WebNovels

Chapter 87 - EPILOG MINI FESTIVAL – TAWA, LUKA, DAN HARAPAN KECIL

Stand makanan di halaman SMA Seirei Gakuen dipenuhi aroma manis dan gurih. Sinar matahari siang menyentuh kain-kain warna-warni yang tergantung di atas tenda, sementara suara murid-murid yang tertawa dan bercanda menjadi latar belakang suasana.

Di salah satu bangku dekat stand takoyaki dan kue manis,

Rei, Airi, Riku, Rika, dan Hina duduk mengelilingi meja kecil.

Rika makan paling lahap. Di tangannya sudah ada kue manis, minuman, dan sepotong camilan lain yang entah kapan diambilnya. Pipi kecilnya sedikit menggembung saat mengunyah.

Riku hanya bisa tersenyum geli sambil mengelus kepala pacarnya.

Riku : "Pelan-pelan, nanti malah keselek, Rika."

Rika : "Aku cuma… lapar sekali setelah semua itu…"

Namun di sisi lain meja, suasananya berbeda.

Hina hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya. Sendoknya bergerak pelan, tapi tidak pernah benar-benar menyuap apa pun ke mulut. Matanya menunduk, sorotnya masih tersisa bayangan kejadian di arena tadi.

Airi memperhatikan itu cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.

Airi : "Hina… jangan dipikir terus soal Ravien."

Hina mengangkat kepala pelan, kaget namanya dipanggil.

Airi menyandarkan pipi ke tangan, menatap Hina dengan senyum nakal.

Airi : "Makan, dong. Kalau kamu terus murung, pengorbanan Ravien tadi di arena jadi sia-sia.

Atau jangan-jangan… kalian sudah pacaran, ya?

Makanya kamu sampai sekhawatir itu?"

Hina : "Eh!? B-Bukan!!"

Hina langsung melambaikan tangan cepat-cepat, namun pipinya memerah sampai ke telinga. Gerakannya panik, dan justru membuat yang lain tambah yakin.

Riku menahan tawa.

Riku :"Hoo~ reaksinya mencurigakan banget, tuh."

Rika ikut mengangguk-angguk jahil.

Rika :

"Kalau bukan apa-apa, kenapa sampai tadi berlari sambil menangis memeluk dia di arena~?"

Hina :

"I-Itu… karena kalau Ravien terus memukul dia, dia bisa kena masalah besar… dan… dan…"

Suara Hina mengecil, matanya kembali melirik piring.

Melihat itu, Rei tersenyum tipis.

Rei :

"Hina."

Hina :

"…Iya?"

Rei menatapnya lembut, tak seperti tatapan dinginnya kepada lawan lomba tadi.

Rei: "Kalau kamu memang menyukai Ravien… ya, kami nggak akan protes."

Airi: "Malah dukung!"

Hina membelalakkan mata.

Hina :

"A-Apa…?"

Rei melanjutkan, tenang.

Rei : "Kamu pantas untuk bahagia.

Pantas punya seseorang yang marah demi kamu seperti tadi."

Airi mengacungkan jempol.

Airi :

"Setuju! Jujur, aku juga sebel banget tadi lihat kejadian itu.

Tapi waktu mendengar Ravien berdiri melindungimu… aku bisa lihat dia benar-benar tidak terima kamu disakiti."

Rika menambahkan dengan nada setengah sebal, setengah kagum.

Rika :

"Walau Ravien sangat sombong dan bikin aku gatel pengen marah…

tapi setelah lihat dia hajar Hayato begitu tadi demi kamu…

aku percaya dia nggak akan membiarkan orang menyakitimu semudah itu."

Riku mengangguk, menyuap makanan terakhirnya sebelum ikut bicara.

Riku :

"Dan jujur saja… waktu kamu cerita soal insiden tabrakan itu, Hina…"

Hina diam, menatap mereka, ragu-ragu.

Riku :

"—tentang dia menghentikan tangan Hayato,

tentang dia menyebut kamu wanitaku di depan umum…"

Hina langsung menunduk, wajahnya kembali memerah.

Hina :

"Ja-jangan diulang…"

Airi tertawa kecil.

Airi :

"Semakin kamu malu, semakin kelihatan jelas, tahu~"

Riku melipat tangan.

Riku :

"Rasanya sudah cukup jelas sih.

Kalau menurutku… Ravien sudah menaruh sesuatu di hatinya untukmu."

Hina terdiam beberapa detik. Suara festival di sekitar mereka mendadak terasa menjauh.

Ia menunduk menatap kedua tangannya.

Hina (dalam hati): 

Apa Ravien… benar-benar menyukaiku?

Dan kalau iya… apa aku pantas?

Seorang gadis yang dulu penakut, pernah dibully,

yang cintanya ke Riku dulu bahkan tidak sempat ia akui dengan benar…

Namun saat ia mengangkat kepala, yang ia lihat adalah—

teman-temannya.

Airi yang tersenyum hangat.

Rika yang menatapnya dengan mata lembut.

Riku yang menatapnya seperti seorang kakak laki-laki yang bangga.

Rei yang duduk tenang, tetapi jelas memihak kebahagiaannya.

Hina menggigit bibir, lalu tersenyum kecil.

Hina :

"…Terima kasih, semuanya."

Ia menghela napas pelan.

Hina (dalam hati): 

Semoga…

yang mereka harapkan itu benar.

Bahwa Ravien menyukaiku…

Karena… sepertinya…

aku mulai menyukai Ravien juga.

Kali ini, sendoknya benar-benar bergerak.

Hina mulai makan, perlahan—tapi setidaknya, ia makan.

Melihat itu, Airi tersenyum lega.

Airi (dalam hati):

Bagus…

Hina, bukalah topengmu pelan-pelan, ya.

Kali ini, biarkan seseorang berdiri di sampingmu.

—Babak Akademik Terakhir

Tak lama kemudian, suara pengumuman menggema dari pengeras suara:

"Seluruh peserta lomba akademik, harap menuju ruang ujian.

Sesi berikutnya akan segera dimulai."

Rei, Airi, dan Hina bangkit dari kursi.

Airi : "Ayo, saatnya kita balas di lomba akademik."

Rei mengangguk.

Rei : "Jangan pikirkan hal lain.

Fokus saja di soal di depan kita."

Hina mengusap sisa air mata yang sempat muncul sebelumnya, lalu mengangguk kecil.

Hina : "Iya. Aku akan berusaha."

Mereka bertiga menuju gedung ujian.

Di ruangan akademik, suasana tegang namun terkendali. Soal ujian tertulis dan taktik siap dibagikan, para murid dari kedua sekolah sudah duduk di kursinya masing-masing.

Di sisi lain ruangan—

Mina juga duduk, memandangi lembar soal yang masih terbalik.

Airi sempat melirik sekilas, mengenali gadis yang tadi datang terlambat.

Airi (dalam hati, dingin):

Jadi… itu dia.

Mina yang membuat dunia Rei runtuh.

Namun Airi kemudian mengalihkan pandangan pada Rei.

Rei duduk tegak, wajahnya datar namun tenang.

Tidak ada sedikit pun ia menoleh ke arah Mina.

Seolah gadis itu hanyalah murid biasa dari sekolah lain.

Airi menghela napas pelan.

Airi (dalam hati):

Begitu ya… Jadi kau sudah memilih untuk tidak melihat masa lalu lagi, Rei…

Saat pengawas memberi aba-aba, mereka mulai mengerjakan.

Rei melaju seperti biasa—tenang, cepat, dan akurat.

Airi mengerahkan seluruh kemampuan yang ia latih selama ini.

Hina, meski masih menyimpan sisa gemetar, memaksa dirinya fokus pada soal, mengingat penjelasan Ravien dan Rei selama mereka belajar kelompok.

Beberapa jam berlalu.

Pada akhirnya, sesi akademik selesai.

Hasil keseluruhan diumumkan menjelang senja.

– Di bidang non akademik,

SMA Shirokaze mengantongi tiga kemenangan.

– Di bidang akademik,

SMA Seirei Gakuen hanya berhasil meraih dua kemenangan.

Secara total, pemenang lomba antar sekolah hari itu adalah:

SMA Shirokaze.

Sorak-sorai bergema dari pihak sekolah lawan. Sementara murid-murid SMA Seirei Gakuen menerima hasil itu dengan campuran kecewa dan legawa.

Bagi Rei dan kawan-kawan, kekalahan itu terasa pahit… namun bukan sesuatu yang menghancurkan.

Ada hal lain yang lebih berat dari sekadar skor lomba—

dan mereka sudah melewati hari ini tanpa membuat Rei runtuh untuk kedua kalinya.

Kepergian Tanpa Salam

Saat sore mulai turun, rombongan SMA Shirokaze bersiap pulang.

Mina berdiri di antara kerumunan murid sekolahnya sendiri, memandang sekilas bangunan SMA Seirei Gakuen yang perlahan terasa asing.

Mina (dalam hati):

Aku datang, bertanding,

melihatmu lagi untuk pertama kali setelah semua hancur…

tapi tetap tidak bisa mengucapkan satu kata pun, Rei.

Ia mencari sosok berambut putih di antara kerumunan,

namun hanya sempat melihat punggung Rei sekilas—

berdiri di antara Airi, Hina, Riku, dan Rika.

Rei tertawa kecil mendengar celotehan Airi.

Hina berjalan sedikit di belakang, masih sesekali menyentuh ponsel rusaknya.

Rika menggandeng Riku, seperti biasa.

Dunianya kini… sudah berbeda.

Tanpa salam, tanpa maaf,

Mina berbalik mengikuti rombongan SMA Shirokaze.

Mina (dalam hati):

Sepertinya…

aku hanya bisa membawa pulang penyesalan hari ini.

Dan di sekolah yang bukan miliknya—

Rei tetap berdiri di antara orang-orang yang memilihnya.

Ada tawa kecil. Ada luka yang belum selesai.

Tapi juga ada harapan—kecil, hangat, dan nyata.

More Chapters