WebNovels

Chapter 84 - Chapter 84

---

⚔️ CHAPTER 84 — "Pertarungan yang Mengguncang Dimensi & Pengakuan Setengah Hati Aurelius"

(Lanjutan langsung dari akhir Chapter 83 — tanpa skip, tanpa ulang)

---

❖ ADEGAN PEMBUKA — DIMENSI RETAK, DAMIEN TERJATUH

Ledakan gabungan: Frozen Cataclysm × Heaven-Smite Fist × Primordial Thunder Flow × Moonfall Arcane Slash

membuat dimensi yang mereka tempati retak seperti kaca hitam.

Damien terhempas ke belakang—

CRAAASSSH!!

Ia jatuh tepat di lokasi awal, di dataran berbatu yang sebelumnya ia gunakan untuk menekan Arcelian.

Darah menetes dari bibirnya.

Sibuk bernapas.

Sibuk hidup.

Kael Arclight di kepalanya menjerit panik:

> "ANAKKU! KAU JATUH SEPERTI KANTONG BERAS ILANG DISKON!!"

Dewa Misterius hanya bergumam:

> "…Dia belum mati. Manusia keras kepala."

Damien tersenyum miring lemah. "Aku… masih bisa berdiri."

Namun tubuhnya runtuh lagi.

---

❖ ADEGAN 2 — AURELIUS MENARIK LYANNA & ARCELIAN DENGAN PAKSA

Aurelius turun perlahan dari langit. Langkahnya seperti dewa melewati permukaan beku.

Ia mengangkat tangan.

WHUUM—

Es turun dari langit, membentuk dua pilar kristal yang mengikat Lyanna & Arcelian, lalu menarik mereka ke sisi Aurelius secara paksa.

Lyanna berteriak: "AYAH!! Jangan seret aku—Damien butuh bantuan!"

Aurelius sama sekali tidak menoleh.

Aurelius: "Diam, Lyanna. Kau sudah membuatku cukup malu hari ini."

Arcelian, yang tubuhnya baru 40% mencair, berbisik lirih: "...Ayah… dia benar. Aku yang memulai…"

Aurelius memotong dingin: "Kau juga diam. Kalian berdua ikut denganku."

Aura Dewa Es membuat tanah membeku hingga puluhan meter ke dalam.

Aurelius berbalik, berniat meninggalkan Damien pingsan di tengah dimensi yang hampir runtuh.

Namun sebelum ia pergi—

matanya sempat menatap Damien sekali lagi.

Mata yang awalnya penuh amarah berubah… sedikit ragu.

"Manusia ini… menahan serangan penuhku…"

"Tubuh mortal… tapi bisa memanggil tiga warisan sekaligus…"

Aurelius memalingkan wajah.

Ketidaksukaan.

Kekaguman.

Kebingungan.

Semuanya bercampur.

Ia menarik kedua anaknya masuk ke portal es tanpa menoleh lagi.

---

❖ ADEGAN 3 — DIMENSI MULAI HANCUR

Begitu Aurelius pergi—

ruang di sekeliling Damien pecah.

Retakan hitam merayap di langit.

Tanah bergelombang seperti sedang dilumat dari dalam.

Damien terpaksa bangun meski lututnya gemetar.

Damien: "…sial… dimensi… meleleh…"

Kael Arclight:

> "KAU MATI KALO NGGAK KABUR SEKARANG!"

Dewa Misterius:

> "Bangun, anak. Kau masih berhutang sebuah nama."

---

❖ ADEGAN 4 — ZURA, REX, & HANA MASUK

Sebuah celah terbuka di udara.

Zura-lah yang pertama muncul—

tatapan dingin, mata emas menyala, rambut berkibar saat energi dimensi menampar wajahnya.

Zura: "Ketemu kau."

Ia langsung mengangkat Damien ke bahunya dengan satu tangan, seolah berat Damien cuma sandal.

Damien mendecak. "Aku bisa jalan."

Zura mengangkat alis. "Oh ya? Jalanlah."

Damien mencoba…

dan nyaris jatuh wajah duluan.

Zura: "Ya. Seperti yang kuduga."

Tepat setelah itu—

Rex & Hana jatuh berguling dari portal.

Rex: "BROOOO!! AKU DATANG MENYELAMATKANMU!!"

Hana memukulnya. "Kau bahkan tersandung portal!"

Rex: "Portalnya licin seperti hubungan kita!"

Hana: "ITU BUKAN HUBUNGAN!"

Zura tanpa ekspresi: "Diam sebelum aku lempar kalian ke celah ruang."

Rex & Hana langsung tutup mulut.

Zura menatap Damien lagi. "Pegangan. Kita pergi sebelum tempat ini runtuh dan menguapkanmu."

---

❖ ADEGAN 5 — KEMARAHAN AURELIUS DI ISTANA ES

Cut ke Frostveil.

Aurelius berdiri di tengah istana es seluas benua kecil. Aura dewa meluap begitu kuat sampai dinding-dinding istana retak.

Arcelian berlutut, ketakutan.

Lyanna menunduk dalam, tubuh gemetar.

Aurelius: "Arcelian…

Putraku… bagaimana mungkin tubuhmu membeku oleh kekuatan yang bukan milikku?"

Arcelian: "Damien… ada sesuatu dalam dirinya… ayah… aku tak bisa menjelaskan…"

Aurelius kemudian menoleh ke Lyanna.

Tatapan itu membuat ruangan runtuh sedikit.

Aurelius: "Dan kau.

Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa seseorang cukup kuat menahan tanganku?"

Lyanna mengepal, bola mata bergetar.

Lyanna: "Ayah… dia menyelamatkanku.

Damien bukan musuh."

Aurelius mendekat satu langkah.

"Jika dia bukan musuh… maka dia ancaman."

Aura Calamity Overlord Level 4 memenuhi ruangan.

"Dan aku tidak suka ancaman."

---

❖ ADEGAN 6 — DAMIEN TERBANGUN DI LUAR PORTAL

Damien akhirnya keluar dari dimensi, jatuh lagi di padang rerumputan tempat ia masuk sebelumnya.

Zura menurunkannya dengan hati-hati.

Damien menggeretakkan gigi. "Aku… harus kuat. Lyanna…"

Zura: "Lyanna aman. Dewa itu tidak akan menyentuhnya.

Masalahnya… dia akan datang mencari kamu berikutnya."

Rex: "Kita harus power-up BROOO!!"

Hana: "Kita? K-au? Bro? Power-up? Kamu bahkan kalah lawan ayam kampung kemarin."

Rex: "AYAM ITU PETARUNG ILEGAL!"

Hana memukulnya.

Damien memaksakan diri duduk.

Ia melihat ke langit.

Damien (pelan, dingin): "Aurelius…

Aku tidak akan lari dari dewa."

Matanya berubah sedikit perak.

"Aku akan mematahkan takdirmu."

Kael Arclight dan Dewa Misterius sama-sama terdiam.

Kael Arclight:

> "…anakku… mulai menyeramkan."

Dewa Misterius:

> "Aku menyukainya."

---

❖ ADEGAN PENUTUP — AURELIUS MEMBUKA MATA KETIGA ES

Cut ke Frostveil.

Aurelius duduk di tahtanya.

Ia membuka mata ketiganya—

Glacial Divinity Eye, mata yang hanya dimiliki dewa es kuno.

Dalam penglihatannya…

ia melihat cahaya perak Damien dari jauh.

Aurelius bergumam:

"…anak itu…

cahayanya menyerupai seseorang yang seharusnya sudah mati…"

Ia mengepal tangan.

"Damien…

Aku akan menilaimu sendiri."

Konflik dewa × mortal resmi dimulai.

---

🔥 END CHAPTER 84

More Chapters