WebNovels

Chapter 7 - Bab 6 — Kekalahan

Cahaya bulan menggantung rendah di atas lembah.

Tidak utuh.

Seolah terbelah oleh aura yang saling bertabrakan di bawahnya.

Shi Liu berdiri tegak, sepuluh ekornya terbentang penuh. Setiap ekor memantulkan kilau kebiruan yang dingin, mengalir seperti cahaya hidup. Udara di sekelilingnya tertekan hingga hampir membeku.

Di hadapannya, Jiu Yue terengah. Masih terpaku dengan apa yang dia lihat.

Tubuhnya sudah melewati batas. Jalur energi di dalam dadanya bergetar hebat, inti batin yang sejak tadi bergejolak kini terasa terkoyak dari dalam.

Namun ia belum jatuh.

Shi Liu mengangkat tangannya perlahan.

Bukan untuk menyerang.

Melainkan untuk menarik.

Energi yang dilepaskannya berubah bentuk—tidak lagi seperti gelombang, tetapi seperti cengkeraman tak kasatmata yang langsung mengunci dada Jiu Yue.

"Ugh—!"

Jiu Yue membungkuk. Tubuhnya kejang.

Di dalam dadanya, sesuatu berkilat.

Sesaat.

Sangat singkat.

Lagi—Pecahan jiwa itu muncul—seperti serpihan cahaya yang terdistorsi, berusaha keluar dari tubuh yang selama ini menjadi wadahnya.

Shi Liu memusatkan seluruh kesadarannya.

"Inilah kau."

Ekor-ekor di belakangnya bergetar serempak, memperkuat tarikan. Tanah di sekitar mereka terangkat sedikit, batu-batu kecil melayang di udara.

Namun—

pecahan jiwa itu lagi-lagi menolak.

Alih-alih kembali, cahaya itu berdenyut keras, lalu menyerang. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Ledakan energi kembali menghantam Shi Liu dari jarak dekat.

"—!"

Tubuh Shi Liu terdorong mundur setengah langkah. Untuk pertama kalinya, ekspresi dinginnya retak. Bukan karena sakit—melainkan karena pengkhianatan.

Pecahan jiwa itu berputar di udara, lalu melesat kembali ke dada Jiu Yue.

Masuk.

Semakin jauh—Semakin melekat erat.

Jiu Yue terjatuh ke tanah.

Tubuhnya limbung, lalu diam.

Sunyi.

Ekor-ekor Shi Liu berayun perlahan, namun aura di sekelilingnya menjadi lebih gelap.

"Kau tetap Menolak…" gumamnya rendah.

"Bahkan setelah berkali-kali kupanggil sendiri."

Ia melangkah maju.

Saat itu—

Jiu Yue terbatuk pelan.

Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka.

Rasa panas di dadanya… hilang.

Yang tersisa hanyalah kelelahan dan kebingungan.

Ia mendongak dan melihat sosok di hadapannya.

Rambut perak disinari bulan. Mata merah menyala. Sepuluh ekor yang menjulang seperti mitos hidup.

Makhluk apa ini?

Jiu Yue mengerutkan kening, lalu tatapannya mengeras.

"Sebenarnya Siapa kau?" suaranya serak,

"Kenapa kau begitu marah hingga menyerangku?"

Amarah Shi Liu memuncak.

Ia menatap Jiu Yue dengan dingin yang tajam—bukan karena gadis itu, melainkan karena bagian dirinya sendiri yang memilih bertahan di tubuh orang lain.

"Kau tidak perlu tahu."

Tangannya terangkat, aura kembali terkondensasi menjadi serangan mematikan.

"Tunggu!" Teriak Jiu Yue.

Jiu Yue merasakan bahaya yang lebih besar sedang berusaha menjemputnya.

Ia mengangkat tangan, energi pertahanan meledak keluar tepat waktu.

—BRAK!

Benturan kekuatan mengguncang lembah.

Jiu Yue terdorong mundur, namun tidak terlempar. Ia berdiri terhuyung, napasnya berat, mata menyala penuh kewaspadaan.

Shi Liu menyipitkan mata.

"Masih bisa menangkis…" katanya dingin.

"Menarik."

Cahaya bulan kembali menyinari mereka berdua—dua eksistensi yang seharusnya tidak pernah bertemu, kini berdiri saling berhadapan di ambang kehancuran.

Dan jauh di paviliun—

dua aura lain mulai bergerak.

Aura Shi Liu melonjak tajam.

Sepuluh ekornya membentang penuh, cahaya kebiruan berubah menjadi putih pucat—tanda tekanan kekuatan yang melampaui batas normal. Tanah di bawah kakinya retak, lembah bergetar seolah menolak keberadaannya.

"Keluar," perintahnya dingin, penuh otoritas kuno.

Tarikan energi kembali mencengkeram dada Jiu Yue.

Namun kali ini—

jawabannya datang lebih keras.

Dari dalam tubuh Jiu Yue, pecahan jiwa itu berdenyut liar. Bukan sekadar bertahan—melainkan mengambil alih.

Jiu Yue menjerit tertahan. Tubuhnya terangkat sedikit dari tanah, lalu—

—BOOM!

Gelombang energi meledak keluar dari dadanya.

Bukan energi Jiu Yue.

Itu energi Shi Liu sendiri, namun telah terdistorsi—liar, tidak patuh, dan penuh penolakan.

Shi Liu terhantam langsung.

Tidak sempat bertahan.

Tubuhnya terpental ke belakang, menghantam dinding batu lembah dengan suara keras. Cahaya di ekor- ekornya meredup drastis, dua di antaranya bahkan menghilang sejenak sebelum kembali dalam bentuk bayangan samar.

Untuk pertama kalinya—

Shi Liu berlutut.

Napasnya berat. Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya, jatuh ke tanah dan menguap sebelum menyentuh batu.

"Beraninya kau…" suaranya rendah, bergetar antara marah dan tidak percaya. Hantaman itu benar-benar membuat tubuh Shi Liu terluka parah.

"Kau memilih wadah… dan menolakku."

Di depan, Jiu Yue jatuh berlutut pula. Tubuhnya gemetar hebat, matanya setengah terpejam. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi—hanya tahu bahwa sesuatu di dalam dirinya melindunginya dengan cara brutal.

Udara bergetar lagi.

Pecahan jiwa itu tidak keluar.

Sebaliknya, ia telah mengunci diri lebih dalam, menyatu lebih erat dengan inti batin Jiu Yue, menciptakan penghalang yang bahkan Shi Liu tidak bisa tembus saat ini.

Shi Liu perlahan berdiri.

Ekor- ekornya menyusut, satu per satu, hingga kembali tersembunyi. Aura di sekelilingnya ditarik paksa, ditekan ke dalam, meninggalkan kehampaan dingin.

Ia menatap Jiu Yue lama.

Bukan dengan niat membunuh.

Melainkan dengan penilaian ulang.

"…Aku akan kembali," katanya pelan, namun sarat ancaman.

"Dan saat itu, kau—atau apapun yang bersembunyi di dalam tubuhmu—tidak akan punya pilihan."

Tanpa menunggu jawaban, tubuh Shi Liu larut ke dalam kabut. Ruang di sekitarnya terdistorsi, lalu menutup rapat.

Lembah kembali sunyi.

Jiu Yue tersungkur sepenuhnya.

Cahaya bulan menyinari wajahnya yang pucat, napasnya tersengal, dadanya kini tenang—seolah tidak pernah ada pertarungan.

Namun jauh di dalam—

sesuatu membuka mata.

Akar yang Menyaksikan Kehancuran

Kabut terbelah.

Shi Liu muncul di hadapan Pohon Kehancuran.

Batangnya menjulang seperti tulang dunia, retak-retak hitam merambat di permukaannya, memancarkan aura tua yang bahkan langit pun enggan mendekat. Daun-daunnya tidak hijau—melainkan kelam, berkilau redup seperti abu yang masih hidup.

Shi Liu berlutut.

Bukan karena tunduk.

Melainkan karena tubuhnya menolak berdiri.

Retakan cahaya muncul di dadanya—jejak benturan dengan pecahan jiwa yang tadi menolaknya. Setiap napas terasa seperti menarik duri ke dalam paru-parunya.

"Aku gagal," katanya singkat.

Akar Pohon Kehancuran bergerak pelan, menyusuri tanah seperti ular raksasa. Udara di sekitarnya bergetar, lalu suara itu terdengar—bukan dari atas, bukan dari bawah, melainkan langsung di dalam kesadaran.

"Kau akan hancur jika terus melawan dirimu."

Shi Liu mengangkat kepala.

Matanya menyala tajam, namun di baliknya ada retakan halus—amarah yang tidak sepenuhnya terkontrol.

"Itu bukan diriku," jawabnya dingin.

"Itu pecahan yang menyimpang."

Akar berhenti tepat di hadapannya.

"Tidak," suara itu menekan.

"Itu adalah bagian yang memilih bertahan hidup."

Shi Liu mengepalkan tangan. Tanah di sekitarnya retak lagi.

"Diam."

Batang pohon berdenyut.

"Kau memaksanya kembali sebelum waktunya."

"Dan ia memilih wadah yang mampu menahanmu."

Bayangan cahaya lembah terpantul di permukaan batang—Jiu Yue yang terjatuh, pecahan jiwa yang berbalik menyerang.

Untuk sesaat, Shi Liu terdiam.

Lalu ia berdiri perlahan, meski tubuhnya masih bergetar.

"Aku tidak akan berhenti," katanya rendah.

"Entah ia kembali dengan patuh… atau kuhancurkan bersama wadahnya."

Pohon Kehancuran tidak menjawab segera.

Daun-daunnya berdesir pelan, seperti tawa yang sangat tua.

"Jangan gegabah, Jika kau memaksa pengambilan itu lagi dalam keadaanmu sekarang," suara itu menurun, berat,

"yang hancur bukan dia."

Shi Liu menatap batang pohon tanpa berkedip.

"…lalu siapa?"

Akar itu perlahan mundur ke dalam tanah.

Jawabannya datang pelan, namun mutlak.

"Kau."

Kabut kembali menelan ruang.

Shi Liu berdiri sendirian di hadapan Pohon Kehancuran, luka di jiwanya masih berdenyut—dan untuk pertama kalinya sejak ia ada, sebuah kemungkinan muncul di benaknya:

bahwa musuh terbesarnya…

bukan manusia.

bukan wadah.

Melainkan dirinya sendiri.

Akar Pohon Kehancuran kembali bergerak.

Tidak agresif.

Tidak mengancam.

Namun setiap geserannya membuat ruang di sekitarnya terasa lebih sempit, seolah dunia sendiri mendengarkan.

"Ada satu jalan yang belum kau coba."

Shi Liu tidak berbalik.

Tatapannya tetap tertancap pada batang pohon yang retak.

"Aku tidak meminta saran," katanya dingin.

Akar berhenti tepat di hadapannya.

"Dan kau tidak meminta izin saat melawan dirimu sendiri."

Cahaya samar muncul di retakan batang—memperlihatkan kembali gambaran pecahan jiwa yang bersembunyi di dalam dada Jiu Yue. Kali ini, bukan bergejolak, melainkan berdiam… waspada.

"Lihatlah! Ia telah berlabuh," lanjut suara itu.

"Bukan karena paksaan. Melainkan karena pilihan."

Shi Liu mengepalkan tangan.

"Pilihan yang salah."

Batang pohon berdenyut lebih kuat.

"Tidak bagi hukum jiwa."

"Apa yang masuk dengan sukarela, hanya bisa keluar dengan sukarela."

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada serangan di lembah.

Shi Liu akhirnya menoleh.

"Maksudmu," suaranya rendah dan tajam,

"Aku harus meminta."

Akar Pohon Kehancuran bergetar pelan—bukan tawa, bukan ejekan.

"Bukan meminta."

"Tapi membuat wadahnya memilih."

Udara menjadi hening.

"Jika kau memaksanya lagi," suara itu menurun, mengeras,

"Pecahan jiwamu itu akan terus melindungi dirinya—dan kau akan terus terluka oleh kekuatanmu sendiri."

Shi Liu terdiam lama.

Bayangan bulan, ekor yang terentang, dan kilatan cahaya yang menyerangnya kembali berputar di benaknya.

"…Dan jika wadah itu menolak?" tanyanya akhirnya.

Jawabannya sederhana. Kejam.

"Maka kau tidak akan pernah utuh."

Kesunyian jatuh berat.

Shi Liu menutup mata sesaat.

Untuk pertama kalinya, jalan yang terbentang di hadapannya bukan lagi perburuan—melainkan permainan pilihan.

Ia membuka mata kembali.

"Aku akan membuatnya memilih," katanya pelan.

"Dengan caraku."

Shi Liu merasakan Retakan cahaya di dadanya mulai melebar.

Bukan luka fisik—melainkan ketidakseimbangan eksistensi. Setiap tarikan napas membuat inti kekuatannya bergetar, seperti sesuatu yang perlahan runtuh dari dalam.

Ia tetap berdiri di hadapan Pohon Kehancuran.

Namun kini, tanah di bawah kakinya mulai menghitam.

Akar-akar halus menyentuh ujung sepatunya, lalu menarik diri—seolah mengukur berapa lama ia masih bisa bertahan.

"Kehancuranmu telah dimulai," suara Pohon Kehancuran bergema rendah.

"Bukan karena luka."

"Melainkan karena kau melupakan alasan kau dilahirkan."

Shi Liu tertawa kecil. Dingin. Hampa.

Batang pohon berdenyut keras.

Udara bergetar.

"Jangan lupa! Kau dilahirkan untuk menyeimbangkan akhir."

"Aku tau—"

Bayangan masa lalu muncul di retakan batang—api langit runtuh, dunia lama retak, makhluk-makhluk abadi saling melahap. Di tengah kehancuran itu, seekor rubah berekor sepuluh lahir dari inti kehampaan.

"Kau bukan pemangsa."

"Kau bukan penjaga."

"Kau adalah penutup."

Shi Liu menegang. Ingatan Li GE selalu berputar di kepalanya.

Akar Pohon Kehancuran bergerak, membentuk lingkaran samar di sekelilingnya.

"Ia adalah harga."

"Keseimbangan tidak pernah utuh tanpa pengorbanan."

"Kau harus bersiap untuk melawan kegelapan—"

Retakan di dada Shi Liu berdenyut nyeri. Untuk sesaat, penglihatannya mengabur.

"Bagaimana Jika aku hancur sebelum tujuanku selesai?" suaranya nyaris tak terdengar.

Keheningan menjawabnya lebih dulu.

Lalu—

"Maka dunia akan mencari penggantimu."

Kata-kata itu jatuh seperti vonis.

Shi Liu mengangkat kepala, mata merahnya kembali tajam—namun kini bukan hanya amarah yang ada di sana.

"…Aku pasti tidak akan gagal," katanya rendah.

"Bahkan jika aku harus menunggu."

Akar-akar perlahan tenggelam kembali ke dalam tanah.

"Maka belajarlah menahan diri," suara itu menutup.

"Karena kehancuran yang terburu-buru… hanya melahirkan kehampaan." akar-akar halus mulai menyusut—

Kabut menutup kembali Pohon Kehancuran.

Retakan di dadanya kembali berdenyut—cahaya pucat merembes keluar dari celah itu, tidak stabil, seperti inti yang kehilangan jangkar.

Shi Liu menurunkan dirinya bersila di atas tanah hitam—di bawah naungan pohon kehancuran—diantara akar-akar yang kokoh, punggung tegak, napas diperlambat secara paksa.

"Tenang," gumamnya.

Ia menekan telapak tangan ke dadanya.

Sentuhan itu langsung memicu reaksi.

—nyeri.

Bukan rasa sakit biasa, melainkan perlawanan dari dalam—energi yang menolak dikurung, berusaha mengalir ke mana-mana. Cahaya di sela jari-jarinya bergetar keras.

Shi Liu mempersempit aliran auranya, menarik kembali setiap serpihan kekuatan yang bocor. Ia membentuk segel berlapis—bukan teknik luar, melainkan penguncian eksistensi.

Retakan itu menyempit.

Namun tidak menutup.

Keringat dingin muncul di pelipisnya.

"Aku belum selesai," katanya rendah, seolah berbicara pada sesuatu di dalam dirinya.

Ekor- ekor bayangan muncul samar di belakangnya—tidak utuh, tidak bercahaya. Mereka bergetar tidak stabil, memantulkan kondisi intinya.

Shi Liu menggigit ujung lidahnya.

Rasa logam memenuhi mulutnya.

Ia menggunakan kesadarannya sebagai jangkar, menekan denyut retakan dengan kemauan murni—memaksa keseimbangan sementara.

Perlahan…

cahaya itu meredup.

Retakan berhenti melebar.

Namun bekasnya tetap ada.

Shi Liu membuka mata.

Pandangan tajamnya kini sedikit redup—bukan karena lemah, melainkan karena menahan terlalu banyak.

Ia menurunkan tangan dari dadanya.

"Luka ini, Aku hanya bisa menundanya," gumamnya.

"Bukan menyembuhkannya."

Kabut bergerak di sekelilingnya, menelan cahaya yang tersisa. Tubuhnya kembali berdiri, tegak, dingin—namun di balik ketenangan itu, kehancuran terus menghitung waktu.

Shi Liu berdiri sendirian, menyentuh dadanya yang retak—menyadari bahwa waktu kini menjadi musuh yang tak bisa ia serang.

--

More Chapters