"Yang mulia..."
"Dia..."
Entah itu warga sipil, kesatria, prajurit, atau bahkan para pejabat. Semua orang terpana pada saat ini, mereka semua menatap raja muda mereka dengan tak percaya.
Tidak pernah terpikir sedikit pun dalam benak semua orang, bahwa suatu hari, seorang raja yang mulia akan begitu mementingkan rakyat jelata.
Mereka mungkin pernah mendengar cerita seorang raja di negeri yang jauh sangat mencintai rakyatnya, tapi semua orang juga bisa mengarang cerita.
Setidaknya, mereka tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu selama hidup mereka. Sejauh yang mereka ingat, apa yang mereka dapatkan dari kaum bangsawan hanyalah eksploitasi.
"Hidup..."
"Hidup yang mulia raja!"
Pada saat ini, entah siapa yang memulai, sorakan penghormatan tiba tiba terdengar di antara para penduduk.
"HIDUP VALI ALVECTOR!"
"HIDUP YANG MULIA RAJA!"
"HIDUP ALDORA!"
Kemudian, seperti percikan api yang membakar kapas, menjalar kemana mana hingga menjadi kobaran yang membara. Sorakan penghormatan bergema di seluruh jalanan utama kota Aldora.
"Engkau tidak perlu khawatir yang mulai, aku juga tidak akan berlari!"
"Ayo hadapi para goblin bersama, aku juga akan melindungi Aldora!!"
Seorang pria yang terlihat seperti petani mengepalkan tangannya tinggi tinggi dan berkata dengan mata merah.
"Aku juga! Meskipun usiaku sudah tidak muda, jangan remhkan aku! Aku dulu melawan sepuluh goblin sendirian!"
Suara lain terdengar, seorang pria tua menepuk dadanya kemudian berkata dengan penuh semangat.
"Aku juga!"
"Yang mulia, jangan khawatir, mari pertahanan kota kita bersama sama!"
"Aku sangat kuat, apa yang perlu ditakutkan dari goblin kecil!?"
Tiba tiba, banyak pria pemberani berteriak, sehingga seluruh alun alun dan jalanan menjadi berisik.
Di atas balkon, aku menatap kerumunan orang yang kacau dengan sedikit bingung. Kenapa orang orang ini begitu bersemangat?
"Sepertinya feodalisme di tempat ini sangat kental, sehingga 'pidato merakyat' biasa sangat berpengaruh."
Aku tidak menyangka kalimat kalimat yang aku ucapkan dengan santai sangat berpengaruh disini.
Lagipula, pidato tadi bukan hal yang luar biasa dan aku sudah sering mendengarnya dari mulut para elit di kehidupanku sebelumnya.
Namun, sepertinya aku masih belum cukup paham betapa dalamnya sistem hierarki yang tertanam dalam benak penduduk di kerajaan ini.
Tapi tentu saja, semua kata yang keluar dari mulutku bukan omong kosong maupun janji manis.
Rakyat Aldora berharga? Jelas Itu bukan sanjungan kosong, di negara modern, penduduk memang aset yang berharga. Karena mereka adalah salah satu penggerak ekonomi penting di negara manapun.
Aku akan melindungi Aldora? Bukankah itu sudah jelas, kalau aku tidak mempertahankan kota ini, dimana aku tinggal? Apakah aku masih seorang raja nantinya? Kalau begitu cheat ku malah tidak berguna nantinya.
Rakyat adalah saudaraku, tentu saja itu juga bukan kebohongan, karena dalam sistem negara republik, presiden dan para pejabat bukanlah "Tuan" para penduduk, mereka di posisikan sebagai pengurus negara milik semua orang yang terdaftar dalam data kependudukan.
Oke, berhenti mencari validas. Lagipula, ada yang lebih penting saat ini.
"Mohon tenang semuanya."
Aku mengangkat tanganku ke depan dan berkata dengan tenang.
Meskipun tidak terlalu kencang, tapi karena sihir pembesar, suaraku berhasil menjangkau seluruh penonton.
Dan tampaknya prestise ku masih berguna, hanya beberapa saat setelah berbicara, seluruh jalanan kembali hening.
"Aku tahu kalian mencintai kota ini."
"Tapi tidak perlu mengorbankan diri, seperti yang aku katakan tadi, kalian tidak perlu khawatir."
"Aku memiliki solusi untuk mengurus goblin goblin itu."
"Sekarang kembalilah ke rumah masing masing dan tunggu kabar baik dariku dan para prajurit."
...
Mendengar ucapan Vali, para penduduk saling memandang dengan kebingungan dalam benak mereka.
Mereka tidak tahu solusi apa yang di miliki oleh Vali tapi mereka tidak berani bertanya.
"Baiklah, ayo kita pulang dulu."
Ucap seorang pria kepada rekan di sampingnya.
"Ya, yang mulia Vali terlihat sangat percaya diri, kita tunggu saja dengan tenang."
"Jika yang mulia membutuhkanku, aku akan maju paling depan!"
Rekan pria itu mengangguk lalu kedua pria itu pun berbalik menuntun keluarga mereka keluar dari kerumunan.
Obrolan seperti itu terjadi di semua tempat, penduduk kota berdiskusi dengan lingkaran sosial masing masing lalu kebali ke tempat masing masing.
Di balkon, Vali juga tidak membuang waktu, dia berbalik dan kembali ke kastil setelah melihat para penduduk membubarkan diri.
...
Beberapa menit kemudian...
"Huft~ aku tidak menyangka, berbicara di depan banyak orang ternyata sangat menguras mental."
Ketika aku kembali ke ruang singgasana, aku tidak duduk di singgasana melainkan berbaring di sofa empuk yang diciptakan oleh Super Konstruksi.
Jika ada yang bertanya kenapa bisa ada sofa empuk di dalam ruang tahta yang harusnya menjadi simbol kekuasaan raja?
Itu karena aku tidak terbiasa dengan hierarki di negara ini. Entah kenapa kesenjangan statusnya sangat dalam sehingga hanya raja yang boleh duduk di ruangan ini.
Dari ingatanku, setiap pertemuan pasti hanya aku yang duduk sementara pejabat atau tamu hanya berdiri.
Aku tidak menyukai kebiasaan seperti itu jadi aku meminta sofa tambahan agar pengunjung bisa duduk.
"Yang mulia, kami datang."
Saat aku menikmati momen santai yang mungkin langka di masa depan, pintu di ketuk disusul oleh suara yang familiar terdengar.
Aku tahu para kesatria sudah datang dan ini adalah saatnya membahas masalah goblin, aku berdiri dari sofa kemudian duduk di singgasana.
"Masuklah."
Aku memanggil mereka masuk dan pintu ruangan pun terbuka.
Drud adalah yang pertama masuk, di ikuti 3 kesatria pelindung lainnya kemudian Anna yang berjalan sambil menunduk, entah apa yang dia pikirkan.
Saat kelima orang itu memasuki ruangan, mata mereka dipenuhi keheranan.
"Yang mulia, ini... Apa yang terjadi?"
"Apakah aku salah ruangan? Apakah ini ruang tahta yang sebelumnya?"
Wajar mereka bingung, lagipula baru beberapa menit sejak mereka meninggalkan ruangan ini tapi semua hal didalamnya berubah drastis!
"Aku akan menjelaskannya nanti."
"Sekarang mari bahas masalah utama yang ada di depan mata kita."
"Anna, katakan berapa banyak prajurit yang dalam keadaan prima dan siap bertempur kapan saja?"
Mendengar pertanyaan kedua orang itu, aku tidak langsung menjawabnya dan menanyakan hal yang paling penting.
"Yang mulia, dari 1100 prajurit kita, hanya ada 990 yang siap tempur, sisanya masih memulihkan diri setelah pulang dari misi observasi kemarin."
Mendengar pertanyaan Vali, Anna menjawab pertanyaan dengan suara rendah.
"990 di tambah 35 penyihir..."
Mendengar laporan Anna, aku mengangguk dan mulai menghitung dalam hati.
"Izin bertanya, yang mulia."
"Soal ucapan anda tadi, apakah anda yakin untuk tetap menahan para goblin?"
Melihat Vali termenung, Anna mengigit bibirnya kemudian bertanya dengan nada khawatir.
Awalnya dia pikir Vali akan membawa para penduduk mengungsi ke kota Blackstone seperti yang di perdebatkan dengan para pejabat sebelumnya.
Namun dia tidak menyangka, Vali bukan hanya ingin melindungi rakyat Aldora, tapi dia juga ingin melawan para goblin!
Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri?
"Aku tahu niatmu sangat mulia, tapi apakah kamu tidak menyayangi nyawamu sendiri?"
"Bagaimana kalau... Bagaimana kalau kita ikuti saja rencana sebelumnya, ayo kita mengungsi!"
"Kita bawa penduduk bersama kita oke? meskipun akan memakan waktu lebih lambat tapi setidaknya kau bisa selamat dan korban juga tidak terlalu banyak!"
Semakin banyak Anna berbicara, semakin bergetar juga suaranya. Mata gadis itu perlahan memerah, bahkan ada sedikit permohonan dalam kata katanya.
"Baiklah, jangan terlalu panik, Anna."
Mendengar suara Anna, aku mendongak kemudian bertemu dengan tatapan berkaca-kaca gadis itu.
Berbagai ingatan tentang gadis itu melintas di kepalaku. Anna Revialie adalah nama lengkap Anna dan tahun ini dia berumur 22 tahun, hanya 2 tahun lebih tua dariku.
Dia merupakan putri kesatria pelindung istana, sudah dilatih menjadi kesatria pelindung sejak usia muda.
Saat umurnya 7 tahun, dia mulai berlatih dan pada saat itu juga dia di tunjuk sebagai calon kesatria penjaga pangeran ketiga kekaisaran Alvector, yaitu aku sendiri.
Karena hal itu, Anna telah berada di dekatku sejak kecil. mengesampingkan statusnya sebagai pengawal, dia jelas bisa di bilang sebagian kekasih masa kecilku.
Karena itulah, aku mengerti kenapa dia sangat emosional saat ini.
Aku menghela nafas, turun dari singgasana kemudian kenepuk kepala gedis itu dengan lembut untuk menenangkan emosinya.
"Rajaku~"
Merasakan sentuhan di rambutnya, wajah Anna menjadi merah merona. Dia terkejut, tidak menyangka Vali yang biasanya pendiam akan berinisiatif menghiburnya.
Sejak kecil, meskipun mereka sering bersama, tapi kontak intim seperti ini jarang terjadi.
"Bukankah kalian penasaran dengan perubahan yang terjadi di ruangan ini?"
Vali memberi senyum lembut kepada Anna kemudian menatap semua penjaganya dan bertanya.
Para kesatria mengangguk serempak, mereka sudah sangat penasaran perubahan drastis suang tahta.
"Sebenarnya ini adalah kemampuan unik yang aku bangkitkan."
Anna dan keempat orang ini adalah orang yang paling aku percaya, selain karena sudah bersumpah setia, mereka juga merupakan kesatria yang pernah menjadi pelindung ibuku jadi aku sedikit mengerti kepribadian mereka.
Apalagi, aku sendiri tidak berniat menyembunyikan kemampuan super konstruksi.
Jangan lupa, dunia tempatku berada sekarang adalah dunia dimana sihir benar benar ada!
Meskipun sangat jarang, tapi pasti ada orang yang memiliki kemampuan unik di dunia ini, kan?
"Apa!? Kemampuan Unik?"
Para kesatria, termasuk Anna yang berada di samping Vali terkejut hingga mata mereka terbuka lebar saat mendengar kata "unique skill"
"Ke-kererampilan unik, bakat langka yang konon hanya muncul pada 1 dari 100 ribu penyihir di seluruh dunia!?"
Drud berbicara dengan terbata bata, seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Bagaimana tidak? Di dunia ini, skil unik itu merupakan legenda yang nyata, dalam puluhan tahun sejarah dunia, hanya ada beberapa pemilik yang tercatat.
Seperti pahlawan pedang dalam legenda, konon dia memiliki kemampuan untuk menciptakan pedang dengan sihirnya.
Tidak perlu mantra. tidak perlu ritual apapun. selama pahlawan memiliki energi sihir, dia bisa mengaktifkan kemampuannya!
Saking langkanya, beberapa agama bahkan menganggap pemilik skil unik sebagai orang yang di berkahi oleh dewa dewa.
"Apakah anda serius, yang mulia?"
