WebNovels

Chapter 74 - Bab – HARI-HARI TERAKHIR SEBELUM BENTROKAN

Sore datang perlahan, sinar matahari masuk miring lewat jendela kamar 101. Buku-buku yang tadi penuh coretan kini berserakan di meja dan lantai.

Dua jam belajar non-stop meninggalkan bekasnya.

Airi menguap kecil sambil menggeliat, menaruh pulpen di meja.

Airi :

"Uuuh… kepalaku ikut ujian rasanya…"

Riku menyandarkan punggung ke dinding.

Riku :

"Padahal ini baru persiapan. Ujian sebenarnya belum mulai."

Rika menunduk di atas buku catatan, rambut beastkin-nya sedikit berantakan.

Rika :

"Aku merasa… angka-angka ini mulai menari…"

Rei menutup bukunya, memutar leher pelan hingga berbunyi krek.

Rei :

"Kalau dipaksa terus, nanti malah nggak masuk apa-apa. Istirahat dulu sebentar."

Di sisi lain, Ravien duduk dengan wajah seperti habis bertarung tiga hari tiga malam.

Seolah-olah ada asap keluar dari kepala demon itu.

Selama dua jam terakhir, Hina berkali-kali bertanya tentang hal-hal yang tidak ia mengerti—dan Ravien, mau tak mau, menjelaskan sampai Hina betul-betul paham.

Hina :

"Jadi… kalau variabelnya dipindah ke sini, nanti bentuk akhirnya jadi seperti ini, kan?"

Ravien :

"…Benar. Akhirnya. Jangan ulang dari awal lagi."

Hina tersenyum malu.

Hina :

"Te-terima kasih, Ravien…"

Airi melirik mereka berdua dan tersenyum lembut.

Airi (dalam hati):

Dia sampai segitunya mengajari Hina… padahal dia kelihatan paling malas di kelas. Ternyata tidak semua demon itu keras kepala dan jahat, ya.

Suasana mulai mengendur. Mereka saling bertukar komentar ringan, tertawa kecil, lalu satu per satu menutup buku.

Rei menepuk pelan lututnya, berdiri dari posisi duduk.

Rei :

"Kayaknya untuk hari ini cukup. Yang penting kita sudah punya gambaran strategi dan tahu bagian mana yang harus kalian perkuat."

Riku mengangguk setuju, meraih tangan Rika untuk membantunya berdiri.

Riku :

"Aku setuju. Kalau kita lanjut, Rika bisa pingsan bukan karena lawan, tapi karena rumus."

Rika :

"Hei! Aku tidak selemah itu…"

Tapi pipinya sedikit mengembung, membuat semuanya tertawa.

Begitu mendengar kata "pulang", Ravien seperti langsung kembali hidup. Ia duduk tegak, menatap mereka dengan ekspresi setengah curiga, setengah lega.

Ravien :

"Kalau kalian selesai… cepat pulang. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa pelajaran itu lebih melelahkan daripada latihan fisik."

Rei menggaruk pipinya canggung, tersenyum tipis.

Rei :

"Maaf ya, Ravien. Jadi merepotkan… dan 'mengotori' hari liburmu."

Ravien mendengus, memalingkan wajah.

Ravien :

"Tidak masalah. Sekali-sekali menambah beberapa ras lemah di sekitarku bukan hal buruk. Supaya perbedaan kekuatan jadi lebih jelas."

Rika langsung memelototinya.

Rika :

"…Ras lemah, katamu? Mau kucoba pukul satu kali di sparing nanti?"

Ravien menatap balik, malas.

Ravien :

"Kalau aku kalah, silakan kau bilang aku lemah."

Riku segera menepuk bahu pacarnya.

Riku :

"Tenang, Rika. Jangan terpancing. Kalau kalian sparing beneran, yang kasihan itu lapangannya."

Semua tertawa lagi.

Setelah berpamitan satu per satu—Riku dan Rika lebih dulu, lalu Airi dan Hina—Rei menyusul terakhir, berdiri di ambang pintu.

Rei :

"Terima kasih lagi, Ravien. Serius. Tanpa bantuanmu, persiapan kita pasti jauh lebih berat."

Ravien hanya mengangkat satu tangan seadanya, seolah mengusir lalat.

Ravien :

"Ya, ya. Pulang sana. Kalian terlalu berisik untuk hari libur."

Pintu tertutup.

Keheningan kembali menguasai kamar 101.

Ravien memutar badan… dan menghela napas panjang begitu melihat medan perang yang ditinggalkan.

Buku pelajaran berserakan, kertas catatan berlapis-lapis, beberapa kaleng minuman kosong, dan bungkus snack yang terselip di sudut.

Ravien :

"…Hhh. Sebelum istirahat, aku harus merapikan ini dulu."

Ravien (dalam hati):

Manusia benar-benar makhluk yang ribut dan merepotkan… tapi…

Ia terdiam sejenak, mengingat wajah Hina yang berkali-kali berkata "terima kasih" dengan mata sedikit berbinar setiap kali berhasil mengerti.

Ravien (dalam hati):

…setidaknya, tidak membosankan.

Ia pun mulai membereskan kamar dengan cekatan, mengembalikan kembali kamar 101 ke keadaan rapi dan wangi seperti semula.

Malam itu berakhir dengan tenang.

Tapi tenang bukan berarti aman—hanya jeda sebelum hari-hari terakhir.

TIME SKIP – DUA MINGGU MENUJU LOMBA

Dua minggu berikutnya berlalu seperti angin: rutinitas harian yang semakin akrab, latihan sore yang semakin intens, dan sesekali panggilan dari Aelria yang selalu menyemangati dari dunia lain.

Kadang, setelah latihan, mereka akan duduk setengah terbaring di bawah pohon dekat lapangan.

Riku :

"Kalau kita menang, kita liburan ke pantai selama empat hari, ya?"

Rika :

"Itu sudah jelas tertulis di pengumuman, bodoh."

Riku :

"Aku cuma mau dengar kamu bilang: 'aku mau pergi bareng kamu'."

Rika memerah, mendengus pelan.

Rika :

"…Terserah. Asal jangan tinggalkan aku sendiri."

Rei, yang duduk sedikit jauh sambil memandang langit, menggenggam ujung kertas jadwal lomba. Di salah satu bagian, tertulis jelas:

"Pertandingan utama melawan: SMA Shirokaze"

Saat pertama kali melihat nama itu, dadanya menegang kembali. Namun ia segera menenangkan napas, menyembunyikan keterkejutan di balik senyum tipis seperti biasa.

Rei (dalam hati):

Jadi… akhirnya, dunia benar-benar kecil. Tapi aku tidak akan lari lagi. Aku bukan Rei yang dulu.

Setiap sore, ia pulang ke apartemen, mandi, makan sederhana, lalu mempelajari taktik atau menganalisis kemampuan timnya.

Dan setiap satu minggu sekali, bola kristal sesekali menyala—panggilan dari Aelria yang menyemangati dari dunia lain, dengan Airi yang setia ikut muncul di sisi Rei tiap kali.

Langkah demi langkah, tanpa mereka sadari, hari lomba pun mendekat.

HARI ITU – SMA SEIREI GAKUEN VS SMA SHIROKAZE

Pagi yang dinanti akhirnya tiba.

SMA Seirei Gakuen sudah ramai sejak matahari belum naik terlalu tinggi. Spanduk besar menghiasi gerbang depan:

"FESTIVAL & LOMBA ANTAR SEKOLAH – SEIREI GAKUEN vs SHIROKAZE"

Di halaman, stand makanan dan permainan mulai dibuka. Murid-murid dari berbagai ras memenuhi area—manusia, beastkin, elf, lamia, dan lainnya bercampur dalam keramaian yang penuh warna.

Dari kejauhan, beberapa bus berhenti di depan gerbang.

Itu rombongan dari SMA Shirokaze.

Murid-murid Shirokaze turun satu per satu, sebagian besar memakai ekspresi penuh percaya diri, sebagian lagi hanya penasaran menikmati festival.

Di antara mereka, melangkah seorang gadis berambut hitam tergerai rapi, mata cokelat yang tampak tenang dari luar—namun menyimpan kelelahan halus.

Mina.

Ia menuruni bus dengan seragam rapi, langkah tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Di sampingnya, seperti biasa, sosok beastman tinggi dengan aura penguatan tubuh yang kuat berjalan tenang—Hayato.

Beberapa murid berbisik lirih.

Murid Shirokaze A :

"Lihat, itu Mina dan Hayato."

Murid Shirokaze B :

"Katanya mereka pasangan emas Shirokaze. Bakat tinggi, keluarga kaya, tunangan pula…"

Mina mendengar desingan kata-kata itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum sopan.

Tapi senyumnya tetap di bibir. Matanya tetap jauh.

Mina (dalam hati):

SMA Seirei Gakuen, huh…

Hari ini… setidaknya, biarkan aku berguna untuk sesuatu. Kalau aku bisa membantu sekolahku menang, kalau aku bisa membantu sekolahku menang, mungkin… setidaknya aku tidak hanya menjadi gadis yang gagal menjaga dunianya sendiri.

Ia menatap bangunan sekolah yang menjadi lawan mereka hari ini—tanpa mengetahui satu fakta sederhana tapi krusial:

Sekolah inilah yang sekarang menjadi rumah bagi pemuda berambut putih dan bermata berbeda yang dunianya ia hancurkan satu tahun lalu.

More Chapters