WebNovels

Chapter 3 - Chapter III Game II

​Aroma teh chamomile yang menenangkan menguar dari cangkir porselen di atas meja kerja Aeon.

Di samping cangkir itu, bertumpuk beberapa pucuk surat dengan stempel lilin emas dari serikat dagang terkemuka, semuanya berisi ucapan terima kasih dan laporan tentang jalur logistik yang kembali hidup.

​Tiga hari telah berlalu sejak Sir Tyeo Veulfort dikirim ke hutan timur. Ksatria mantan tentara bayaran itu tidak sekadar mengusir para perampok; dia meratakan seluruh sarang mereka tanpa menyisakan satu pun ancaman.

​"Keputusan Anda kali ini membantu para pedagang, Lord Aeon," suara Jenn memecah keheningan ruangan saat wanita itu selesai merapikan dokumen di sisi meja.

​Aeon menyesap tehnya perlahan, merasakan kehangatan menjalar ke tenggorokannya.

Matanya melirik ke arah jendela yang menampilkan hiruk-pikuk kereta kuda dagang yang mulai mengalir masuk ke gerbang kota.

Di dalam game yang dulu dimainkannya, insiden hutan timur biasanya diabaikan oleh Lord Aeon yang asli karena sifatnya yang apatis, memicu kebangkrutan wilayah dalam beberapa bulan.

​Kali ini, sejarah itu bergeser beberapa inci.

​"Mereka adalah urat nadi Vesthall, Jenn," jawab Aeon tenang, menyembunyikan sisa ketegangan yang sempat melandanya.

"Membiarkan mereka mati sama saja membiarkan wilayah ini membusuk dari dalam."

​Jenn hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat wajah tenangnya tampak sedikit lebih manusiawi, sebelum kembali mundur ke balik bayang-bayang ruangan.

​Malam jatuh di Awestern dengan keheningan yang pekat dan indah.

​Aeon berdiri di balkon kastil, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahnya. Sisi kiri pipinya yang cacat terasa sedikit kebas oleh udara malam.

Sebagai dirinya di kehidupan lalunya, malam hari hanya berarti kepungan cahaya lampu neon kantor dan radiasi layar monitor yang melelahkan.

Dia hampir lupa bagaimana rasanya menatap langit malam yang bersih tanpa polusi, di mana gugusan bintang berpendar layaknya taburan berlian.

​Tiba-tiba, sudut mata Aeon menangkap sesuatu. Sebuah kilatan cahaya melesat cepat memotong kegelapan langit, bergerak turun dengan lintasan melengkung menuju balkon tempatnya berdiri. Itu bukan meteor.

​Angin berembus kencang, membawa aroma kelopak bunga mawar dan getaran mana yang pekat.

Cahaya itu meredup, menyisakan sosok wanita anggun yang mendarat tanpa suara di atas lantai batu. Jubah penyihirnya yang bersulam benang perak berkibar pelan.

​Escarlate.

​Penyihir andalan House Awestern itu menatap Aeon dengan sepasang mata yang memancarkan kelembutan mendalam. Dia segera menekuk lututnya, menundukkan kepala dengan khidmat.

​"Saya kembali, My Lord," ucap Escarlate, suaranya terdengar seperti alunan kecapi yang merdu.

​Aeon melangkah maju. Kedua tangannya bergerak pelan, memegang lengan Escarlate untuk membantunya berdiri tegak kembali.

"Terima kasih atas kerja kerasmu, Scarlet."

​Escarlate mendongak, seulas senyum hangat terbit di bibirnya. Namun, sebelum sepatah kata pun kembali lolos dari mulutnya, atmosfer di antara mereka mendadak membeku.

Bayangan hitam yang pekat secara tidak wajar mendadak bangkit dan menggeliat di lantai batu, tepat di tengah-tengah mereka.

​

​Insting bertarung Escarlate meledak. Hanya dengan satu sentakan tangan ke udara, sebuah tongkat sihir kayu kuno berujung kristal safir langsung termaterialisasi dari riak dimensi. Matanya bergerak secepat kilat, bersiap merapal mantra penghancur.

​Sebelum sihir itu terlepas dan menghancurkan balkon, Aeon mengangkat satu tangannya ke depan dada Escarlate, memberi isyarat mutlak untuk berhenti. Tubuhnya mengenali tanda ini; tidak ada niat membunuh dari bayangan itu.

​"Lama tidak bertemu, Esca," sebuah suara dingin dan monoton keluar dari dalam kegelapan.

​Bayangan itu menyusut dan memadat, membentuk siluet seorang wanita cantik berpakaian pelayan yang tampak menyatu dengan malam tanpa bintang.

Jenn berdiri di sana, keluar dari teknik manipulasi bayangan dengan ekspresi wajah yang tetap datar.

​Alis Escarlate terangkat tinggi. Ketegangannya mengendur dalam sekejap, digantikan oleh dengusan napas pendek.

"Jenn... wanita ini benar-benar tidak berubah dari dahulu."

​Dengan lambaian tangan malas dari Escarlate, tongkat sihirnya kembali lenyap ke dalam udara kosong.

​Jenn sama sekali tidak terganggu oleh todongan sihir tadi. Dia merapikan apron putihnya yang sedikit kusut, lalu membungkuk hormat ke arah Aeon dan Escarlate bergantian.

"My Lord, Esca. Ayo masuk, makan malam telah saya persiapkan di dalam."

​Aeon dan Escarlate saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk setuju. Perjalanan jauh Escarlate pasti menguras tenaganya, dan perut Aeon sendiri sudah mulai memprotes.

​"Silakan duluan, My Lord," ucap Escarlate dengan sopan, melangkah mundur satu blok untuk memberikan jalan.

​Aeon membalikkan badan dan berjalan masuk terlebih dahulu melintasi pintu kaca besar, diikuti oleh Jenn dan Escarlate yang berjalan berdampingan di belakangnya dalam keheningan yang penuh taktik.

​Namun, kehangatan ruang makan yang sudah di depan mata itu lenyap seketika ketika pintu depan aula kastil digedor dengan kasar dari luar.

Suara langkah kaki yang panik dan terburu-buru menggema di koridor batu.

​Seorang pejabat urusan logistik pertanian dan pangan berlari masuk dengan napas tersengal-sengal.

Wajahnya pucat pasi di bawah cengkeraman obor dinding, dan di tangannya, dia memegang seikat batang gandum yang telah menghitam dan membusuk akibat hawar misterius.

​"My Lord! Gawat... ladang sektor selatan dan barat..." Pria itu terjatuh berlutut dengan tubuh gemetar hebat. "Kita... kita gagal panen total!"

Bersambung.

More Chapters