WebNovels

Chapter 2 - 1.2 Mengenal konsep di dunia lain

Setelah tiba-tiba “terkirim” ke perpustakaan raksasa yang misterius itu, aku bertemu seorang wanita cantik berambut pirang lurus panjang. Dia memperkenalkan diri sebagai pengelola pengetahuan seluruh dunia—dan perpustakaan inilah yang menyimpan segala sejarah, konsep, rahasia, dan pengetahuan yang pernah ada.

Dia mulai menjelaskan panjang lebar soal dunia ini, termasuk konsep dasar sihir. Tapi di tengah-tengah ocehannya, aku memotong.

“Ha…? Kau bilang sudah mengerti?” tanyanya, terheran-heran.

“Iya. Intinya, untuk pakai sihir di dunia ini cukup imajinasikan dengan kuat, kan? Sudah paham kok. Aku nggak terlalu tertarik sama politik atau ekonomi dunia ini sekarang. Aku cuma mau mengembara sambil cari tahu siapa—atau apa—yang memanggilku ke sini. Tunggu… kau tahu sesuatu soal itu?”

Dia diam sejenak, lalu menjawab pelan.

“Hmm… makhluk yang bisa memanggil dari dunia lain… Seingatku cuma ada satu: The Ancient One. Katanya dia masih tertidur di Nothingness—samudera kehampaan di luar seluruh alam semesta. Dia akan bangun saat semesta mencapai batasnya. Aku di sini cuma mengajari dasar sihir buat orang yang tersesat ke dunia ini, seperti kamu. Bukan karena pemanggilan pahlawan.”

“The Ancient One…” gumamku. “Aku pernah dengar nama itu di duniaku dulu. Oh iya, nama kamu siapa? Nggak enak terus manggil ‘kamu’.”

Dia tiba-tiba tertawa kecil, lalu matanya berkaca-kaca.

“Hahaha… nama? Sudah jutaan tahun nggak ada yang tanya nama aku lagi. Terakhir kali… puluhan juta tahun lalu. Ada seorang laki-laki baik hati yang sering datang ke sini. Dia bisa berpindah tempat sesuka hati, jadi dia sering mampir kalau lagi nganggur. Kami ngobrol bertahun-tahun… sampai dia mati menyegel Dewa Iblis. Ah… aku kangen dia…”

Air matanya menetes pelan, meski dia masih tersenyum tipis.

Aku langsung ngerasa nggak enak.

“Umm… maaf, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih…”

“Enggak apa-apa kok, aku baik-baik saja,” katanya sambil mengusap mata. “Kalau soal nama… gimana kalau Ely yang kasih nama buat aku?”

“Kau yakin? Nggak keberatan?”

“Iya. Aku sudah lupa nama asliku.”

“Kalau gitu… karena kau mirip malaikat waktu tersenyum manis tadi—meski aku sendiri belum pernah lihat malaikat beneran—aku panggil kamu Angel aja, gimana? Kalau nggak suka, aku cari nama lain—”

“Tidak… aku suka banget,” potongnya cepat, senyumnya melebar lembut. “Terima kasih banyak, Ely. Dengan ini kita resmi berteman, ya? Hehe.”

“Iya… berteman nggak harus kasih nama sih. Tapi ya sudahlah, aku juga mau berteman sama kamu, Angel.”

“Oh ya, sudah waktunya kamu kembali.”

“Begitu ya… Baiklah. Sampai jumpa, Angel. Senang ketemu kamu.”

“Aku juga, Ely. Aku sangat bersyukur bertemu kamu. Bye-bye…”

Tepat saat aku mau balas memeluknya, dia tiba-tiba memelukku erat. Aku baru mau balas peluk—tapi dalam sekejap, semuanya berubah.

Aku sudah kembali ke hutan.

“Kak Ely… kau kenapa? Kayak mau peluk seseorang. Eh… kenapa nangis? Kau terluka!? Maaf ya…”

Cae buru-buru mendekat, wajahnya panik.

“Enggak, enggak, Cae. Aku cuma teringat masa lalu kok. Tenang aja, aku baik-baik saja,” jawabku sambil buru-buru usap air mata.

“Begitu ya… yasudah.”

Kami lanjut jalan keluar hutan. Di tengah perjalanan, Cae cerita soal akademi sihirnya. Aku tiba-tiba potong.

“Oh iya, Cae. Coba tunjukin dong, gimana caramu pakai sihir yang diajarin di akademi.” (Ini kesempatan bagus buat bandingin cara Angel sama cara akademi—mana yang lebih efisien.)

“Boleh aja. Target apa?”

“Gimana kalau goblin yang lagi jalan-jalan di sana itu?” tunjukku ke goblin yang kebetulan lewat di pinggir hutan.

“Oke…”

Cae langsung ambil posisi. Tanah di bawah kami sedikit bergetar. Tangan kanannya terangkat sedikit di atas pundak, telapak terbuka. Lalu dia merapal:

“Wahai angin, datanglah padaku, dan basmi semua musuh di hadapanku—Wind Cutter!”

Angin kencang berbentuk bilah tipis melesat, mengiris tubuh goblin itu. Satu serangan, langsung tewas seketika.

“Hoo… luar biasa. Tapi bukankah lebih cepat kalau nggak perlu merapal mantra?” tanyaku penasaran.

“Hee… yang bisa gitu cuma guru-guru sama penyihir tingkat tinggi. Di dunia ini tingkatan penguasaan sihirnya gini:

- Paling bawah: Pemula—cuma bisa keluarin sedikit mana.

- Penyihir—sudah bisa pakai sihir, tapi harus merapal dulu kayak tadi.

- Ahli Sihir—bisa keluarin sihir tanpa mantra, pelatih para murid.

- Pertapa—tingkatan hampir menyentuh ranah dewa. Cuma segelintir orang yang sampai situ. Dulu ada Pertapa yang ciptain banyak sihir baru, tapi sekarang banyak yang dilarang dan dibukukan di Grimoire Terlarang. Buku itu berbahaya, nggak boleh dibaca sembarangan.”

Aku mengangguk-ngangguk, tapi dalam hati mikir: ada cara yang jauh lebih simpel.

Aku berhenti jalan, balik badan, tarik katana dari sarung. Aku bayangkan mana mengalir dari tubuhku ke bilah pedang, melapisinya tipis. Lalu kutebas ke arah pohon sekitar 50 meter di depan.

Sesuatu yang tak kasat mata melesat. Beberapa detik kemudian—pohon itu dan beberapa pohon di sekitarnya roboh sekaligus.

“Ada apa, Kak Ely? Kau jatuhin sesuatu yang penting?” tanya Cae bingung.

“Enggak, Cae. Ayo kita cepat pergi,” jawabku buru-buru balik badan.

“Lihat!! Kak Ely, pohon-pohon di hutan banyak yang tumbang sendiri! Apa karena angin kencang ya?”

“Hmm… entahlah. Daripada mikirin itu, ayo cepat.”

(Gawat… kayaknya aku kelewatan banget tadi, hehe…)

More Chapters