WebNovels

Chapter 86 - Chapter 86

---

⚔️ CHAPTER 86 — "Meteor Es Jatuh, Zura Menghadang (Dengan Santai), & Damien Bangkit Dengan Lunar Void Mode — Partial Awakening"

(Lanjutan dari detik terakhir: meteor es Aurelius turun menembus tujuh lapis ruang)

---

❖ ADEGAN 1 — METEOR FROSTVEIL TURUN

Langit seketika berubah menjadi putih kebiruan.

Bukan awan.

Bukan kabut.

Itu tekanan es tingkat dewa.

Meteor sebesar gunung kecil—

(jangan percaya Zura, itu gunung gede banget)

jatuh dengan cahaya biru yang membelah atmosfer.

Rex: "BROOOO ITU BUKAN GUNUNG KECIL!! ITU PULAU!!"

Hana: "ITU BISA NGEHAPUS KONTINEN!!!"

Zura berdiri di depan mereka.

Santai.

Tangan satu masuk saku.

Satu lagi megang buah.

Rex gemetar: "Zura… kau akan ngapain?"

Zura mengangkat bahu.

Zura: "Hmm… paling cuma tepuk dikit."

Meteor turun— membelah tanah

menggetarkan dimensi

melengking seperti seribu pedang es.

BOOOOOMMMMMM—!!

Sebelum menyentuh tanah—

Zura tapak kaki sedikit.

Tek!

Gelombang hitam-biru keluar.

Meteor itu melambat seolah gravitasi berhenti.

Rex: "BRO… MANA ADA ORANG NENDANG GRAVITASI?!"

Zura (mengunyah buah): "…Tenang. Ini cuma untuk nunda.

Yang hancurin ya… bocah keras kepala itu."

Ia melirik bahunya—

di mana Damien masih pingsan seperti karung beras.

Zura: "Waktunya bangun, pewaris aneh."

DOR!

Zura ngejentik kening Damien.

Damien langsung MELEK—

mata kiri perak bulan

mata kanan emas primordial.

Damien (terengah): "Zura… kau—"

Zura: "Yap. Ada meteor. Buruan bangun, sayang."

Damien: "…kau baru saja memanggilku apa—"

Zura: "Buruan sebelum kau mati."

---

❖ ADEGAN 2 — DAMIEN BANGKIT: LUNAR VOID MODE (PARTIAL)

Meteor mulai bergerak lagi—

karena Zura sudah berhenti menahannya.

Damien berdiri.

Aura Void-nya beresonansi.

Cahaya bulan menutupi tubuhnya.

Darahnya terbakar logam perak hitam.

Tato Primordial di punggungnya menyala.

Lunar Void Mode — Partial Awakening (30%)

WUUUMMMMM—

Tanah meledak di bawah Damien.

Awan terbentuk di sekitar kakinya.

Hana terbelalak: "Ini… aura monster."

Rex: "Bukan monster—

ITU BOSS RAID TIER DEMI-GOD!"

Zura tersenyum kecil.

Zura: "Yah. Anak ini akhirnya bangun juga."

---

❖ ADEGAN 3 — TIGA TEKNIK BERTABRAKAN

Meteor mendekat.

Damien menutup mata.

Di dalam pikirannya, suara tiga entitas muncul:

★ Warisan Primordial —

> "Gunakan inti Eclipse. Tekan ruangnya."

★ Warisan Dewa Petir —

> "Gunakan Tinju—

Thunder God Tyrant Fist: Heavenbreaker Pulse."

★ Teknik Bulan —

> "Gabungkan dengan Moonlight Flow Step

dan bentuk pukulan sabit."

Damien menarik napas.

Cahaya bulan

kegelapan void

dan petir emas ungu—

semua berputar di lengannya.

Damien membuka mata.

"…Aurelius."

"Aku bukan ancaman."

"Aku bukan musuh."

"Tapi kalau kau mau membunuhku—"

Ia mundur satu langkah.

"Kuhancurkan ujianmu."

---

❖ ADEGAN 4 — TINJU DEWA: ECLIPSE THUNDER BREAK

Damien melompat ke atas—

seperti bintang hitam yang meledak ke langit.

Cahaya bulan membentuk jejak sabit.

Petir ungu menghantam langit.

Void menyelimuti kepalan tangannya.

Damien mengangkat tinju.

ECLIPSE THUNDER BREAK

— Moon Devour + Thunder God + Primordial Core

Ia mengayun—

DORRRRRRRR—!!!

Meteor Frostveil

yang seharusnya hanya bisa dihancurkan dewa—

RETAAAAK…

RETAAAAAAAK—

BOOOOOOOOOM!!!

Meteor pecah menjadi kristal es raksasa

yang meledak ke segala arah

menghasilkan salju panas.

Hana tak berkedip: "…itu… bukan kekuatan manusia."

Rex menangis haru: "BROOOO NYA ELAAAH ITU TINJU DARI SURGA APA APAAN—"

Zura hanya mengangguk kecil.

Zura: "Lumayan."

---

❖ ADEGAN 5 — DAMIEN TERHEMPAS, VOID MODE MATI

Begitu meteor hancur, Void Mode Damien padam.

BOOOOM—

Ia jatuh dari ketinggian, tubuh bergetar, darah menetes.

Zura menangkapnya sebelum menyentuh tanah.

Zura: "Kau kuat… tapi tetap payah soal tubuhmu."

Damien:

"Cih… aku belum selesai."

Hana: "KAU SUDAH MAU MATI BODOH!"

---

❖ ADEGAN 6 — DI ISTANA FROSTVEIL, AURELIUS TERDIAM

Aurelius membuka mata ketiganya perlahan.

Meteor hancur.

Meteor miliknya.

Aurelius (dalam hati): "…anak itu…

bukan entitas biasa."

Bayangan di belakang Aurelius berbisik:

> "Yang Mulia, apakah kita harus mengirim ujian ketiga?"

Aurelius menutup matanya.

"…Tidak."

"TKalian tak akan kuat menahan akibatnya."

Ia berdiri.

Aura dewa bergetar tipis.

"Aku sendiri yang akan melihatnya."

---

❖ ADEGAN PENUTUP — DAMIEN MEMBUKA MATA

Damien tidur terbaring.

Tiba-tiba—

Simbol bulan di dadanya menyala.

Muncul suara:

> "Pewaris.

Ujian berikutnya bukan dari Frostveil…"

"Tapi dari dunia di atas."

Damien terbangun, mata hitam-peraknya menatap langit.

"Sial… masalah baru lagi."

---

🔥 END CHAPTER 86

More Chapters