dengan warna keemasan terakhir.

"Hari ini Sabtu. Artinya, kita punya waktu besok untuk bersiap."

Mata merah Felicia berkilau lembut, dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan. Senyum tipis melengkung di bibirnya—indah, namun menyimpan ketajaman.

"Aku di sini untuk membantu."

Radit, berdiri di sampingnya, mengusap tengkuk dengan ragu. "Kita ini masih anak SMA," gumamnya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi yang kita lakukan… rasanya seperti urusan orang dewasa. Kalau dipikir-pikir, ini gila." Tatapannya beralih pada Kaivan, seakan mencari jawaban yang bisa menenangkan hatinya.

Kaivan menatapnya lurus, lalu mengangkat Tome Omnicent. "Percayalah… nama kalian tertulis di sini."

Radit terdiam sesaat, lalu mengangguk perlahan. Keyakinan tenang dalam suara Kaivan terlalu kuat untuk diabaikan.

Ethan, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. Pandangannya jatuh pada Felicia. "Kaivan, membawa Radit masih masuk akal. Tapi… seorang gadis? Kamu tahu ini bisa berbahaya, kan?"

Felicia berhenti merapikan rambutnya. Mata merahnya mengunci tatapan Ethan—tajam, tak bergeming. Ia melangkah maju, tenang namun penuh kepastian.

"Berbahaya?" suaranya rendah, setiap katanya mengiris halus. "Kau sebaiknya berhati-hati sebelum bicara tentang bahaya… terutama pada seseorang sepertiku."

Ia berhenti tepat di hadapannya—tegak, kokoh, tanpa rasa gentar. Kaivan dan Radit saling bertukar pandang. Mereka tahu siapa Felicia sebenarnya. Bukan sekadar teman. Ia adalah perisai. Sekaligus senjata.

Kaivan melangkah mendekat, nadanya datar namun tegas. "Felicia akan baik-baik saja. Kalian akan mengerti kenapa aku membawanya nanti."

Pada saat itu juga, kata-kata baru muncul di halaman Tome, seperti bisikan yang menyusup ke dada Kaivan: Temukan Raphael dan bantu dia melarikan diri dari J.A.T.

Wajah Kaivan menegang. Perintah itu bukan sekadar instruksi—melainkan pertanda akan sesuatu yang jauh lebih besar menunggu di depan.

Radit yang duduk tak jauh darinya menangkap perubahan itu. Suaranya pelan, tapi mantap. "Baiklah… kita kembali dulu," ujarnya, seolah menarik mereka menjauh dari tepi jurang yang belum siap mereka hadapi.

Ethan mengangguk kecil. Matanya sempat tertahan pada wajah Kaivan sebelum berkata, "Sampai ketemu lagi." Ada keraguan di suaranya, secercah penyesalan karena sudah melangkah sejauh ini. Di dalam hati, ia tahu ini bukan sekadar petualangan remaja.

Namun sebelum Radit bergerak, Felicia menahannya. Ia mengangkat satu tangan, membuat Radit terhenti di tengah langkah. Tatapannya kembali pada Kaivan, lurus dan tak tergoyahkan.

"Tapi kita harus menemukan Raphael, bukan?"

Suaranya menembus udara malam, membawa keyakinan yang tak memberi ruang untuk mundur.

Radit mengembuskan napas panjang. "Haaah… kalau cuma berurusan sama preman, aku masih bisa. Tapi teroris? Serius? J.A.T.… mereka bukan lelucon. Ini benar-benar gila." Matanya menyipit, dihantui kenangan yang jelas ingin ia lupakan.

Di tengah kegelisahan itu, Kaivan menunduk. Ia membuka kembali Tome Omnicent, berbisik hampir tanpa suara, "Apa kita semua akan selamat?"

Sejenak, halaman itu kosong.

Lalu perlahan, kata-kata terbentuk, seperti takdir yang menjawab bisikan: Tentu saja. Selama kau mengikuti bimbinganku, semua orang akan selamat.

Kaivan membacakannya pelan. Suaranya bergema lembut—sebuah jembatan rapuh antara harapan dan ketakutan.

Felicia mengangguk kecil, matanya tenang dan bercahaya. "Kalau begitu, sudah diputuskan. Kita pergi."

Malam menelan sisa cahaya senja saat Kaivan, Felicia, dan Ethan meninggalkan danau itu.

Di sepanjang jalan Purwakarta yang sunyi, mereka menemukan sebuah penginapan kayu tua. Lampu-lampu redup dan udara hangat menyambut tubuh mereka yang letih. Bukan tempat mewah, tapi cukup—untuk tidur, untuk bernapas, untuk mengumpulkan kembali keberanian.

Sebelum esok tiba… bersama segala hal yang menanti.

Saat malam semakin larut, Felicia bangkit perlahan dari kursinya. Ia menyisir rambut panjangnya dengan jari, lalu mengoleskan sedikit warna tipis di bibirnya—gerakan biasa yang memancarkan keanggunan tanpa usaha.

"Aku keluar sebentar. Mau cari makan," katanya lembut, sambil mengenakan jaket tipis.

Ethan, yang duduk dekat pintu dengan satu kaki bertumpu di kursi, menoleh cemas. "Yakin nggak mau ditemani? Ini sudah cukup malam."

Felicia tersenyum tipis, dingin namun tenang. "Aku akan baik-baik saja."

Langkahnya memudar di antara malam.

Di tengah angin dingin dan cahaya neon yang temaram, ia menemukan warung kecil di tepi jalan. Aroma nasi goreng dan sup bercampur dengan bunyi piring beradu serta gumaman percakapan. Felicia memilih duduk di sudut, di bawah lampu kuning yang sedikit miring. Bayangannya bergetar di atas meja—tenang, namun waspada.

Matanya menyapu ruangan: pintu, dapur, setiap sudut yang terasa tak sepenuhnya wajar. Ada sesuatu dalam keheningan itu yang membuat napasnya tertahan tipis.

Lalu terdengar langkah kaki—mantap, terukur.

Seorang pria mendekat, wajahnya setengah tersentuh cahaya lampu gantung.

"Selamat malam," sapanya dengan suara datar dan tenang. "Boleh saya duduk di sini?"

Felicia tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri pria itu, dari rambut hingga gerak rahangnya. Ia membaca posturnya, mendengarkan nada suaranya, merasakan maksud tersembunyi di baliknya.

Senyum tipis menyentuh bibirnya.

"Silakan," ujarnya lembut namun berhati-hati, seraya mengangguk ke kursi di hadapannya.

More Chapters