WebNovels

Chapter 12 - bab 12 Jantung Leyline yang Terluka

Setelah kristal gelap hancur, cahaya tipis kembali mengalir menembus dinding‑dinding batu kuil yang berlumut. Di tengah ruangan, sisa‑sisa asap hitam masih melayang, menandakan bahwa kekuatan kegelapan itu belum sepenuhnya lenyap. Kael menurunkan pedangnya, menghela napas berat, sementara Lyra menurunkan pelindung aura yang hampir menghabiskan semua energi magisnya. Dian, dengan layar Sistema masih berkedip‑kedip, menyusun data terakhir sebelum mereka beranjak kembali ke Eldoria.

"Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama," bisik Kael, menatap keluar melalui lubang‑lubang kecil di atap kuil. "Jika ada apa‑apa yang tersisa, mereka bisa kembali dalam sekejap."

Lyra menatap temannya, matanya bersinar dengan kelelahan namun pula tekad. "Aku akan memusatkan sisa sihir pelindungku pada jalur keluar. Jika ada makhluk gelap yang masih mengintai, mereka tidak akan melewati batas itu." Tangannya bergetar, mengalirkan cahaya lembut yang menutup pintu‑pintu sempit kuil.

Dian menatap layar sistemnya—Sistema mengeluarkan satu sinyal suara yang memecah keheningan. "Ada fluktuasi energi residual di arah selatan, sekitar tiga mil dari sini," lapornya. "Sumbernya tidak stabil, tapi sepertinya masih terhubung ke jaringan leyline yang sama dengan kristal tadi."

Kael mengangguk. "Jika energi itu masih mengalir, artinya ada yang menyalakan kembali sisa‑sisa kegelapan." Tanpa berkata lebih lama, ketiganya meluncur ke lorong utama, menuruni tangga batu yang mengarah ke terowongan tersembunyi yang dulu menjadi jalur pelarian para pendeta.

Di Pintu Gerbang Eldoria

Mereka tiba di gerbang kota Eldoria tepat ketika matahari hampir tenggelam, menorehkan warna jingga ke menara‑menara tinggi. Penduduk yang biasanya riuh kini berkumpul dalam kelompok‑kelompok kecil, bisik‑bisik ketakutan mengalir di antara mereka. Di tengah alun‑alun, Patroli Penjaga Kerajaan—dengan baju zirah berkilau—menjaga satu titik cahaya yang memancar dari menara penjaga.

Lyra mencondongkan kepalanya, merasakan getaran magis yang mengalir dari batu penjaga. "Ada sesuatu yang mengganggu keseimbangan energi kota," katanya, sambil meneteskan percikan cahaya ke tanah. "Kita harus memeriksa menara itu."

Dian menyalakan Sistema pada mode "Aura Scan", memproyeksikan hologram biru di atas menara. Hologram memperlihatkan jaringan leyline yang menembus fondasi kota, sebagian bersinar merah—tanda energi gelap yang masih merembes.

Kael melangkah ke menara, menempatkan pedangnya di tanah sebagai jangkar. "Jika ada sesuatu yang mencoba menguasai menara, mereka tidak akan melewati pelindung ini," ujarnya, mengukir simbol kuno pada batu—simbol perlindungan para Pendekar Kuno.

Sementara itu, Lyra memfokuskan mantra "Astra Shield" pada menara, menciptakan dinding energi yang berkilau seperti aurora. Hujan partikel cahaya berhamburan, menutup retakan‑retakan kecil di dinding batu.

"Sistem mendeteksi sumber energi gelap di ruang bawah tanah menara—sebuah ruang yang sudah lama ditutup," bunyi Sistem, menampilkan koordinat pada hologram. "Jika tidak ditutup, energi itu akan terus memperkuat makhluk-makhluk kegelapan yang bersembunyi di sekitar perbatasan."

Kael menatap Lyra, lalu menoleh ke Dian. "Kita masuk ke dalam?" tanyanya.

Lyra mengangguk, senyum tipis muncul di bibirnya. "Kita tidak punya pilihan."

Kamar Bawah Tanah: Jantung Leyline yang Terluka

Mereka menuruni tangga berliku, menembus dinding berlumut yang bergetar tiap kali mereka melangkah. Di ujung lorong, sebuah ruang bulat terbuka—dindingnya dihiasi dengan relief batu berwarna ungu gelap, menandakan aliran energi yang tersumbat.

Di tengah ruang, sebuah Obelisk Kuno menara cahaya berdenyut perlahan. Di sekelilingnya, lingkaran api biru menari, namun satu sudutnya mengeluarkan asap hitam yang mengalir ke atas seperti asap dari bara yang belum padam.

Dian memindahkan Sistema ke mode "Structural Analysis", mengirimkan sinyal ke Obelisk. Layar menampilkan data: "Energi leyline tidak seimbang. 37% energi gelap terakumulasi pada titik ini. Potensi ledakan energi jika tidak dikendalikan."

Kael menatap obelisk, mengangkat pedangnya, dan menancapkan ujungnya ke tanah, memproyeksikan energi "Sunstrike"—sinar matahari yang terperangkap dalam kristal. Sinar itu menancap ke Obelisk, memecah lapisan hitam yang mengelilingi satu sisi.

Lyra menambah kekuatan dengan mantra "Purify Wave", memancarkan gelombang cahaya putih yang mengalir menaik, meluncur melalui celah‑celah obelisk, mengusir kegelapan yang tertahan.

Namun, seiring cahaya menyebar, sebuah suara berderak muncul dari batu—suara "Golem" yang selama berabad‑abad tertidur.

"Terlalu lama kami terbangun," gemuruh suara itu. "Mereka pikir bisa menutup kami, namun energi gelap menghidupkan kembali kami."

Golem batu berukuran tiga meter berdiri, matanya bersinar merah. Di sekelilingnya, serpihan kristal gelap melayang, menambah kekuatan makhluk itu.

Kael berlari menebas, mengayunkan pedang dengan kecepatan kilat. Pedangnya menancap pada tulang punggung golem, namun golem menyerap energi serangan, menebar kembali kilat-kilat energi hitam ke arah mereka.

Lyra menutup mata, mengumpulkan energi dalam dirinya. "Cahaya! Kekuatan! Kami tidak akan menyerah!" serunya. Dari kepalanya, pancaran cahaya biru meluncur, menabrak golem, memecah kristal gelap yang menempel pada tubuhnya.

Sementara itu, Dian mengoperasikan Sistemanya pada "Feedback Loop Override". Ia menyalurkan pulsar energi dari Sistema ke obelisk, mengubah arus leyline menjadi "Resonansi Pembersih" yang menembus golem, memaksa batu‑batu raksasa bergetar hingga hancur.

Golem mengeluarkan jeritan terakhir ketika tubuhnya pecah menjadi puing‑puing berkilau, menghilang bersama cahaya gelap yang tersisa.

Saat debu menetap, obelisk kembali bersinar dengan cahaya murni, dan aliran leyline mengalir kembali ke arah yang seimbang.

Kael menurunkan pedangnya, menatap ke arah Lorong keluar. "Kita baru saja menyelamatkan satu menara," katanya, "tapi ada lebih banyak lagi di seluruh kerajaan."

Lyra mengangguk, namun kali ini matanya tidak hanya memancarkan kelelahan. "Setiap tempat yang diselamatkan adalah satu langkah lebih dekat pada keseimbangan. Kita harus menghubungi Penasihat Arcana dan mengirim sinyal peringatan ke semua benteng."

Dian menatap layar Sistema yang masih berderak. "Ada satu lagi yang saya temukan," katanya, menunjuk peta holografik yang menampilkan jaringan leyline seluruh Eldoria. "Salah satu node paling kuat berada di Pulau Bayu—tempat para Penjaga Angin beristirahat. Energi gelap mulai mengalir ke sana."

Kael menatap ke arah laut yang berkilau di kejauhan. "Bukan hanya daratan," ia berbisik, "kita harus menguasai udara, air, bahkan api. Ini bukan lagi pertempuran satu kali. Ini perang melawan bayang‑bayang yang merayap ke setiap sudut dunia."

More Chapters