Suasana hening!
Tesseract mengeram marah. Serangannya dihancurkan begitu saja. Terlebih dihancurkan menggunakan Armor... Ini adalah penghinaan baginya.
Makhluk sepertinya ini, tidak terima jika dikalahkan dengan teknologi ras dari makhluk terlemah di alam semesta ini: yakni penduduk bumi.
Mereka bahkan hanya hidup untuk peradaban. Bukan mempunyai kekuatan mutlak... Seperti makhluk dari dimensi lain.
"Aku salah sangka, kau bukan manusia biasa."
Storm menatap kedepan dengan membara.
"Karena aku adalah Storm Realms. Tujuanku membunuh semua dewa di alam semesta ini... Aku tidak menerima semua takdir menyedihkan yang kualami."
Tesseract menimbang ucapan itu.
"Kenapa? Kau mau protes soal takdirmu? Itu suatu kebodohan bagi makhluk hidup sepertimu."
Storm tidak terpancing ucapannya.
"Ya, kau benar" makhluk jelek. Aku protes pada pencipta karena hidupku tidak bisa bahagia... Seperti orang lain."
Tesseract menatap angkasa dimensi buatannya.
Perkataan itu terasa seperti ada benarnya. Setiap makhluk alam semesta ini memiliki takdirnya sendiri.
Sama sepertinya... Penjaga dimensi. Tesseract tidak mempunyai emosi, keluarga, teman, hidup, bahkan kematian.
Dia abadi. Tapi keabadian terasa hampa... Tanpa ada seseorang yang bertanya kehadirannya.
Tesseract menganggap Storm hanya membual saja.
"Jangan bercanda. Menghadapiku saja kau kewalahan... Apalagi menantang makhluk Kosmik maupun entitas Abstrak. "
Storm menghela nafasnya.
"Lebih baik mati mencoba, daripada abadi dalam kehampaan."
"Tak semua makhluk bisa memberontak... Tapi aku berbeda. Aku meminta keadilan pada Tuhan. Kenapa aku terlahir menyedihkan."
Storm bernafas sejenak, lalu berucap lantang.
"Jika Reinkarnasi itu nyata. Aku ingin dilahirkan sebagai manusia biasa... Tapi hidup bahagia."
Tesseract memandang Storm yang berubah sendu.
Dia tahu manusia itu mati-matian bertarung demi dunia. Hanya saja kerja kerasnya tidak pernah dipuji.
Hidupnya suram sekali.
"Aku tidak pernah mendapatkannya sejak kecil. Oleh karena itu, aku akan menerima konsekuensinya... Bahkan sekalipun alam semesta menolak kehadiranku ini."
Whuss!
Dimensi bergetar kuat.
"Hei manusia, kau bertarung atau mengoceh? Aku bosan mendengar kalimatmu itu berulang kali."
Suara Velora menegur inangnya: Storm.
Dia berisik sekali. Seharusnya dia bunuh saja makhluk dimensi itu. Tapi kenyataannya Storm banyak mengoceh.
Velora geram sekali melihatnya.
