WebNovels

Chapter 6 - awal mula pembantaian human

Pintu kedai tiba-tiba terbuka dengan keras.

BRAAK!

Suara itu membuat seluruh isi ruangan terdiam seketika.

Beberapa prajurit kerajaan masuk dengan langkah berat, sepatu besi mereka menghantam lantai kayu. Tatapan mereka tajam, menyapu setiap sudut ruangan tanpa ampun.

Orang-orang yang sedang makan langsung menunduk. Tidak ada yang berani bergerak.

Salah satu prajurit maju ke depan.

"Kalian semua yang ada di kedai ini—kami akan memeriksa kalian satu per satu."

Suaranya dingin, tanpa ruang untuk penolakan.

Tak ada yang berani membantah.

Penggeledahan pun dimulai.

Tas-tas dibuka paksa. Barang-barang diperiksa. Beberapa orang bahkan didorong kasar dari tempat duduk mereka.

Ketegangan menyelimuti seluruh kedai.

Lalu—

seorang prajurit berhenti di depan meja Akai.

Akai masih duduk tenang, seolah tidak terganggu. Mangkoknya hampir kosong.

Prajurit itu menyipitkan mata.

"Hei. Kau yang sedang makan."

Tak ada respon berlebihan.

Akai hanya perlahan mengangkat pandangan.

Tatapan mereka bertemu.

"Aku belum pernah melihat wajahmu." lanjut prajurit itu.

"Siapa kau? Dan dari mana asalmu?"

Beberapa orang di kedai mulai mencuri pandang.

Situasi terasa semakin berat.

Namun Akai tetap tenang.

Ia menyeka tangannya dengan kain kecil,

lalu menjawab dengan suara datar.

"Aku dari desa terpencil."

"Aku datang ke sini untuk mencari pekerjaan."

Prajurit itu menatapnya beberapa detik lebih lama, mencoba membaca sesuatu dari wajahnya.

"Namamu?"

Akai tidak ragu.

"Kau bisa memanggilku Akai."

Prajurit itu sedikit memiringkan kepala.

"Desa mana?"

Suasana menjadi lebih sunyi.

Beberapa orang bahkan menahan napas tanpa sadar.

Akai terdiam sejenak.

Hanya sesaat.

Lalu ia menjawab—

dengan nada yang tetap tenang.

"Desa kecil di wilayah utara. Tempat itu terlalu terpencil, jadi wajar kalau kau tidak pernah mendengarnya."

Prajurit itu tidak langsung percaya.

Tatapannya turun, memperhatikan pakaian Akai, tangannya, bahkan bekas luka halus yang hampir tak terlihat.

Ada sesuatu yang tidak biasa.

Namun sulit dijelaskan.

"Wilayah utara, ya..." gumamnya pelan.

Ia melirik ke arah prajurit lain, lalu kembali ke Akai.

"Kau datang sendirian?"

"Ya."

Jawaban singkat. Tanpa celah.

Prajurit itu masih menatapnya, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan.

Namun wajah Akai terlalu tenang.

Terlalu biasa.

Justru itu yang terasa aneh.

Di luar kedai, suara langkah prajurit lain semakin ramai.

Pencarian semakin meluas.

Dan di dalam kedai kecil itu—

ketegangan mulai mencapai titik yang lebih berbahaya.

Prajurit itu akhirnya sedikit mendekat.

Suaranya diturunkan.

"Kau pasti sudah dengar tentang kematian Tuan Muda Berlo."

Akai tidak menjawab.

Hanya menatap balik dengan ekspresi datar.

"Jika kau menyembunyikan sesuatu..." lanjut prajurit itu pelan,

"kau akan mati di tempat."

Hening.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Lalu—

Akai perlahan mengambil sendoknya lagi.

Dan melanjutkan makan.

Seolah ancaman barusan... tidak berarti apa-apa.

Suasana di dalam kedai masih tegang.

Beberapa orang mulai berani berbisik setelah para prajurit sedikit menjauh.

Seorang pria di sudut ruangan mendengus kesal.

"Yah, yah, yah… begini caranya prajurit menggeledah rakyat biasa?" katanya dengan nada sinis.

"Mereka melihat kita seolah-olah kita semua pelaku."

Orang lain ikut menyahut, suaranya pelan tapi penuh emosi.

"Benar. Padahal kita bukan siapa-siapa.

Kenapa kita diperlakukan seperti ini?"

Seorang wanita menunduk sambil berbisik cemas.

"Apa mereka dibayar untuk bertindak semena-mena seperti ini…?"

Tiba-tiba—

"Hei! Siapa yang bilang begitu?!"

Seorang prajurit membentak keras,

membuat seluruh kedai langsung terdiam lagi. Tatapannya tajam, penuh ancaman.

Tak ada yang berani menjawab.

Namun sebelum suasana semakin memanas, seorang prajurit lain berlari masuk dari luar.

"Kapten memanggil kita! Ada perintah baru!"

Prajurit itu mendecakkan lidah kesal, lalu melirik tajam ke arah para warga.

"Kalian beruntung."

Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka semua berbalik dan pergi keluar dari kedai.

Pintu kembali tertutup.

KRAAK.

Keheningan langsung terasa lebih ringan.

Beberapa orang menghela napas lega.

Salah satu pria mendekati Akai, suaranya diturunkan.

"Kau beruntung mereka tidak memaksamu ikut."

Akai hanya melirik sekilas.

Pria itu melanjutkan dengan nada serius.

"Aku dengar… siapa saja yang dibawa ikut oleh prajurit…"

ia menelan ludah,

"sering dijadikan kambing hitam kalau mereka gagal menangkap pelaku yang sebenarnya."

Beberapa orang di dekat mereka langsung terdiam.

Ketakutan kembali terasa.

Akai terdiam sejenak.

Lalu ia mengangguk kecil.

"Terima kasih sudah memberitahuku."

Ia berdiri perlahan.

Meletakkan beberapa koin di atas meja.

Tanpa terburu-buru, ia berjalan keluar dari kedai.

Namun tatapannya sedikit berubah.

Lebih tajam.

Lebih waspada.

Sementara itu—

di luar, tidak jauh dari manor Berlo.

Para prajurit berkumpul di hadapan Captain.

Wajah mereka tegang.

"Apakah kalian sudah menemukan orang mencurigakan?" tanya Captain dengan suara dingin.

Para prajurit saling melirik.

"Belum, Captain…"

Ekspresi Captain langsung mengeras.

"Tidak berguna."

Ia melangkah maju, suaranya meninggi penuh tekanan.

"Kita harus menemukan pelakunya sebelum keluarga Berlo kembali!"

Ia mengepalkan tangan.

"Jika kita gagal…"

tatapannya berubah tajam,

"maka kitalah yang akan menerima akibatnya."

Beberapa prajurit menunduk, ketakutan.

Namun—

salah satu prajurit yang tadi berada di kedai perlahan mengangkat tangannya.

Matanya menyipit, seolah menyimpan sesuatu.

"Captain… tadi aku melihat seseorang yang mencurigakan."

Captain menoleh.

"Bicara."

Prajurit itu tersenyum tipis.

"Dia orang baru. Katanya dari desa terpencil. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya di kerajaan ini."

Beberapa prajurit lain mulai memperhatikan.

"Dan?" tanya Captain.

Prajurit itu melangkah maju sedikit.

"Bagaimana jika… kita menjadikannya kambing hitam?"

Hening sejenak.

Lalu—

senyum tipis muncul di wajah Captain.

Dingin. Kejam.

"Bagus."

Ia mengangguk pelan.

"Aku suka cara berpikirmu."

Beberapa prajurit ikut tersenyum samar.

Keputusan sudah dibuat.

"Sekarang—" suara Captain berubah tegas,

"kalian ikut dia."

Ia menunjuk prajurit yang tadi melapor.

"Tangkap orang itu."

Tatapannya menjadi gelap.

"Hidup-hidup."

Di sisi lain kota—

Akai berjalan sendirian di jalanan yang mulai ramai.

Namun tanpa ia sadari—

beberapa pasang mata kini mulai memburunya dari kejauhan.

Dan perburuan itu… baru saja dimulai.

Siap—aku lanjutkan dan aku poles biar aksi kejar-kejarannya tajam, cepat, dan terasa berbahaya:

Langkah Akai tetap tenang saat meninggalkan jalan utama.

Namun matanya bergerak pelan, memperhatikan bayangan di jendela, pantulan di genangan air, dan langkah-langkah berat di belakangnya.

Dia tahu.

Ia sedang diikuti.

Tanpa menoleh, Akai mengubah arah—menuju utara kota, wilayah kumuh tempat rumah-rumah reyot berdiri rapat dan gang-gang sempit saling bertumpuk seperti labirin.

Tempat sempurna untuk menghilang.

…atau menjebak.

Beberapa detik kemudian—

langkahnya berubah.

Lebih cepat.

Lalu—

lari.

Angin berdesir saat tubuhnya melesat melewati lorong-lorong sempit.

Kecepatannya… tidak normal.

"Kejar dia!" teriak salah satu prajurit.

"Jangan biarkan dia lolos!"

Sekitar dua puluh prajurit langsung menyebar, menghantam jalanan dengan derap berat.

Akai melompat melewati tumpukan peti, berbelok tajam ke gang sempit, lalu memanjat dinding rendah dengan satu dorongan ringan.

Di atas atap kayu rapuh, ia berhenti sejenak.

Matanya menghitung.

Dua puluh orang.

Terlalu banyak.

"Aku harus memecah mereka."

Tanpa ragu, ia kembali bergerak.

Sengaja meninggalkan jejak.

Sengaja terlihat.

Satu kelompok prajurit mengejarnya ke kiri.

Kelompok lain terpancing ke kanan.

Suara langkah mereka mulai terpisah.

Rencana berjalan.

Namun—

"Sial… dia menghilang!"

Seorang prajurit berhenti, terengah.

"Cari dia sampai ketemu!" bentak yang lain.

"Kalau dia melawan, potong saja kaki dan tangannya! Kita harus membawanya hidup-hidup!"

Ketegangan semakin memuncak.

.

Beberapa prajurit mulai menyisir gang lebih dalam.

Dan saat itulah—

"Pak! Dia di sana!"

Seorang prajurit menunjuk ke ujung gang sempit.

Sosok Akai terlihat berdiri di sana.

Tenang.

Menunggu.

Mereka langsung berlari mengejar.

Sepatu besi menghantam tanah kotor, napas memburu, pedang terhunus.

Akhir gang itu… buntu.

Dinding batu tinggi berdiri di belakang Akai.

Tak ada jalan keluar.

Para prajurit mulai melambat.

Lalu—

tertawa.

"Hahahaha… kau sudah terjebak!"

Mereka mengepungnya dari depan, membentuk setengah lingkaran.

"Kali ini kau tidak bisa lari ke mana-mana."

Seorang prajurit melangkah maju, mengangkat pedangnya.

"Menyerahlah."

Hening sejenak.

Angin kotor dari gang sempit berhembus pelan.

Lalu—

Akai tersenyum tipis.

"Kau pikir aku yang terjebak?"

Ia mengangkat kepala sedikit.

Matanya berubah.

Dingin.

Tajam.

Berbahaya.

"Kalianlah… yang tidak bisa lari ke mana lagi."

Detik berikutnya—

gelap seakan menelan gang itu.

Salah satu prajurit berkedip.

"Apa—?"

Terlambat.

Akai sudah bergerak.

Bukan maju.

Bukan mundur.

Menghilang dari pandangan.

Sebuah bayangan melintas di antara mereka–cepat.

Terlalu cepat.

"AAARGH—!"

Teriakan pertama pecah.

Seorang prajurit jatuh, pedangnya terlepas.

Yang lain langsung panik.

"Di mana dia?!"

"Belakangmu—!"

DUK!

Tubuh lain terhempas ke dinding.

Akai muncul sesaat di belakang salah satu prajurit—

lalu menghilang lagi.

Seperti hantu.

Seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Napas para prajurit mulai kacau.

Formasi mereka hancur.

Ketakutan mulai merayap.

Dan di tengah kekacauan itu—

suara Akai terdengar pelan.

Dari mana saja.

"Bukankah kalian ingin menangkapku?"

Hening yang mencekam menyelimuti gang sempit itu.

Dan satu per satu—

para pemburu mulai menyadari…

mereka bukan lagi yang memburu.

More Chapters