WebNovels

Chapter 63 - Jembatan Sebelum Badai

Ruangan itu mendadak sunyi. Setiap tatapan tertuju padanya. Kaivan menarik napas panjang, menyapu wajah mereka satu per satu. Beban hari ini masih menekan bahunya, namun kata-kata itu tetap harus diucapkan.

"Ada kabar," katanya pelan, tapi tegas. "Tome of Omnicent menunjukkanku dua nama. Raphael, di Purwakarta. Tapi sebelum itu, aku harus menemui Ethan. Dia kunci dari semuanya."

Kata-katanya menggantung di udara, memicu rasa ingin tahu.

Felicia mengangkat alis, suaranya tenang namun menyimpan kedalaman. "Ethan? Siapa dia? Kenapa dia jadi kuncinya?"

Kaivan menatap balik. "Tome menyebutnya jembatan. Bukan tujuan akhir, tapi jalan yang akan membawa kita maju. Aku juga belum tahu pasti apa yang menunggu di sana."

"Jembatan? Maksudnya apa?" Zinnia akhirnya bicara. Nadanya datar, tapi kekhawatiran tersembunyi terasa jelas. Jari-jarinya yang ramping mengetuk meja perlahan, ritmenya stabil—tanda pikirannya bekerja keras. "Apa kita bisa benar-benar percaya pada seseorang yang bahkan belum pernah kita temui?"

Kaivan mengembuskan napas, memainkan tali tas di bahunya. "Aku juga nggak yakin. Tapi kita nggak punya pilihan lain. Lagipula, dulu kita semua juga orang asing, kan?"

Suasana serius itu tiba-tiba pecah saat Frans mengangkat tangan ragu-ragu.

Semua mata menoleh padanya.

Kaivan berkedip bingung. "Frans? Ada apa?"

Dengan rasa penasaran polos, Frans bertanya, "Kaivan… benar kamu mandi bareng Thivi kemarin?"

Ruangan itu membeku.

Kaivan menegang, sementara Thivi tertawa kecil, menutup mulutnya. Senyum jahilnya merekah tanpa rasa bersalah.

"Kenapa nanyanya gitu? Bukan hal besar kok. Cuma nggak sengaja ketemu di kamar mandi, kan, Kaivan?"

Felicia memutar mata. "Serius? Kita lagi bahas misi, bukan bercanda aneh," gumamnya tajam.

Radit menahan tawa. "Bro, fokus. Tapi… kakakmu nggak tahu, kan, Van?"

Kaivan menghela napas lalu berdeham tegas. "Cukup. Kita fokus lagi. Ini penting."

Tawa pun mereda.

Mata Zinnia kembali tajam. "Kapan kita berangkat?"

Kaivan menatap mereka semua. "Aku berangkat Jumat sore. Kalian tetap di sini. Aku bakal hubungi kalau ada kabar."

Felicia yang duduk dekatnya perlahan menegakkan badan, seolah sesuatu menembus dadanya. Ia jarang bicara banyak, tapi kalau menyangkut Kaivan, kekhawatiran selalu datang tanpa diundang.

"Aku nggak suka kamu pergi sendirian," katanya pelan. Namun berat suaranya terasa seperti perintah.

Mata merah karmennya menyala—tajam, tapi hangat—terkunci pada Kaivan. Ia bukan tipe yang memohon, tapi ada getaran urgensi halus dalam nadanya.

Kaivan membalas dengan senyum tipis. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

"Aku bakal baik-baik aja, Felicia. Kalau ada apa-apa, aku langsung hubungi kalian."

Suaranya stabil, meski tetap menyimpan beban.

Ia menepuk tas di sampingnya. "Lagipula, aku bawa ini."

Tome of Omnicent.

Nama yang kini bukan lagi sekadar benda. Ia sudah menjadi kunci… sekaligus penjaga sunyi.

Bahunya Felicia sedikit mengendur, meski kegelisahan masih tertinggal. Bahkan senyum paling tulus dari Kaivan belum cukup menenangkannya sepenuhnya.

Di seberang meja, Zinnia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, lalu bertanya dengan nada serius namun lebih ringan.

"Jumat, ya?"

Kaivan mengangguk mantap. "Sesuai arahan Tome. Semua sudah siap."

Jawaban itu menenangkan ruangan sejenak, melunakkan ketegangan.

Namun tak semua pikiran ikut tenang.

Dari sudut ruangan, Thivi mengembuskan asap rokok, bersandar santai.

"Oh iya. Soal HP lama itu, minggu ini diambil, kan?" tanya Kaivan, mencoba menggeser suasana.

Thivi menyeringai, mengangguk sambil meniupkan asap lagi. "Iya. Nanti aku ambil pas pulang."

Suaranya ringan, seperti angin yang membuka jendela ruang gelap.

Kaivan menoleh ke Frans dan Zinnia. "Kalian berdua ikut Thivi nanti."

Tak ada yang menolak.

Di ruangan yang penuh rencana dan kegelisahan, kata-katanya terasa seperti kesepakatan tanpa suara.

Meski begitu, tak semua wajah terlihat tenang.

Felicia duduk tenggelam dalam pikirannya, menggigit bibir pelan.

Suara Zinnia memecah sunyi—lembut tapi tegas.

"Felicia, aku tahu kamu khawatir. Tapi Kaivan tahu apa yang dia hadapi. Kalau ada apa-apa, kita langsung bergerak."

Felicia menarik napas pelan, lalu mengangguk.

"Aku tetap nggak suka dia pergi sendirian," bisiknya.

Kata-katanya jatuh seperti batu ke air tenang—kecil, tapi tenggelam dalam.

Workshop itu perlahan kembali sunyi.

Tawa canggung sudah menghilang. Tinggal kesadaran tanpa kata yang memenuhi udara. Mereka semua tahu langkah ini bukan akhir… tapi gerbang menuju ujian yang akan mengguncang mereka satu per satu.

Kaivan berdiri, menatap wajah-wajah yang kini dipenuhi tekad.

Tanpa kata lagi, ia melangkah keluar.

Motor tuanya menunggunya—kini terasa lebih dari sekadar mesin. Ia seperti saksi setia satu-satunya, di jalan yang terus menariknya menjauh dari semua orang.

Tujuan: Purwakarta.

Nama Raphael, tertulis di halaman kuno Tome Omnicent, kini menjadi kompas perjalanannya.

Semakin roda berputar, semakin jelas satu hal:

Ini bukan sekadar perjalanan mencari seseorang.

Ini perjalanan untuk menemukan kembali dirinya… di dunia yang tak pernah mau berhenti bergerak.

Namun hidup jarang membiarkan jalan tetap mulus lama-lama.

Di tengah padatnya lalu lintas Cimahi, sebuah kejadian tak terduga datang tanpa peringatan.

Saat ia menyalip motor yang berjalan lambat, teriakan marah meledak dari belakang.

Suara kasar itu menghancurkan ketenangan rapuh yang baru saja mulai terbentuk di dadanya.,

More Chapters