WebNovels

Chapter 114 - Chapter 114

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 CHAPTER 114 — "Aurelius vs Voidstep Hunter, Niat Tersembunyi Sang Dewa Es, dan Zura di Ambang Hancur"

(MC: Damien Valtreos)

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

❄️ ADEGAN 1 — Dua Monster Saling Menatap

Udara beku menggigit tulang.

Aurelius turun perlahan, seolah gravitasi tunduk kepadanya.

Tatapan dinginnya seperti menembus Voidstep Hunter… dan juga menilai Damien di sudut pandang matanya.

Voidstep Hunter menyeringai kecil.

"Kau akhirnya turun. Kau tidak datang untuk menolong anak itu… bukan begitu?"

Aurelius tidak menjawab.

Ia hanya menggerakkan satu jari.

CRRRRK—

Satu lingkaran es tipis muncul di lantai, menyebar seperti pola salju.

Damien, Rex, Hana, dan Zura langsung merasakan tekanan es menusuk tulang.

Zura berdiri gemetar.

Retakan di tubuhnya berbunyi krak… krak… seperti kaca hampir pecah.

Damien menunduk, napasnya sesak.

"Aurelius… kalau turun… berarti—"

Hana memegang bibirnya.

"Dia… bukan datang buat nolong kita…"

Aurelius akhirnya membuka mulut, dengan suara datar:

"Aku tidak peduli murid Atheus mati atau hidup. Tapi kalian membuat wilayahku ribut."

Rex menelan ludah keras-keras.

"Gue… lebih takut sama dia daripada pemburu Voidstep…"

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌑 ADEGAN 2 — Voidstep Hunter Mengungkap Niatan

Voidstep Hunter tertawa kecil.

Tidak keras—tapi penuh rasa puas.

"Ho… jadi kau ingin anak itu tetap hidup dulu, Aurelius Frostmourn?"

Aurelius menatapnya dingin.

"Aku ingin dia hidup…

sampai aku selesai mengambil sesuatu dalam tubuhnya."

Damien gemetar.

"…mengambil… sesuatu…?"

Rex berbisik:

"BRO?? Maksud dia apaan bro???"

Hana pucat.

"Damien… dia mengincar kamu…"

Di dalam tubuh Damien… inti Red Hyper Primordial bergetar halus.

Suara misterius bergema:

[Hati-hati. Pria itu dapat merasakan inti ini. Jangan biarkan dia menyentuhmu.]

Damien menggertakkan gigi.

"Sial… jadi dia bukan sekutu…"

Voidstep Hunter mengangkat bahu.

"Kebetulan. Atasan kami juga mengincar anak itu.

Mungkin… kita bisa bekerja sama."

Rex langsung berteriak:

"KERJA SAMA?? SAMA-SAMA BUNUH DAMIEN?? KALIAN SINTING ANJ—"

Hana menutup mulut Rex agar tidak mati duluan.

Aurelius menatap pemburu itu lama.

Lalu akhirnya berkata pelan:

"Tidak perlu kerja sama.

Aku hanya ingin memastikan dia tidak mati…

sebelum aku selesai."

Voidstep Hunter tersenyum bengis.

"Kau ingin dia hidup.

Aku ingin dia mati.

Mari lihat siapa yang lebih cepat."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🩸 ADEGAN 3 — Zura Menahan Serangan

Voidstep Hunter menghilang—

ZIING—

Dalam sekejap ia sudah berada tepat di depan Damien, cakar hitam terangkat.

"ANAK INI MATI DULUAN!"

Damien ingin menghindar—

tapi tubuhnya kosong, hyper-red drop total.

Rex & Hana memejamkan mata.

Tapi—

TAP!!!

Zura memblokir cakar itu dengan tubuhnya.

CRAAAAACKKK—

Retakan di tubuh Zura berubah menjadi garis patah yang menganga.

Zura hampir tumbang tapi tetap memaksa berdiri.

Dengan suara berat dan pecah:

"Aku… tidak peduli siapa Tuhan Es atau pemburu…

kalau kalian sentuh Tuan Damien… kalian musuhku."

Pemburu Voidstep mendecak.

"Kau tinggal pecahan boneka. Satu serangan lagi dan kau runtuh."

Aurelius melihat itu…

dan tersenyum tipis untuk pertama kalinya.

Senyuman yang membuat Damien merinding.

"Menarik. Boneka ini setia padamu.

Sayang sekali aku butuh kamu hidup… bukan bonekamu."

Damien akhirnya mengangkat kepala, napas terputus-putus.

"Aurelius… apa maumu…?"

Aurelius menatap Damien lurus-lurus.

"Aku ingin inti yang tersembunyi di dalam tubuhmu, Damien Valtreos.

Kekuatan yang tidak pantas kau miliki."

Damien mengepalkan tangan, lututnya gemetar.

"…Red… Hyper…?"

Aurelius mengangguk.

"Dan setelah aku mengambilnya…

kau tidak diperlukan lagi."

Rex langsung jatuh terduduk.

Hana pucat sampai bibirnya gemetar.

"Damien… kabur! Kita harus kabur!"

Damien tersenyum kecil—

pahit, putus asa, tapi tetap keras kepala.

"…kabur dari dua monster ini? Mana bisa…"

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

❄️ ADEGAN 4 — Pertarungan Dimulai

Aurelius mengangkat tangan.

Ratusan serpihan es tipis—seperti jarum kristal—menggantung di udara.

Voidstep Hunter tertawa pendek.

"Frostmourn Crystal Spears… kau serius?"

Aurelius:

"Aku tidak punya waktu lama.

Anak itu terlalu cepat melemah.

Dan inti itu tidak boleh runtuh bersamanya."

Voidstep Hunter menghilang.

Aurelius menatap kosong ke kiri.

"…di sana."

CRAAANK!!!

Ia menurunkan tangan, dan seribu tombak es melesat bersamaan.

Rex menjerit: "BRO BRO BRO— ITU NGGAK ADA YANG MANUSIAWI!!!"

Hana memeluk Damien agar tidak terbang karena shockwave.

Zura berdiri di depan Damien, tubuhnya hampir rubuh.

Voidstep Hunter muncul dari balik bayangan, beberapa tombak menembus lengannya.

Ia tersenyum dengan mata gelap.

"Bagus… sangat bagus… Frostmourn."

Aurelius tidak tersenyum.

"Kau menghalangiku. Menyingkir."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 ADEGAN 5 — Damien Menyadari Satu Hal Fatal

Damien terengah, lututnya goyah.

Namun saat ia melihat Zura yang retak parah, Aurelius yang mengincar inti tubuhnya, dan pemburu Voidstep yang ingin membunuhnya—

Damien sadar satu hal penting:

Kalau ia pingsan sekarang… dia akan mati.

Entah oleh Voidstep… atau oleh Aurelius.

Suara Red Hyper Primordial terdengar lemah:

[Damien… jangan pingsan. Kalau kau kehilangan kesadaran… inti akan terekspos. Dan pria itu akan mengambilnya.]

Damien mengangkat kepalanya dengan putus asa.

"…aku… belum boleh jatuh…"

Rex menahan air mata panik: "DAMIIEEEN BROOO BERTAHANNN!!!"

Hana memegang bahu Damien: "Kamu jangan tidur! Jangan pingsan!"

Penglihatan Damien berputar.

Semuanya mulai kabur.

Aurelius sudah bergerak menuju Damien.

Voidstep Hunter melompat dari sisi kanan.

Zura menghancurkan lantai untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk.

Dan Damien…

"…sial… jangan sekarang…"

Dunia mulai gelap.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 END CHAPTER 114

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

More Chapters