WebNovels

Chapter 125 - Chapter 125

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 CHAPTER 125 — "Bayangan Pertama Organisasi, dan Damien yang Ngetroll Mereka"

(MC: Damien Valtreos — Spirit Manifest Realm 10)

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Aurelion Haven masih dalam mode terkunci.

Tapi Damien berdiri di atas atap tua itu seperti orang yang cuma pengen tidur siang.

Aura Spirit Manifest Realm tingkat 10 mengalir stabil dari tubuhnya—

tenang, padat, dan penuh tekanan halus yang membuat batu di sekitar kakinya retak pelan.

Zura melangkah maju.

"Empat target. Jarak 150 meter. Mereka bukan dari kota ini."

Hana mengangguk.

"Mereka menghapus jejak langkah… ini teknik mobilitas tingkat Essence Flow ke atas."

Rex menelan ludah.

"Jadi… ini organisasi yang kau bilang itu, bro?"

Damien mengangkat bahu.

"Aku nggak bilang apa-apa. Dewa di kepalaku yang ribut."

Dari dalam pikirannya, suara bapak Damien—

Kael Arclight, Dewa Bulan—muncul dengan nada sok bijak namun tetap chaos:

> "ANAKKU… BERSIAPLAH. MEREKA BUKAN ANCAMAN, HANYA GANGGUAN."

Damien:

"…kau itu dewa atau komentator gratisan?"

Keheningan sejenak.

Lalu Kael menjawab:

> "DEWA BISA MULTITASKING."

Damien tidak bisa menahan diri mengelus wajah.

"Ya Tuhan."

Zura tiba-tiba berhenti bergerak.

"Ada perubahan arah. Mereka mengurung kita. Bersiap."

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

🌑 ADEGAN 1 — Organisasi Menampakkan Diri

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Empat sosok muncul dari bayangan.

Semua memakai jubah hitam, masker putih, tanpa suara sedikit pun.

Gerakan mereka terlalu bersih untuk ukuran ahli biasa.

Yang paling tinggi melangkah ke depan.

Aura Essence Flow Realm tingkat 10 memancar dari tubuhnya.

Ia berbicara dengan suara berat:

"Damien Valtreos. Serahkan diri. Kau mengaktifkan energi hitam-perak terlarang. Kota ini berada dalam pengepungan karena ulahmu."

Damien menatap mereka dari ujung kaki sampai ujung rambut.

"…kalian ngomongnya panjang banget. Bisa diulang tapi lebih cepat?"

Empat orang itu menegang.

Jelas, mereka tidak menyangka responnya model begini.

Penyerang kedua mendesis,

"Ini anak benar-benar—"

Damien memotong,

"Sebelum kalian nyerang… mau nanya. Kalian organisasi apa sih? Kok gaya masuknya kayak NPC dungeon?"

Rex langsung menutup mulut agar tidak ketawa.

Hana sampai harus menunduk.

Zura tetap dingin seperti biasa.

Pemimpin mereka akhirnya bicara lagi:

"Kau tidak perlu tahu. Yang kami cari bukan hanya kau…"

Tatapan mereka berubah gelap.

"…tapi gadis itu."

Hawa di atap langsung berubah dingin.

Damien menyipit.

"Gadis?"

Pemimpin itu mengangguk.

"Pemilik garis es kuno. Pewaris beku. Dia berada di dalam wilayah ini."

Damien memutar leher.

"Oh… jadi kalian cari Lyanna."

Ketiga anggota lainnya langsung tersentak.

"Kau tahu keberadaannya?!"

Damien mengangkat tangan.

"Pertama, jangan teriak. Telingaku mahal."

"Dan kedua… kalian pikir aku bakal ngasih tau kalian?"

Keheningan.

Sangat tajam.

Lalu—

Damien tersenyum tipis.

"Ayo, coba ambil aku dulu."

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

🌘 ADEGAN 2 — Damien Bergerak

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Dalam sekejap—

💥 Spirit Manifest Realm 10 Damien meledak.

Tekanan energinya menghantam seluruh atap, membuat genteng beterbangan.

Di bawah cahaya bulan, aura Damien terlihat seperti kabut hitam-perak yang mengalir pelan namun mematikan.

Rex terpental beberapa langkah.

"Bro… aura kau itu bukan Spirit Manifest normal… itu udah kayak Core Formation tingkat tinggi!"

Hana mengangguk cepat.

"Ini… tubuhnya benar-benar berubah setelah pemanggilan lunar itu…"

Zura berdiri tegak, tidak bereaksi.

"Tingkat energi stabil. Tidak ada bahaya bagi kita."

Para anggota organisasi menegang penuh.

"Mundur setengah langkah! Jangan biarkan dia melancarkan tekniknya!"

Damien mengangkat satu jari.

"Santai."

Lalu—

Jentikan jari.

TING.

Gelombang ringan, namun tajam, meledak.

Empat anggota organisasi itu terlempar 10 meter ke belakang hanya oleh jentikan ringan itu.

Pemimpinnya menatap Damien dengan keterkejutan nyata.

"Spirit Manifest tingkat 10… tidak mungkin memberikan tekanan seperti ini! Kau… apa yang kau sembunyikan?!"

Damien mengangkat alis.

"Banyak."

Ia mengangkat tangannya ke langit.

Dan cahaya hitam-perak turun, membentuk pusaran kecil di atasnya.

Suara Kael Arclight, Dewa Bulan, terdengar kecil:

> "Good job, anakku. Kalau kau mati, aku marah."

Damien:

"Terima kasih atas kepercayaanmu, Ayah. Walaupun telat."

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

🌒 ADEGAN 3 — Pemimpin Organisasi Mulai Takut

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Pemimpin itu akhirnya sadar situasinya gawat.

"Ada kesalahan besar… laporan intel salah… dia bukan target Spirit Manifest biasa—"

Damien mengangkat tangan.

"Bro, stop."

"Ini bukan waktunya baca naskah laporan. Aku ngantuk."

Semua orang: "…"

Damien sekali lagi tersenyum.

"Kalian datang ngeburu aku."

Matanya berubah hitam-perak.

"Sekarang giliranku."

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

🔥 ADEGAN AKHIR — Damien Menjadi Pemburu

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Damien melesat.

Bayangan hitam-perak melintas cepat.

Satu pukulan telapak—

BOOM!

Salah satu anggota organisasi menghantam tiga tembok sekaligus.

Rex: "DAMN—!"

Hana: "Kecepatan ini… bukan manusia biasa…"

Zura: "Wajar. Tubuhnya sudah menyatu dengan energi lunar."

Pemimpin organisasi mencoba kabur, tapi Damien muncul tepat di depan wajahnya.

Hanya selebar kedipan.

"Mana tadi yang sok tegas?"

Damien menekuk jari, bersiap menghajar.

Pemimpin itu gemetar.

"Kau… monster…"

Damien mengangguk santai.

"Aku tahu."

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

🌑 ENDING CHAPTER 125

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Musuh pertama organisasi terpukul mundur.

Damien resmi dianggap ancaman tingkat tinggi.

Organisasi akan mengerahkan kelompok yang lebih kuat nanti.

Dan mereka akan mulai memburu Lyanna, karena garis es kunonya.

More Chapters