Hana Yadori memancing di laut dengan ditemani oleh Yoichi Sakimori.
"Terima kasih atas kebaikanmu, Hana-san. berkatmu, aku bisa hidup. sebagai balasannya, aku akan mengabdikan diriku untuk Keluarga Yadori."
Hana tersenyum hangat, tangan lembutnya terus membelai surai hitam lembut Yoichi.
"Ah, Yoichi-kun, tidak perlu untuk balas budi seperti ini. Aku sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Kau adalah bagian dari keluarga besar kami sekarang."
"Kau dan ibumu sungguh sangat baik."
Hana tertawa lembut, air muka hangatnya penuh cinta ibu.
"Tidak hanya aku dan ibuku, Yoichi-kun. Semua di sini menyayangimu seperti keluarga. Kau milik keluarga Yadori sekarang dan kami akan selalu ada untuk kamu."
Yoichi memeluk Hana dari belakang. Kedua tangannya memegang kedua dadanya Hana Yadori yang begitu besar.
"Aku tidak menyangka bahwa kau ada perempuan gal yang aku kagumi. Meskipun kau lebih tua dariku. Aku sangat menyayangimu dan aku akan menyerahkan hidupku untuk keluarga Yadori."
Hana tersenyum lembut, merasakan pelukan hangat Yoichi, serta sentuhan di dadanya yang besar. Dia menutup matanya sejenak, merasakan cinta dalam pelukan itu. Ia kemudian menoleh ke belakang, menghadap Yoichi dengan wajah lembut dan penuh kasih sayang.
"Yoichi-kun, usia tidak menghalangi cinta. Aku sangat menyayangimu juga, dan aku berterimakasih karena kamu berani menyerahkan hidupmu untuk keluarga kami."
"Aku cemburu saat melihat bahwa kau bermesraan dengan ibumu. Aku tidak menyangka bahwa kau menjalin hubungan lesbian inses dengan ibumu. Sehingga aku merasa kikuk jika ada di rumah. Aku merasa tidak bisa dekat denganmu jika ada Nyonya Kamina," ujar Yoichi dengan wajah memerah dan cemburu karena kedekatan Hana dengan ibunya sendiri.
Hana tertawa pelan melihat wajah cemburu Yoichi, tahu betul apa yang sedang ia pikirkan.
"Haha, Yoichi-kun, jangan cemburu seperti itu. Ibu dan aku memang memiliki hubungan khusus, tapi itu tidak menyangkut tentangmu. Bagi kami, kamu seperti anak yang kami cintai seperti keluarga."
Ia mengusap kepala Yoichi dengan lembut, memberikan rasa aman dan kasih sayang seorang ibu.
"Tapi ibumu juga cantik, Hana-san. Aku ingin mencintai kalian berdua. Tidak adil rasanya jika aku hanya mencintaimu."
Hana tersenyum lembut, mengerti keinginan Yoichi.
"Haha, kamu sangat jujur, Yoichi-kun. Aku mengerti perasaanmu. Ibu juga sangat cantik, sehingga aku tidak heran kamu tergoda. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Kamu selalu ada di pelukan kami, dan kami sama-sama mencintaimu. Hubungan kita tidak hanya tentang fisik, tapi tentang cinta, kasih sayang, dan keluarga."
Aku sangat bahagia mendengar ucapannya Hana-san. Kedua tanganku meremas-remas kedua dada besarnya Hana-san.
"Bagiku kau bukan hanya sosok seorang kakak. Tapi perempuan yang ingin aku layani dan aku cintai. Aku senang bertemu denganmu."
Hana tersenyum hangat, merasakan remasan lembut Yoichi di dadanya. Dia merespon dengan menyenderkan kepalanya pada dada Yoichi.
"Aku juga senang bertemu denganmu, Yoichi-kun. Aku senang kamu menyayangiku lebih dari hanya sebagai kakak. Aku adalah wanita yang ingin kamu layani dan cintai. Aku senang bisa memberikan pelukan hangat untuk kamu dan merasakan cintamu secara fisik juga."
Kedua tanganku mencengkram dengan keras kedua dada besarnya Hana-san. Aku menjilati lehernya, menciumi pipi kanannya, kemudian lidahku menjilati bibirnya, dan berciuman dengan penuh hasrat. Bibir kami saling berciuman dan lidah kami saling beradu.
Hana menerima usapan lembut dan penuh hasrat Yoichi, merasakan bibir lembutnya mengecup leher dan pipi. Ia merespon usapan dengan perlahan membuka mulutnya untuk menerima lidah Yoichi, lidahnya mulai saling beradu dalam ciuman penuh cinta.
Hana memeluk Yoichi lebih dekat dengan kedua tangan, merasakan tubuhnya yang hangat dan kuat menyatu dengan tubuhnya yang lembut.
Kami berhenti berciuman.
"Hana-san. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin bercinta denganmu di sini. Batang kejantananku ingin segera membuahi rahimmu."
Hana tersenyum lembut, mengerling lembut pada mata Yoichi yang penuh nafsu.
"Ternyata kamu sudah tidak bisa menahan diri, Yoichi-kun... Haha, aku mengerti apa yang kamu butuhkan. Sekarang kamu dapat merasakan cinta dan nikmat dari aku."
Ia bergerak lembut mendorong Yoichi ke pasir pantai, terus mendorong untuk duduk di atasnya.
Yoichi membuka resleting celananya dan memperlihatkan batang kejantanannya yang sudah tegang.
Lihatlah, Yoichi junior sudah tidak sabar. Dia ingin segera bercinta.
Hana menatap pada batang kejantanannya Yoichi, tertawa lembut dengan nada jahil.
"Haha, dia memang sangat ingin segera bertemu denganku. Ia terlihat sangat penuh nafsu."
Hana melepas celana dalamnya dan segera berjongkok agar area kewanitaannya dimasuki oleh batang kejantanan milik Yoichi.
"Ugh."
Hana terlihat perih. Karena ini pertama kalinya dia kehilangan keperawanannya.
Yoichi segera menyodok-nyodok batang kejantanannya ke area kewanitaan milik Hana.
"Argh. Aku akan melayanimu, Hana-san."
Hannya melirik pada Yoichi dengan pandangan lemah.
"O-oh, Yoichi-kun! Jangan terlalu kasar, ya?"
Hannya tertawa pelan, tapi matanya menunjukkan ketertarikan.
Kalimat tersebut justru memancing Yoichi agar semakin kasar dan liar dalam bercinta dengan Hana.
"Aku akan membuatmu puas dan akan muncrat."
Yoichi menggauli Hana dengan sangat liar. Hingga akhirnya dia mengeluarkan cairan putih kental penuh dengan cinta di dalam tubuhnya Hana.
Kalimat tersebut justru memancing Yoichi agar semakin kasar dan liar dalam bercinta dengan Hana.
"Aku akan membuatmu puas dan akan muncrat."
Yoichi menggauli Hana dengan sangat liar. Hingga akhirnya dia mengeluarkan cairan putih kental penuh dengan cinta di dalam tubuhnya Hana.
"Aah."
Hanya itu saja yang keluar keluar dari bibirnya Hana. Rasanya sangat manis, tapi terasa sangat sakit. Hana merasakan tubuhnya sangat lelah setelah bercinta.
"Ah, wajahmu terlihat sangat puas, Yoichi-kun..."
Hana tertawa lembut. Dia telah menerima cairan putih penuh cinta tersebut. Dia merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan. sebuah kenikmatan yang sama saja nikmatnya seperti bercinta dengan ibunya sendiri.
