WebNovels

Chapter 26 - Chapter 26

Kami meninggalkan Lembah Keheningan dengan langkah yang berat. Meskipun kami berhasil mendapatkan Chronos-Fungus dan meloloskan diri dari Mordred, tidak ada sorak sorai kemenangan. Langit Wasteland yang kelabu seolah mencerminkan suasana hati kami yang mendung.

Varg dan kawanan serigalanya sudah pergi, meninggalkan kami sendirian di hamparan tanah tandus yang dipenuhi bebatuan tajam.

Malam itu, kami mendirikan tenda di balik sebuah bukit batu untuk menghindari angin beracun. Lila dan Seraphina, yang kelelahan secara mental dan fisik, sudah tertidur lebih dulu di dalam tenda.

Di luar, hanya ada aku, Elena, api unggun kecil yang kuciptakan dari Mark of Ignis, dan panci hitamku yang sedang merebus sisa stok sayuran kering ditambah sedikit irisan Chronos-Fungus.

"Makanlah, Nona," tawarku, menyodorkan mangkuk kayu berisi sup hangat. "Jamur ini pahit, tapi aku sudah menetralkannya dengan sedikit madu hutan."

Elena duduk di seberang api unggun, memeluk lututnya. Zirah peraknya dilepas sebagian, memperlihatkan perban di bahunya akibat pertarungan melawan Mordred. Dia tidak mengambil mangkuk itu. Dia hanya menatap api dengan tatapan kosong.

"Aku tidak lapar," jawabnya dingin.

"Kau butuh energi. Kau kehilangan banyak mana tadi."

Elena mendongak, matanya menatapku tajam. Kilatan amarah yang tadi dia tahan di gua kini mulai keluar. "Energi? Kau bicara soal energi setelah apa yang kau lakukan di lembah tadi?"

"Aku menyelamatkan kita, Elena. Mordred terlalu kuat untukmu saat itu."

"Bukan itu masalahnya!" Elena berdiri tiba-tiba, menendang kerikil ke arah api unggun hingga percikannya berterbangan. "Masalahnya adalah cara kau melakukannya! Kau menggunakan 'Otoritas' itu. Kau membiarkan Dia mengambil alih!"

Aku menaruh mangkuk sup itu perlahan di atas batu. "Itu bukan Dia. Itu masih aku. Aku hanya... meminjam kekuatannya sedikit."

"Meminjam?" Elena tertawa getir. Dia berjalan mendekatiku, mencengkeram kerah bajuku yang sudah robek. "Rian, aku melihat matamu tadi. Itu bukan mata koki yang konyol. Itu mata seorang tiran! Kau pikir aku tidak takut? Aku lebih takut melihatmu berubah menjadi monster daripada mati di tangan Mordred!"

"Jangan bicara soal mati!" bentakku, menepis tangannya. "Tugasmu adalah hidup! Jika aku harus menjadi monster sebentar untuk memastikan kau tetap bernapas, aku akan melakukannya seribu kali!"

"Dan itulah yang salah!" teriak Elena, air mata frustrasi menggenang di matanya. "Setiap kali kau melakukan itu, kau hilang sedikit demi sedikit! Kau pikir aku bisa hidup tenang mengetahui nyawaku dibayar dengan jiwamu? Jika harganya adalah kau menjadi Raja Iblis yang harus kubunuh nanti... lebih baik aku mati di lembah itu!"

Hening. Kata-kata Elena menggantung di udara malam yang dingin.

Aku terdiam, merasakan dadaku sesak. Aku tahu dia benar. Tapi egoku—atau mungkin insting pelindungku—menolak untuk mengakui bahwa aku salah.

"Kau egois, Nona," kataku lirih.

"Kau yang egois, Rian. Kau tidak membiarkanku melindungimu dengan caraku sendiri."

Elena berbalik, menyeka air matanya kasar. "Aku mau tidur. Jangan bangunkan aku kecuali dunia kiamat."

Dia berjalan menjauh menuju tenda. Namun, baru tiga langkah dia berjalan, tanah di bawah kakinya tiba-tiba retak.

SRETTT!

Sebuah bayangan hitam memanjang dari celah tanah, berbentuk seperti tentakel tajam yang terbuat dari asap padat. Itu adalah Void Stalker, monster pembunuh bayangan yang rupanya mengikuti jejak mana kami dari lembah.

"Elena!" teriakku.

Elena bereaksi, tapi dia terlambat sepersekian detik karena kelelahan dan emosi. Dia mencoba menghunus pedangnya, tapi tentakel bayangan itu lebih dulu melilit kakinya dan membantingnya keras ke tanah.

BRUK!

"Ugh!" Elena mengerang kesakitan. Tentakel lain muncul, kali ini ujungnya berbentuk jarum raksasa, mengarah tepat ke leher Elena yang tidak terlindungi zirah.

"MATI KAU, CAHAYA PALSU!" suara mendesis terdengar dari bayangan itu.

Waktu seolah melambat. Aku melihat ujung jarum itu turun. Aku melihat mata Elena yang membelalak kaget. Aku melihat kematian yang begitu dekat.

Rasa takut itu datang lagi. Rasa takut kehilangan. Dan bersamanya, datanglah amarah yang familiar. Bisikan Astaroth kembali menggema di kepalaku, menawarkan solusi instan.

"Hancurkan... Ledakkan seluruh area ini... Biarkan amarahmu membakar segalanya..."

Darahku mendidih. Garis hitam di tanganku merayap naik dengan cepat, hendak mengambil alih seluruh kesadaranku.

[Corruption Meter: 2.85% -> 3.50% (Melonjak Cepat)]

Tidak.

Aku menggertakkan gigi. Jika aku meledakkan area ini seperti yang diinginkan Astaroth, Elena juga akan terluka. Aku tidak butuh ledakan nuklir. Aku butuh pisau bedah.

"Aku tidak akan menyerahkan kemudi padamu, Brengsek," geramku pada suara di kepalaku. "Aku kokinya di sini. Kau cuma kompornya!"

Aku memejamkan mata sesaat, fokus pada rasa pahit Chronos-Fungus yang masih tertinggal di lidahku. Aku menahan lonjakan energi itu, menekannya, memampatkannya, dan memaksanya tunduk pada kehendakku.

Alih-alih membiarkan energi itu meledak keluar secara liar, aku mengalirkannya ke tanganku, lalu ke gagang Panci Hitam.

[Sistem: Sinkronisasi Paksa. Pengguna mengambil alih kendali arus mana.] [Output Daya: Dibatasi pada 3%.] [Mode: Precision Strike.]

Aku membuka mata. Mataku bersinar ungu, tapi pupilku tetap fokus dan jernih. Tidak ada kegilaan di sana. Hanya ada fokus mutlak.

"Panci... Mode Guillotine."

Aku melempar panci hitam itu. Bukan lemparan sembarangan. Panci itu melesat lurus, memotong udara dengan kecepatan suara, meninggalkan jejak garis ungu tipis di belakangnya.

Tentakel bayangan yang hendak menusuk leher Elena itu berjarak satu inci dari kulitnya saat...

CRASH!

Panci hitam itu menghantam tentakel tersebut, bukan dengan benturan tumpul, tapi memotongnya putus seolah panci itu adalah piringan gergaji laser.

"KIEEEKK!" Void Stalker itu menjerit, wujud aslinya terlempar keluar dari bayangan.

Aku tidak berhenti di situ. Aku melompat ke depan, menangkap panci yang kembali memantul ke tanganku. Aku berdiri di depan Elena.

Monster itu mencoba menyerang lagi dengan ribuan jarum bayangan.

Aku mengangkat tangan kiriku. Aura ungu menyelimuti telapak tanganku, membentuk perisai kecil yang padat.

"Duduk," perintahku.

Bukan teriakan yang menggelegar seperti di lembah. Itu adalah perintah yang tenang, tapi mengandung bobot 'Otoritas' yang terukur.

Tekanan gravitasi jatuh tepat di atas tubuh monster itu dan hanya di atas monster itu. Tanah di sekitarnya tidak retak. Elena yang ada di belakangku tidak merasakan tekanan sedikit pun.

Monster itu gepeng ke tanah, tidak bisa bergerak.

"Untuk seseorang yang mengintip pembicaraan orang lain," kataku dingin sambil mengangkat panci tinggi-tinggi. "Kau sangat tidak sopan."

BAM!

Aku menghantamkan panci itu tepat ke kepala monster tersebut. Energi ungu 3% yang terkonsentrasi di pantat panci menghancurkan inti mana monster itu seketika, mengubahnya menjadi debu tanpa ledakan yang berlebihan.

Sunyi kembali.

Napas ku teratur. Tidak ada rasa lapar yang gila. Tidak ada keinginan untuk membunuh makhluk lain.

Aku melihat tanganku. Garis hitam itu berhenti tepat di siku, bersinar redup, lalu perlahan memudar kembali menjadi seperti tato samar.

[Corruption Meter: 3.00% (Stabil).] [Pencapaian Baru: "Demon King's Appetizer". Anda berhasil mencicipi kekuatan tanpa keracunan.]

Aku berbalik. Elena masih terbaring di tanah, menatapku dengan mata lebar. Dia melihat semuanya. Dia melihat pancaran ungu itu, tapi dia juga melihat bahwa aku... tetaplah aku.

Aku mengulurkan tangan padanya. "Kau baik-baik saja, Nona?"

Elena menatap tanganku yang terulur, lalu menatap wajahku. Dia mencari tanda-tanda kegilaan, tapi hanya menemukan kekhawatiran yang tulus.

Perlahan, dia meraih tanganku. "Kau... kau mengendalikannya."

"Hanya 3%," jawabku sambil menariknya berdiri. "Lebih dari itu, mungkin aku akan mulai meminta pajak pada batu-batu di sini."

Elena tidak melepaskan tanganku. Dia justru meremasnya erat. Tubuhnya masih gemetar sisa adrenalin. "Tadi itu... berbeda. Kau tidak menghilang. Kau ada di sana, mengendalikan monster itu."

"Aku ingat kata-katamu," ujarku pelan. "Bahwa kau takut aku hilang. Jadi aku memutuskan untuk tidak hilang. Aku menggunakan rasa takut itu sebagai... bumbu penyeimbang."

Elena menunduk, menyembunyikan wajahnya. "Bodoh. Kau hampir membuatku jantungan dua kali dalam satu jam."

"Maaf."

"Jangan minta maaf," Elena mengangkat wajahnya, ada sedikit senyum lega di sana, meski matanya masih basah. "Terima kasih. Karena sudah tetap menjadi Rian."

Kami kembali duduk di dekat api unggun. Sup jamur itu sudah agak dingin, tapi Elena mengambilnya dan memakannya sampai habis tanpa protes.

Malam itu, di tengah Wasteland yang berbahaya, sebuah pemahaman baru terbentuk di antara kami. Kekuatan Astaroth memang kutukan, tapi jika aku bisa membelahnya kecil-kecil dan "memasaknya" dengan hati-hati... mungkin, hanya mungkin, aku tidak harus menjadi musuhnya di akhir cerita.

Meskipun jauh di lubuk hatiku, aku tahu 3% hanyalah permulaan. Masih ada 97% lagi yang menunggu untuk melahapku. Dan sumpah Elena di bawah bulan masih berlaku.

"Rian," panggil Elena sebelum masuk ke tenda.

"Ya?"

"Masakanmu besok harus lebih enak dari ini. Itu perintah."

Aku tersenyum. "Siap, Komandan."

More Chapters