WebNovels

Chapter 107 - Chapter 107

---

⚡ CHAPTER 107 — "Keruntuhan Domain Es, Assassin Tahap Kedua, dan Emosi Pertama Zura"

---

❄️ ADEGAN 1 — Pembunuh Dewa Es Menunjukkan Bentuk Kedua

Lingkungan ruangan es mulai retak dari tekanan Damien.

Pembunuh itu bangkit perlahan, napas pendek, setengah tubuhnya retak seperti patung es yang hampir pecah.

Ia mengusap darah dingin di bibirnya.

> "…Kalau begitu, aku tak punya pilihan."

Dari punggungnya, sayap es terbuka—

bukan sayap biasa.

Ini sayap jiwa, menandakan ia mengaktifkan bentuk kedua:

❄️ Frost Requiem Form — Stage II

Seluruh domain bergetar. Cahaya biru merambat di lantai es seperti denyut nadi.

Hana, yang menonton dari celah portal dimensi, berbisik ketakutan.

Hana:

"Z-Zura saja bisa dibuat menjerit… Damien beneran sanggup lawan itu?"

Rex:

"Bro… ini levelnya kayak bos rahasia game RPG…"

Damien sama sekali tidak menoleh.

Ia menatap pembunuh itu seperti menatap sampah.

> "Bagus. Transformasi saja sebebasnya."

"…supaya aku bisa membunuhmu dalam satu bentuk jadi."

---

⚡ ADEGAN 2 — Damien MENGHILANG, Kecepatan Tak Terdeteksi

Pembunuh menyilangkan dua tangan, membentuk perisai es ribuan lapis.

> "Kau tidak akan mendeka—"

BOOOOMMMM—!!!!

Damien menghilang dari posisinya.

Satu detik kemudian—

CRACK!!

Perisai es itu dihantam dari belakang.

Pembunuh terhuyung dan terkejut.

> "Bagaimana bisa… bahkan bentuk keduaku tidak bisa menangkap gerakannya?!"

Damien ada di belakangnya, kepala sedikit miring.

> "Kau lambat. Sangat lambat."

---

🌑 ADEGAN 3 — Zura Merasa "Takut" Pertama Kali

Rantai es yang menahan Zura mulai retak akibat energi Damien.

Namun tubuh Zura sendiri rapuh setelah penyiksaan.

Saat melihat Damien yang begitu dingin dan ganas—

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Zura merasa takut.

Bukan takut pada pembunuh.

Bukan takut mati.

Tapi takut akan Damien menghancurkan dirinya sendiri dengan kemarahan itu.

Suara Zura gemetar—sesuatu yang belum pernah terjadi.

> "…Damien… berhenti… jangan rusak dirimu…"

Damien, yang sedang memegang kepala pembunuh itu, menoleh sedikit.

Matanya—gelap, dingin, penuh amarah.

> "Zura. Dia menyakitimu."

"Jadi aku akan memastikan dia tidak bisa menyentuh siapa pun lagi."

Zura menggigit bibirnya (retakan kecil muncul di wajahnya).

> "…aku… tidak ingin melihatmu hancur karena aku…"

Itu bukan sekadar program. Itu emosinya sendiri.

Emosi pertamanya: TAKUT.

Takut kehilangan Damien.

---

❄️ ADEGAN 4 — Pembunuh Menguasai "Zero Absolute — 0 Kelvin Domain"

Pembunuh itu membanting tangan ke lantai.

Seluruh ruangan menjadi putih.

Suhu jatuh drastis.

–270°C… –273°C… –273.15°C…

Suhu Mutlak.

> "Selamat datang di domain yang bahkan dewa sekalipun tidak bisa bertahan."

Semua makhluk hidup harusnya membeku.

Semua aura seharusnya mati.

Semua energi harusnya runtuh.

Namun Damien berdiri diam.

Es muncul di rambutnya sedikit… lalu meleleh.

Damien menatap pembunuh itu, acuh tak acuh.

> "…Ini saja? Aku kira kau serius."

---

⚡🔥 ADEGAN 5 — Damien Menggabungkan Aura Primordial + Petir Darah

Damien mengangkat tangan.

Keheningan memutat.

Angin berhenti.

Cahaya padam.

Dari tubuhnya, muncul dua energi besar:

✔ Primordial Golden Sigil (warisan penuh)

✔ Blood-Lightning Surge

Tatu emas primordial di dadanya bersinar.

Asap hitam-bulan terbentuk seperti sayap kabut.

Pembunuh langsung mundur 10 langkah, panik:

> "T-Tunggu… itu kekuatan apa—?!"

Damien melangkah.

Setiap langkah memecahkan domain absolut.

> "Kekuatan yang kau tidak layak tahu."

---

🌙 ADEGAN 6 — Damien Naik Ranah (BREAKTHROUGH)

Ketika dua energi itu menyatu—

DUUUUMMMM—!!!

Gelombang menghancurkan seluruh suhu mutlak.

Rex terjatuh.

Hana teriak tanpa sadar.

Zura menatap dengan mata melebar.

Damien naik ranah:

[Spirit Manifest Realm Lv.7→ Lv.8]

Pembunuh itu mulai gemetar.

> "I-itu tidak mungkin… Domain 0 Kelvin-ku saja tidak bisa menahan… kau makhluk apa?!"

---

⚔️ ADEGAN 7 — Damien MULAI Membantai

Dalam sekejap—

DAM!!!

Damien menendang pembunuh hingga tengkurap.

CRASH!!!

Damien menghancurkan sayap jiwa pembunuh.

Pembunuh menjerit, dan Damien menarik wajahnya mendekat.

> "Jeritan Zura jauh lebih menyakitkan dari ini."

Ia menghantam wajah pembunuh itu ke lantai.

> "Kau membuatnya menjerit."

CRACK—!!!

> "Kau membuatnya ketakutan."

CRACK!!!

> "Jadi aku akan membuatmu menderita sepuluh kali lipat."

---

❄️🔥 ADEGAN 8 — Akhirnya, Zura Berteriak Nama Damien

Zura, gemetar, memaksa suaranya keluar.

> "DAMIEN!!"

Jeritan itu… bukan lah jeritan kesakitan.

Tapi jeritan yang lahir dari emosi.

Semua retakan di tubuhnya bersinar lembut.

Damien berhenti sejenak di tengah memukul.

Ia menoleh.

Zura, dengan suara lirih, berkata:

> "…jangan hilang…" "…aku butuh kau tetap ada…"

Damien menutup mata sebentar.

Aura brutalnya mereda sedikit.

> "Maaf, Zura. Aku tidak akan pergi ke mana pun."

Namun ia menatap pembunuh itu sekali lagi.

> "…tapi dia tetap harus mati."

---

🩸 ADEGAN PENUTUP — Damien Membuka Mode Pembantaian

Damien mengangkat tangan.

Seluruh domain gemetar.

Energi petir-darah mengumpul seperti jurang hitam-merah di telapak tangannya.

> "Akhiri semuanya."

Pembunuh berteriak ketakutan.

Damien menekan tangan ke dada pembunuh.

✦ Crimson Void Collapse — Primordial Execution

Cahaya merah dan hitam menelan pembunuh itu.

Layar domain putih tersapu habis.

Teror berakhir.

Damien berdiri, menggenggam Zura.

---

🔥 END CHAPTER 107 🔥

More Chapters