WebNovels

Chapter 122 - Chapter 122

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 CHAPTER 122 — "Tanda yang Terbentuk, Warisan yang Tidak Diminta, dan Getaran dari Masa Depan"

(MC: Damien Valtreos)

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌑 ADEGAN 1 — Setelah Pengakuan Sovereign

Asap tipis dari ledakan lunar perlahan menghilang.

Gua yang tadinya penuh retakan kini terasa… kosong.

Bukan kosong karena ancaman hilang,

tapi kosong seperti sebuah bab yang baru saja ditutup paksa oleh seseorang yang lebih besar dari dunia itu sendiri.

Sovereign sudah pergi.

Tidak ada suara langkah.

Tidak ada cahaya.

Ia menghilang seperti bayangan yang kembali ke bulan.

Damien berdiri dengan napas berat. Lututnya masih goyah.

Dadanya naik turun seperti tulang rusuknya sedang menahan dunia.

Rex mendekat dengan langkah tercekat.

"Bro… kau… kau masih hidup, 'kan?"

Damien mengangguk pelan. "Masih."

Hana menghela napas lega—sampai-sampai terdengar seperti sebuah sobekan napas yang tertahan dari tadi.

Zura berdiri paling dekat. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut lagi, tapi… sejenis kekaguman yang menakutkan.

Bukan karena Damien menang.

Tapi karena Damien bertahan.

Zura menatap Damien lama…

sebelum akhirnya berkata dengan suara kecil:

"…jangan lakukan itu lagi."

Damien mengerutkan dahi. "Lakukan apa?"

Zura menggenggam lengannya. Kuat. Seolah takut kalau Damien hilang kalau dilepas.

"…bertahan sendirian."

Damien membeku sejenak. Satu detik.

Dua detik.

Dia tidak jawab.

Tapi genggaman Zura perlahan mereda. Bukan karena ia melepaskan—

tapi karena ia menenangkan dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya, Zura tidak perlu Damien membalas apa pun untuk tenang.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌘 ADEGAN 2 — Rasa Sakit yang Bukan Milik Tubuh

Hana mendekat sambil menyentuh dinding gua yang mulai runtuh.

"Energi lunar-nya menyebar… ini gila. Kekuatan Sovereign tadi—itu bukan sesuatu yang seharusnya kita lihat."

Rex menimpali: "Ya, dan Damien malah ngajak spar—bro, apa kau normal?"

Damien menghela napas. "Percaya atau tidak, aku juga nanya hal yang sama ke diriku."

Tiba-tiba—

BRUUK—

Damien memegangi dadanya.

Rex panik: "BRO?! Kau kena apa?!"

Damien mengatupkan gigi. "Bukan serangan… ini… perubahan."

Hana mendekat, memasang formasi pelindung di sekitar mereka bertiga.

Zura langsung menutupi punggung Damien seolah akan membunuh apa pun yang mendekat.

Di bawah pakaian Damien…

Cahaya hitam-perak menyala.

Seperti tinta bulan

dan kehampaan

yang bersatu.

Rex membelalak. "Bro… itu… itu tanda baru?!"

Damien mengerang pelan. "Sepertinya… aku… tidak diminta… tapi—"

Cahaya itu membentuk pola.

Bukan lingkaran.

Bukan simbol.

Bukan rune.

Tapi… setengah bulan yang retak.

Hana menatapnya dengan ngeri yang tertahan. "Damien… itu bukan tanda sembarangan. Itu stempel kehendak."

"Stempel… apa?"

"Stempel sosok yang menganggapmu ancaman dan pelindung sekaligus."

Rex: "BROOOO ITU BUKAN SIMPEL—ITU WARNING LABEL—"

Zura menatap tanda itu dengan mata merah menusuk.

Dan ia berkata kalimat yang membuat Rex dan Hana diam seketika:

"…itu tanda milik Sovereign."

"Tapi… bukan tanda kepatuhan."

"Itu tanda peringatan."

Damien menatap kosong. "…peringatan?"

Zura mengangguk.

"Ya. Dia… memberi tahu semua yang ada di atasnya bahwa jika kau mati… bulan akan retak."

Rex menggigil. "Bro… kau jadi bom dunia?"

Damien menutup mata.

Tanda itu terasa seperti luka,

tapi bukan luka fisik—

melainkan luka takdir.

Seolah seseorang menulis:

> "Kalau ada yang menyentuhmu… aku akan turun sendiri."

Damien mengedikkan bahu. "Ya… hebat sekali. Aku minta kekuatan, malah dikasih ancaman universal di dada."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌒 ADEGAN 3 — Suara Misterius Muncul Lagi

Saat Damien masih memegang dadanya…

Sebuah suara muncul—

pelan, berat, dan jauh lebih jernih daripada sebelumnya.

> "…kau baru membuka pintu pertama." "Jangan bangga. Jangan puas." "Sovereign hanya menguji apakah kau bisa berdiri.

Bukan apakah kau pantas berjalan."

Damien memicingkan mata. "Kau lagi… siapa pun kau sebenarnya."

Suara itu tertawa pelan.

> "Aku bukan musuhmu.

Aku bukan gurumu.

Dan aku bukan dewa yang ingin kau temui."

Damien terdiam.

Suara itu melanjutkan:

> "Kau bertahan dari Sovereign.

Tapi kau belum siap menghadapi… dia."

Rex mengangkat alis. "Dia siapa lagi?! Jangan bilang ada Sovereign part 2—aku belum siap!"

Zura langsung menoleh kiri–kanan dengan tensi naik.

Hana menelan ludah, wajahnya menegang. "Damien… suara itu… auranya berbeda. Ini bukan lunar. Bukan es. Bukan void."

Damien mengangguk.

Ya.

Tidak mirip apa pun yang pernah ia rasakan.

Tidak seperti Atheus.

Tidak seperti Sovereign.

Tidak seperti retakan void.

Lebih tua.

Lebih dalam.

Lebih…

mengawasi.

Suara itu perlahan memudar.

> "Saat tanda itu muncul… kau mengikatkan dirimu pada dua takdir."

"Yang satu milik bulan…"

"Yang satu… milik tempat asalmu."

Damien terdiam.

"Tempat… asalku?"

Suara itu menghilang.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌕 ADEGAN 4 — Damien Menatap ke Depan

Keheningan panjang memenuhi gua.

Rex akhirnya memecah sunyi.

"Bro… apa pun itu… kita tetap ikut kau. Bahkan kalau kau tiba-tiba jadi pusat perhatian para monster dunia."

Hana mengangguk. "Kami sudah terlibat sejauh ini. Mundur bukan pilihan."

Zura menatap Damien lama. Ekspresinya tidak sedih, tidak takut, tapi…

"…aku akan pastikan kau tidak runtuh lagi."

Damien mengangkat kepala perlahan.

Lalu berkata dengan suara rendah:

"Aku tidak tahu siapa yang menandai dadaku."

"Aku tidak tahu siapa yang mengawasiku."

"Aku tidak tahu siapa yang menunggu 'kebangkitan Lyanna'."

"Aku tidak tahu apa yang akan datang."

Damien memandang tanda di dadanya yang masih menyala lembut.

"Tapi aku tahu satu hal."

Ia menggenggam udara—

dan es hitam-perak muncul seperti sabit bulan yang retak.

"Aku tidak akan biarkan siapa pun menyeret kita tanpa izin."

Rex tersenyum.

Hana menghela napas.

Zura berdiri lebih dekat.

Dan Damien—

untuk pertama kalinya—

merasa bahwa langkah berikutnya bukan dipaksa oleh dunia,

tapi dipilih oleh dirinya sendiri.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 END CHAPTER 122

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

More Chapters