WebNovels

Chapter 17 - 17.

+———————-o0O0o-———————+

Akademi Germana

Benteng megah dari batu pucat dengan menara runcing menjulang, jendela kaca patri bercerita, koridor lebar berlapis batu halus. Berdiri di atas Simpul Meteor Aktif, udaranya bergetar halus oleh energi Benang Sutera yang selalu mengalir.

+———————-o0O0o-———————+

Koridor Akademi Germana bergema dengan suara dua pasang kaki yang berlari tak karuan. Cahaya matahari sore yang keemasan menyelinap melalui jendela kaca patri, melukis garis-garis hangat di atas lantai batu halus dan memantulkan kilauan dari kristal-kristal penerang yang belum sepenuhnya berpendar. Bukan lari teratur seperti latihan, lebih mirip kejar-kejaran antara kucing dan tikus—hanya saja kedua pelakunya sama-sama manusia dan sama-sama tidak tahu kenapa mereka harus lari.

"Ell—tunggu—aku—nggak bisa—" Joran terengah-engah, wajahnya sudah memerah seperti tomat matang.

Ell Rian melirik ke belakang sambil terus melaju. "Jangan bilang nggak bisa! Tadi kan udah kamu terima tantanganku!"

"Aku cuma bilang 'ayo kita cepetan ke kelas teori'!" Joran berusaha mengejar, langkahnya seperti orang menginjak bara api. "Bukan 'ayo kita sprint sejauh lima kilometer'! Kelas dimulai sepuluh menit lagi!"

"Sama aja! Kakiku aja yang salah tafsir!" Ell tertawa lepas, jubahnya berkibar seperti bendera di hari berangin. Ia berbelok tajam di sudut koridor, hampir menabrak pot tanaman. Pot itu bergoyang-goyang, daunnya bergetar seperti kena tremor.

Dari kejauhan, sekelompok murid yang sedang serius berdiskusi tentang teori simpul Benang—terhenti. Salah seorang perempuan mengangkat alis.

"Lagi latihan apa sih mereka?" bisiknya.

Teman lelakinya menyeringai. "Mungkin aja lagi latihan kabur dari utang, kayaknya."

Ell dan Joran melewati mereka seperti angin puyuh. Ell masih sempat melambaikan tangan. "Sore! Lagi bahas Benang kusut? Aku ahlinya tau...!"

Joran cuma bisa menggeleng sambil terus berlari dengan gaya yang semakin mirip kura-kura terbalik.

Di lantai dua, di balik jendela kaca patri yang menggambarkan Hujan Meteor Purba, Rektor Halvion berdiri dengan tenang. Tangannya terlipat di belakang punggung, matanya yang berwarna seperti langit senja mengikuti gerakan dua titik yang berlarian di bawah. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak juga kelucuan. Hanya pengamatan yang dalam, seperti seorang peneliti memperhatikan pola gerakan semut-semut.

Di sampingnya, Sereth Kael—Kepala Divisi Disiplin—berdiri dengan bahu kaku. Alisnya yang tebas sudah berkerut sejak tadi.

"Lihat itu," gumam Sereth, suaranya datar tapi tajam. "Kurang ajar. Koridor bukan tempat untuk pacuan kuda."

Halvion tersenyum tipis. "Mereka masih muda, Sereth. Terlalu ber-energi itu wajar."

"Energi yang tidak terkendali adalah anomali. Terutama yang satu itu." Sereth menunjuk ke arah Ell yang baru saja melompati bangku pendek tanpa mengurangi kecepatan.

Halvion tidak menjawab. Matanya tetap pada Ell, seakan mencatat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

Di bawah, Joran akhirnya menyerah. Ia berhenti, membungkuk, tangan di lutut. "Aku… nyerah… benar-benar… Ell… kelas… kita…"

Ell berbalik, berjalan mundur sambil tersenyum lebar. "Kamu kalah dong! Nanti traktirin aku anggur madu ya!"

"Kamu… yang… tantang… aku… yang… traktir?" Joran memandangnya dengan mata penuh dendam. "Dan kita bakal telat!"

"Ya, namanya juga hukuman buat yang kalah." Ell berhenti, lalu melihat ke arah ujung koridor. Senyumnya sedikit memudar.

Di sana, seorang perempuan berjubah abu-abu—warna jubah Divisi Disiplin—berdiri tegak seperti pahatan. Rambut hitamnya diikat rapi, matanya berwarna hijau zamrud yang dingin. Namanya Cloria. Usianya sekitar dua puluh tujuhan, tapi sorot matanya membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih tua.

Ell menelan ludah. Joran langsung berdiri tegak, berusaha terlihat santai padahal napasnya masih tersengal.

Cloria melangkah mendekat. Langkahnya terukur, senyap. Sepatu botnya nyaris tidak bersuara di lantai batu.

"Ell Rian," ucapnya. Suaranya jernih, tajam, seperti pecahan kaca.

Ell menunjuk dirinya sendiri. "Iya? Ada yang bisa saya bantu kak?" ...saya banting..., sambungnya dalam hati.

"Ikut saya."

"Boleh tahu kenapa? Aku… eh, kami, lagi buru-buru mau ke kelas teori, nih," kata Ell, mencoba senyum manis.

Cloria tidak menjawab. Matanya menatap Ell tanpa berkedip. Tatapan itu seperti dua bilah pisau yang sedang diasah.

Ell menghela napas. "Oke, oke. Tapi boleh minta tandu gak ya kak? Kakiku udah kayak Benang Sutera yang baru dipintal—lemah dan gampang kusut."

Joran menarik lengan Ell. "Diam aja, Ell."

Ell mengangguk patuh, lalu mengikuti Cloria yang sudah berbalik. Joran mengikutinya dari belakang dengan wajah was-was.

Mereka masuk ke dalam gedung utama, menuruni tangga batu spiral yang mengelilingi sebuah lubang cahaya dari kubah di atas—Simpul Meteor Aktif yang memancarkan energi tenang. Mereka berhenti di depan pintu kayu berat dengan gembok besi. Cloria mengeluarkan kunci dari saku, membukanya, lalu mendorong pintu.

Dingin langsung menyergap dari dalam ruang penyimpanan ramuan itu.

"Ambil kendi nomor 47, rak ketiga dari pojok kanan," kata Cloria tanpa menoleh.

Ell melongok ke dalam. Rak-rak tinggi penuh kendi. Setiap kendi memiliki segel warna-warni yang berdenyup pelan, tanda bahwa ramuan sihir Meteor masih aktif. "Nomor 47. Oke kak." Ia melangkah masuk, Joran menempel seperti perekat.

Ruang itu dipenuhi aroma aneh: manis seperti madu, tapi menusuk seperti rempah pahit. Kendi nomor 47 mudah ditemukan—warna tanah liat polos, segelnya kuning pucat.

Ell mengangkatnya dengan hati-hati. "Ini dia. Ringan banget ya. Isinya angin kali ya?"

Joran memandang ke sekeliling dengan gelisah. "Ayo cepat keluar. Kita ada kelas teori…"

"Kamu kenapa? Takut ketemu hantu penjaga ramuan ya?" Ell berjalan pelan sambil memutar-mutar kendi di tangannya. "Katanya sih penjaganya cuma satu—ramuan yang bocor trus bakal jadi arwah. Tapi kan nggak mungkin, ya?"

Cloria masih berdiri di ambang pintu, wajahnya tetap seperti topeng.

Saat melintasi rak tengah, Ell melihat sebuah kendi kecil dengan segel perak berkilauan. "Wah, yang ini bagus nih. Segel perak. Pasti isinya sesuatu yang mahal nih."

Joran cuma geleng-geleng.

Ell mendekat, ingin melihat lebih dekat. Tangan kirinya—yang memegang kendi nomor 47—tiba-tiba terpeleset.

"Aduh!" Ell berusaha menyeimbangkan, tapi kendi itu sudah terjatuh.

Druaakk! Denting keras bergema di ruangan sempit.

Kendi nomor 47 pecah berantakan di lantai batu. Dari dalamnya, asap kuning pucat menyembur, menyebar rendah seperti kabut yang hidup.

Ell memandang pecahan itu dengan mulut menganga. Joran menutup mata, seolah tidak sanggup melihat.

Asap kuning itu menyentuh kaki Ell. Saat itu, tubuh Ell bergetar sangat halus. Getaran Benang Sutera di sekitarnya bergolak sesaat, lalu melurus. Jubahnya bergerak sedikit, seperti ditiup angin tak kasat mata. Ia merasa hangat aneh di pergelangan tangannya.

Cloria sudah berdiri di sampingnya. Wajahnya masih datar, tapi matanya mengamati asap yang perlahan memudar.

"Kendi itu adalah penenang getaran Benang Sutera," ucap Cloria perlahan. "Diperuntukkan bagimu."

Ell menggaruk kepala. "Jadi… aku baru aja menghancurkan ramuan penenang buat diriku sendiri?"

"Ya, sangat tepat."

"Terus… efeknya apa kalau aku nggak minum itu? Lagian selama ini aku juga nggak sadar pernah minum itu."

Cloria menghela napas tipis. "Setiap murid dengan getaran Benang tidak stabil menerima penenang melalui makanan atau minuman di kantin, tanpa sepengetahuan mereka. Itu kebijakan standar." Matanya menatap tajam. "Tapi setelah usia dua puluh tahun, tubuhmu mulai menolak penenang pasif. Kamu harus secara sadar mengambil dan meminumnya sendiri—sebagai pengakuan atas kondisimu."

"Getaran Benangmu akan tetap tidak stabil. Dan bisa mempengaruhi orang di sekitarmu."

Ell menoleh ke Joran. "Apa aku udah mempengaruhi kamu?"

Joran menggeleng cepat. "Aku nggak merasa apa-apa."

"Nah, lihat? Mungkin nggak separah itu." Ell tersenyum lega.

Cloria tidak bergeming. Matanya yang hijau zamrud memandang tajam pada Ell, lalu beralih ke Joran. "Kalian berdua sudah menginjak usia dua puluh tahun. Bukan lagi anak kecil yang boleh berlari-lari—bertindak ceroboh dan merusak properti akademi." Dia mengungkit kejadian di koridor tadi. Suaranya datar, tapi setiap kata terasa seperti pukulan. "Ell, getaran Benang Sutera-mu yang tidak stabil itu bukan bahan lelucon. Dan Joran, kau seharusnya sudah cukup dewasa untuk mengingatkan temanmu, bukan malah ikut terhanyut."

Joran menunduk, pipinya memerah. Ell menghentakkan senyumnya, tapi tetap diam. Ada sesuatu dalam tatapan Cloria yang membuatnya tidak bisa sekadar membalas candaan.

Cloria melanjutkan. "Kamu harus mengambil penggantinya. Bahan utamanya hanya ada di Danau Hutan Utara. Ambil kendi kosong dari rak nomor 12, isi dengan air danau di bawah cahaya bulan purnama, dan kembali sebelum matahari terbit besok."

Joran menarik napas tajam. "Danau Hutan Utara? Itu di luar batas aman! Bahkan pemburu—, dan sekarang juga sudah sore, Kak Cloria. Bulan purnama baru nanti malam. Artinya dia harus…"

"Artinya dia harus berangkat sekarang," potong Cloria. "Dan menunggu di danau hingga bulan terbit. Ell Rian pergi sendiri. Joran, kamu tetap di asrama dan hadiri kelasmu."

Joran melihat Ell, wajahnya campur aduk.

Ell membungkuk memungut pecahan. "Kalau bulan purnamanya ketutup awan, gimana tuh kak?"

"Maka gagal."

"Oke deh." Ell mengangguk, lalu berjalan ke rak nomor 12. Di sana ada botol kaca biru tua dan, kebetulan, beberapa lentera kristal kecil untuk perjalanan. Ia mengambil botol dan sebuah lentera. "Ini dia."

Ia menoleh ke Joran, yang tampak bersalah. "Santai aja Jo. Aku pergi sekarang, tungguin bulan terbit, ambil air, lalu pulang. Sebelum kamu sadar aku pergi, aku udah balik lagi."

Joran menggigit bibir. "Tapi—hutan itu gelap. Kau sendirian…"

"Nggak ada tapi. Besok pagi kita sarapan bareng ya, aku traktirkan anggur madu deh. Janji." Ell menepuk bahu Joran, lalu melihat Cloria. "Aku boleh pergi sekarang?"

Cloria menatapnya. Tatapan itu panjang, dalam, penuh peringatan. Ell yang biasanya lancang, sedikit menunduk. "Oke, oke. Aku pergi."

Ia melangkah keluar, memasukkan botol kaca dan lentera kristal ke dalam tas. Cloria mengunci pintu di belakang mereka.

Di koridor yang mulai temaram, Joran masih terlihat gugup. "Ell, serius—"

"Dia aja nyuruh aku pergi sendiri. Kalo kamu ikut, nanti malah kita berdua dihukum." Ell mengangkat tangan. "Tenang. Aku ada lentera. Dan bulan purnama juga terang. Aku cuma ambil air aja kok. Bukan mau nantangin makhluk legenda." Ujar Ell dengan senyum bercanda.

Ia berbalik dan berjalan menyusuri koridor yang semakin sepi, meninggalkan Joran—menuju gerbang utara. Di kejauhan, lonceng akademi berbunyi menandakan dimulainya sesi kelas sore.

Di lantai dua, Sereth Kael menghela napas kesal. "Kau lihat? Tidak ada rasa bersalah sama sekali. Tidak ada pengertian atas aturan."

Halvion tersenyum kecil. "Dia tidak takut pada kegelapan hutan, atau pada tugas yang mustahil. Itu yang menarik. Apakah karena kebodohannya, atau karena dia merasa memiliki sesuatu yang melindunginya?"

Sereth tidak menjawab. Matanya mengikuti Ell yang keluar dari gerbang utara, menghilang di antara pepohonan yang mulai diselimuti bayangan panjang senja.

Di bawah, Joran berdiri sendirian di koridor yang sunyi, memandang ke arah Ell pergi. Ia mengelus dada, berharap temannya baik-baik saja. Lalu dia berbalik arah melangkah menuju kelasnya.

•••o0o•••

Ell berjalan sendirian di jalan setapak dengan langkah ringan, seolah sedang dalam perjalanan untuk piknik, bukan menjalankan tugas berbahaya. Cahaya sore memanjangkan bayangannya di tanah. Di tasnya, botol kaca dan lentera kristal berkilau lembut saat bergoyang. Dan di dalam dadanya, sesuatu yang selalu bergetar halus, kali ini berdenyut sedikit lebih kuat—seperti tertarik oleh sesuatu yang jauh di dalam hutan, sesuatu yang menunggu di balik malam yang akan datang.

More Chapters