WebNovels

Chapter 56 - Saat Dunia Melambat

"Itu barusan maksudnya apa?! Kamu nyeret aku kayak karung! Kenapa aku juga harus latihan?!" protes Radit tajam.

Felicia membalas tatapannya tanpa goyah. Suaranya tenang, tapi penuh ketegasan. "Aku tidak akan membiarkan kamu jadi beban bagi Kaivan. Kamu punya potensi, tapi tubuhmu perlu diasah lagi." Kata-katanya jatuh seperti palu yang menghantam harga dirinya.

Kata "beban" menghantam Radit keras. Tangannya mengepal, amarah mulai menyala. "Beban? Kamu pikir aku beban?" suaranya meninggi. Ia melangkah mendekat, matanya menyala. "Aku tidak pernah jadi beban. Selama ini aku selalu bisa diandalkan!"

Di sudut ruangan, Kaivan duduk diam, mengamati tanpa banyak reaksi. Baginya, ini tak lebih dari latihan biasa. Ia gagal menangkap maksud tersembunyi di balik tindakan Felicia, mengira semua ini hanya bagian dari latihan.

Felicia melirik Kaivan lalu Radit, senyum kecil terlukis di bibirnya. "Kalian berdua, serang aku. Aku ingin lihat sejauh mana kemampuan kalian."

Tatapan Kaivan dan Radit saling bertemu. Keraguan sempat menggantung, namun tak ada jalan untuk mundur. Felicia berdiri tenang, seperti angin sepoi yang menyembunyikan badai.

Radit menyerang lebih dulu, amarahnya menjadi bahan bakar kekuatannya. Tinju dilontarkan lurus ke depan. Felicia hanya menundukkan kepala, memutar tubuh ringan sebelum memukul perutnya. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuatnya goyah. Radit mundur terhuyung, batuk tertahan.

Kaivan menyusul dari sisi lain, lompatannya tajam dan cepat. Felicia berputar, merendahkan posisi sebelum menyapu kakinya. Kaivan jatuh, napasnya seakan terhempas keluar.

"Ini bukan soal kekuatan," kata Felicia, suaranya lembut seperti embun di pagi dingin. "Ini soal ritme. Soal kerja sama."

Radit perlahan berdiri, memegangi perutnya. "Sial… nggak seharusnya ngerokok tadi," gumamnya, setengah kesal, setengah kagum.

Kaivan tetap diam, matanya terpaku pada Felicia, mencari sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Felicia berdiri tegap, tak tergoyahkan. "Kalian berdua punya potensi. Tapi kalian belum cukup kuat. Dalam pertarungan sungguhan, tak ada ruang untuk satu kesalahan pun."

Radit menatapnya. Kali ini bukan dengan protes, tapi dengan rasa hormat yang perlahan tumbuh. Felicia bukan sekadar partner sparring. Ia mengajari mereka sesuatu yang lebih dalam: untuk bertahan hidup, mereka harus bergerak sebagai satu jiwa.

Latihan ini, sekeras apa pun, bukan untuk dirinya sendiri. Felicia ingin Kaivan dan Radit menjadi kuat—bukan beban, melainkan penjaga satu sama lain.

Di sudut ruangan, Kaivan duduk di lantai, napasnya kasar, keringat menetes dari dahinya. Namun pikirannya tidak tertinggal di tanah—ia bergejolak di dalam dirinya. Sesuatu mulai terbangun jauh di kedalaman, bukan rasa sakit… melainkan kesadaran.

"Pikiran dipercepat…" gumamnya.

Di sampingnya, Tome Omnicent perlahan terbuka. Halaman-halamannya berbalik sendiri, bercahaya oleh kata-kata:

"Ketika kamu pingsan, kapasitas otakmu meningkat dua puluh persen. Saat melawan Julian, kamu menggunakannya tanpa sadar."

Kaivan menahan napas. Seolah ada dunia baru yang terbuka di dalam dirinya. "Tapi… bagaimana?" bisiknya.

Buku itu menjawab, kata-katanya seperti bisikan:

"Kendalikan seperti rasa takut, seperti adrenalin. Saat kamu takut, tubuhmu menjadi dingin karena darah dialihkan ke organ vital. Otak memicu mode bertahan hidup. Sekarang, kamu bisa mengaksesnya lebih cepat. Dunia akan melambat, karena pikiranmu dipercepat."

Kaivan membaca setiap kata dengan saksama. Ini bukan sekadar kemampuan. Ini keajaiban. Namun sebelum euforia menutupi akalnya, peringatan lain muncul:

"Tanpa kendali, kekuatan ini bisa menghancurkan tubuhmu. Tubuh yang belum siap bisa runtuh menanggung bebannya."

Kaivan mengepalkan tangan. Bukan karena takut, tapi karena sadar: sesuatu di dalam dirinya telah berubah. Tidak ada jalan untuk kembali.

Senja melukis langit dengan warna jingga tembaga. Di lantai atas workshop, Kaivan berdiri, napasnya berat namun tatapannya tajam. Felicia mengamatinya dengan saksama, senyum tipis terlukis di bibirnya. Ada sesuatu yang berbeda darinya—lebih tenang, lebih teguh.

"Felicia," kata Kaivan mantap. "Kita lanjutkan."

Felicia mengangkat alis, sedikit terkejut, namun tidak menolak. Ia menyilangkan tangan. "Kamu yakin siap untuk serius?"

More Chapters