WebNovels

Chapter 54 - Februari, Saat Ia Akan Pergi

"Bagaimana kabar teman-temanmu, Kaivan?" tanya sang nenek, menuangkan teh ke dalam cangkir porselen yang terukir pola seperti jejak waktu. Suaranya lembut, dipenuhi kasih sayang.

"Mereka baik-baik saja, Nek. Tapi… belakangan ini banyak sekali yang terjadi. Membuatku terus berpikir." Kaivan memutar cangkir di tangannya, tatapannya melayang ke arah tirai renda di jendela, seolah mencoba menyusun kembali serpihan pikiran yang tercerai-berai.

Percakapan mereka mengalir hangat. Dalam keheningan yang sama sekali tidak canggung, Kaivan merasakan kedekatan yang aneh, seolah ia menemukan kembali potongan jiwanya yang hilang, entah sejak kapan.

Kaivan datang bukan hanya untuk menikmati teh dan ketenangan. Sebuah pertanyaan yang tak lagi bisa ia kubur menekan bibirnya. "Nek… apakah suami Nenek pernah pingsan saat memegang buku ini?" Suaranya bergetar, hati-hati, seperti menyentuh luka lama.

Tatapan sang nenek tertahan sejenak, lalu ia menggeleng. "Tidak. Dia bahagia dengan buku itu… meski kadang terasa berat baginya." Kata-katanya lembut, namun bayangan keraguan samar berkilat di matanya. Ia menambahkan, "Tapi temannya, asistennya waktu itu… dia selalu sakit kepala setiap menyentuh buku itu. Siapa namanya, ya? Nenek sudah lupa."

Jawaban itu menghantam Kaivan dalam diam. Felicia juga sering mengeluh sakit kepala. Kebetulan… atau gema takdir yang terulang?

Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, nada suara sang nenek berubah, tegas namun tetap lembut. "Kaivan, tahun depan, Februari 2010, Nenek akan pergi. Kalau kamu ingin berkunjung, masuk saja. Kamu bisa membuka pintunya dengan Tome Omnicent."

Februari. Pergi. Kata-kata itu tenggelam dalam pikirannya seperti kabut. Apa arti "pergi"? Meninggal? Menghilang? Atau sesuatu yang sama sekali berbeda?

"Nek… maksud Nenek apa?"

Ia hanya tersenyum. Senyum kecil yang terasa mengetahui segalanya, namun memilih membiarkan waktu yang menjawab.

Saat Kaivan akhirnya berpamitan dan menaiki motor, langkahnya terasa berat meski tangannya tak membawa apa pun. Jalan pulang terbentang sunyi, namun pikirannya bergemuruh. Angin pagi menyusup ke balik jaketnya, tapi yang menusuknya bukan dingin… melainkan pertanyaan yang tak mau pergi.

"Kenapa Februari 2010?" gumamnya pelan, matanya kosong menatap jalan di depan. Tatapan sang nenek—damai, namun menyimpan begitu banyak hal—terus menghantui pikirannya. Tome Omnicent telah membuka halaman baru, dan Kaivan tahu… tak akan ada jalan untuk kembali.

Motornya berhenti di depan workshop, bangunan bata tua yang hidup oleh energi anak muda. Deru mesin, ledakan tawa, dan denting logam menyambutnya. Tempat ini lebih dari sekadar workshop. Ini adalah denyut kehidupan, tempat mimpi ditempa dari sisa-sisa benda yang terlupakan.

Saat Kaivan turun, Radit melambaikan kunci inggris berminyak dari tangannya. Frans menyambutnya dengan senyum penuh percaya diri. Zinnia mengangguk pelan dari sudut ruangan, jemarinya lincah memilah komponen elektronik. Felicia berdiri tegap, sementara Thivi melompat kecil dengan ceria, membawa segelas es teh.

"Kamu akhirnya datang juga, Kaivan!" seru Radit penuh semangat. "Ingat? Hari ini target besar!"

Kaivan membalas dengan senyum tipis, kehangatan menyebar di dadanya. Namun jauh di dalam, ia tahu sesuatu telah berubah. Tome Omnicent bukan sekadar buku. Ia telah membuka pintu—menuju kekuatan, rahasia, dan beban yang tumbuh diam-diam.

Ia meletakkan tasnya, lalu berjalan menuju meja yang dipenuhi alat dan perangkat rusak. Radit dan Frans sudah membongkar beberapa ponsel.

"Ayo, Kaivan, kami butuh tanganmu di sini," ujar Frans sambil tersenyum lebar.

Mereka bekerja dalam ritme yang selaras. Radit cepat, Frans teliti, Kaivan fokus tanpa ragu. Bunyi obeng, patahan komponen, dan denting logam kecil menyatu menjadi musik tekad.

Di meja lain, Felicia dengan hati-hati mengekstrak emas dari papan sirkuit. Sentuhannya lembut namun mantap, matanya tajam mengawasi setiap detail. Di tengah kebisingan, ketenangannya terasa hampir seperti doa.

Sementara itu, Thivi dan Zinnia menyiapkan minuman. "Es teh, siapa yang mau?" seru Thivi ceria sambil membawa nampan. Senyumnya melunakkan udara yang terasa berat.

"Aku!" Frans mengangkat tangan tanpa menghentikan pekerjaannya. Thivi menyerahkan segelas padanya sambil menggoda, "Kamu selalu paling duluan."

Zinnia mendekati Felicia dengan tenang. "Jangan lupa minum, ya," ucapnya lembut sambil tersenyum. Felicia mengangguk, membalas senyum itu.

Waktu terus mengalir. Panas menekan dari segala arah, namun tawa dan tekad menjaga semangat mereka tetap hidup. Workshop ini bukan sekadar ruangan. Ini rumah bagi perjuangan dan mimpi.

Saat matahari terbenam, cahaya keemasan menari di lantai. Pekerjaan hari itu selesai: 150 ponsel dibongkar, 134 gram emas murni terkumpul. Kemenangan kecil… namun terasa begitu besar.

Kaivan menjatuhkan diri di sudut ruangan, lelah namun puas. Felicia mendekat membawa kipas kecil, mengibaskan angin sejuk ke wajahnya. "Capek?" tanyanya lembut.

Kaivan hanya mengangguk, senyum samar tertarik di bibirnya.

Lalu Frans tertawa kecil, menyeringai. "Wah… hidup banget itu. Dimanja kayak gitu."

More Chapters